Maracanazo : Petaka dan Kekecewaan Abadi Sepakbola Brazil

Dibalik digdayanya Brazil dalam kancah sepakbola dunia dengan total 5 gelar Piala Dunia-nya, tim berjuluk A Selecao nyatanya punya memori pahit yang tidak terlupakan hingga detik jayanya dekade ini. 16 Juli 1950 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, tepat di pertandingan final Piala Dunia 1950, Brazil harus bertekuk lutut dari Uruguay. Peristiwa duka tersebut pun dijuluk Maracanazo.

Piala Dunia 1950 merupakan piala dunia yang pertama kali dihelat usai penundaan panjangnya selama 12 tahun dampak dari Perang Dunia 2. Di 1 Juli 1946, berdasarkan keputusan Kongres FIFA di Luksemburg, Brazil terpilih sebagai tuan rumah perhelatan ajang sepakbola bergengsi tersebut. Keputusan tersebut ditimbang dari kondisi politik negara tersebut yang dianggap netral serta ketersediaan fasilitas yang memadai dengan 6 stadion besar berstandarisasi dunia pada zamannya.

13 negara berpartisipasi pada Piala Dunia 1950, dibagi dalam 4 grup serta punya sistem yang sedikit berbeda pada babak kedua atau babak final. Piala Dunia 1950 tidak menggunakan sistem gugur melainkan sistem grup poin. Pada akhir babak tersisa 4 tim yaitu Brazil, Spanyol, Swedia dan Uruguay. Brazil yang menjadi tuan rumah bermain sangat baik dengan raihan sempurna pada setiap pertandingannya. Tim Samba dengan gagahnya menumbangkan Swedia dan Spanyol dengan skor sadis. Di pertandingan terakhir melawan Uruguay, Brazil hanya membutuhkan hasil seri untung memboyong tropi.

Di pertandingan terakhir nyaris 200 ribu penonton memadati Stadion Maracana. Mayoritas supporter tuan rumah yang punya harapan besar untuk juara. Di menit 47 Brazil berhasil mencetak angka pertama lewat Albino Friaca Cardoso, satu stadion bergemuruh. Namun pada menit ke 66 Uruguay menyamakan kedudukan, lewat tembakan Juan Schiaffino. Pertandingan pun makin panas, 13 menit berselang satu Stadion terdiam, Alcides Ghigga berhasil membuat kiper Barbosa Nascimento mati langkah, Uruguay mencetak gol dan memimpin pertandingan. Hingga akhir lagi hasilnya tetap 1-2 tidak berubah. Brazil harus tunduk di ujung jalan, dan juga di kandang sendiri.

Kekalahan tersebut diberi julukan Maracanazo yang berarti Tamparan Maracana. Pertandingan yang menyisakan duka mendalam bagi rakyat Brazil. Kekalahan yang berdampak panjang hingga dikabarkan beberapa kasus bunuh diri terjadi akibat pertandingan ini. Timnas pun di cap sebagai sekumpulan pecundang, terparah pada sang kipper Barbosa Nascimento. Barbosa dianggap bertanggung jawab besar atas kekalahan timnas Brazil kala itu. Karirnya tamat karena berbagai isu miring yang menghinggapinya seusai pertandingan final tersebut.

Maracanazo masih jadi satu-satunya trauma rakyat Brazil yang belum terobati hingga hari ini. Membekas, mengecewakana dan menghantui tiap kali laga kandang.