Kejatuhan Maksimal Liverpool dalam Dua Pekan Terakhir

Armada Juergen Klopp pantas merana. Setelah mengalami kekalahan mengejutkan atas Atletico Madrid dua pekan lalu, Liverpool nampak mulai kehabisan bensin seusai berlari kencang dari awal musim. Memasuki bulan Maret, Liverpool terpaksa mencicipi dua kekalahan beruntun di dua kompetisi berbeda. Meski harapan untuk meraih trofi masih besar, rasanya The Reds wajib waspada menghadapi sisa musim ini.

Sampai pertengahan Februari kemarin, Liverpool nampak masih adidaya dibanding semua lawannya musim ini. Di Premier League, The Reds mengantongi 79 poin dari 81 poin yang tersedia. Ya, raihan yang sangat menyeramkan dari pimpinan klasemen liga Inggris tersebut. Mohamed Salah dan kolega berhasil unggul 20 poin lebih dari juara Premier League musim lalu, Manchester City.

Namun itu semua berubah saat babak 16 besar Liga Champions Eropa bergulir. Tampil sebagai juara grup, Liverpool nyatanya tak mampu mengandaskan perlawanan Atletico Madrid. Juara bertahan Eropa itu harus kalah dengan skor 1-0. Pada pertandingan itulah pertama kalinya Liverpool tak bisa mencetak gol selama 90 menit di musim ini.

Setelah kekalahan itu, Liverpool kembali ke jalur kemenangan di Liga Inggris. Namun 3 poin harus diraih dengan susah payah saat menghadapi West Ham United dengan skor 3-2. Pada partai tersebut, The Reds malah harus melakukan comeback saat tertinggal lebih dulu di awal babak kedua.

Minggu berikutnya adalah mimpi buruk bagi Liverpool. Seteru abadi Manchester United itu mengalami kekalahan perdananya di Liga Inggris musim ini. Ironis, tim asuhan Jurgen Klopp itu harus kalah dari tim yang sedang berjuang di zona degradasi, Watford dengan skor telak 0-3.

Kekalahan itu menimbulkan sorotan tajam pada skuat Liverpool. Pasalnya tim yang terkenal dengan taktik gegenpressing itu tak mampu memberikan ancaman berarti ke gawang Watford. Menguasai permainan dengan 71 persen penguasaan bola, nyatanya Liverpool kalah tajam dengan hanya menghasilkan 1 tendangan ke gawang dari total 7 tendangan yang dilepaskan. Berbanding jauh dengan Watford yang bermain efektif dengan 5 tendangan ke gawang dari total 14 tendangan ke arah gawang.

Tiga gol yang bersarang ke gawang Allison Becker itu juga buah dari rapuhnya pertahanan The Reds. Dipimpin oleh bek terbaik Eropa, Virgil Van Djik. Nyatanya Liverpool tak mampu mengadang permainan Watford yang digalang sang gelandang, Ismaila Sarr. Pemain asal Senegal itu menjadi bintang dengan mencetak 2 gol dan satu assist untuk kemenangan The Hornets.

Mejannya Liverpool tak berhenti sampai disitu. Bermain di babak kelima FA Cup, Sadio Mane dan kolega kembali menelan kekalahan dari Chelsea dengan skor 0-2. Bermain dengan kekuatan yang hampir lengkap tak membuat The Reds melenggang ke babak berikutnya.

Kekalahan dari The Blues itu membuat Liverpool sudah tak mencetak gol selama 180 menit! Angka yang mengkhawatirkan bila melihat lini depan yang dihuni trisula maut se-Eropa yakni Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mane. Bila melihat 3 kekalahan yang dialami Liverpool, sebenarnya bukan mereka yang bermain tak maksimal. Namun ketiga tim yang mengalahkan mereka sanggup bermain solid selama 90 menit.

Serta dengan taktik yang mengandalkan kedua sisi fullback untuk menjadi kreator permainan, sebenarnya menjadi pilihan yang inovatif dari Jurgen Klopp. Namun dengan mengkilapnya performa Liverpool sejak awal musim, rasanya sudah banyak pelatih yang membuat antitesis untuk melawan ganasnya permainan juara Liga Inggris sebanyak 18 kali itu.

Misi Liverpool untuk meraih treble pun sudah sirna. Kini hanya tersisa Liga Inggris dan Liga Champions Eropa. Dengan musim yang hampir mencapai penghujung, rasanya The Reds harus kembali mengisi baterai untuk mengamankan dua gelar yang tersisa. Bila tidak, kejadian kelam di musim 2014 akan kembali terulang. Tentu kalian masih ingat kan, Liverpool Fans?