Kejelian Orang-Orang Kaya Indonesia Dalam Membidik Bisnis Sepakbola

Sepakbola masih jadi komoditas yang menarik animo publik. Salah satu olahraga terpopuler ini telah berkembang menjadi industri yang menjanjikan. Contoh nyatanya, banyak klub besar Eropa yang dimiliki oleh pengusaha kelas kakap. Khususnya dari luar benua Eropa. Melihat peluang ini, pengusaha Indonesia tak ketinggalan menaruh investasinya dengan membeli klub sepakbola Eropa.

Erick Thohir menjadi salah satu sosok yang paling diingat jika membahas investasi pengusaha Indonesia di klub luar negeri. Menteri BUMN itu sempat mengegerkan publik kala membeli saham mayoritas Raksasa Italia, Inter Milan. Di klub berjuluk I Nerazzurri itu, Erick Thohir memiliki 70 persen saham mayoritas. Enam tahun berselang, Erick melepas saham mayoritasnya ke salah satu perusahan ­asal Hong Kong, LionRock Capital.

Selepas menjual Inter Milan, Erick Thohir masih memiliki klub di kawasan Eropa. Tepatnya di Inggris, Erick membeli klub kasta League One, Oxford United. Bersama dengan Anindya Bakrie dan satu pengusaha Thailand, Erick didapuk menjadi salah satu direktur Oxford United.

Menjelang babak kelima FA Cup beberapa minggu lalu, publik Indonesia sempat ramai membahas klub yang menjadi lawan Manchester United yakni Tranmere Rovers. Bukan masalah prestasi, melainkan kepemilikan klub yang dimiliki oleh pengusaha Indonesia, Santini Group.

Informasi ini didapat dari laman resmi klub League One Inggris tersebut. Laporan menyebutkan bahwa Santini Group mulai menyuntikan dana investasi pada September 2019 silam. Dana yang diberikan oleh jaringan bisnis Keluarga Wanandi ini digunakan untuk menambah infrastruktur markas Tranmere, Prenton Park. Beriringan dengan pengembangan nilai klub di pasar internasional termasuk di Asia.

Mengikuti jejak kedua pengusaha tadi, Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono juga membeli klub asal Italia, Como 1907. Pemilik Djarum itu membeli klub Serie C itu dengan harga yang cukup murah sebesar 5 miliar rupiah.

Dua orang terkaya Indonesia itu membeli Como 1907 dalam keadaan yang tak ideal. Dilaporkan, stadion yang menjadi markas klub itu tak terawat. Tak hanya itu, Como sempat dalam keadaan hampir bangkrut dengan menyisakan banyak hutang. Diharapkan dibawah naungan duo Djarum tersebut Como dapat kembali ke kasta tertinggi sepakbola Italia.

Pengusaha terakhir yang masuk dalam artikel ini adalah Sihar Sitorus. Mantan Ketua Komite PSSI itu memang dikenal sebagai pengusaha di bidang kelapa sawit, rumah sakit, dan beberapa sekolah di tanah air. Sepakbola juga tak ketinggalan masuk dalam jaringan bisnisnya. Tercatat Sihar memiliki klub yang berada di kasta ketiga Liga Belgia, Verbroedering Denber FC. Di Indonesia sendiri, pengusaha yang sempat terjun ke dunia politik itu memiliki empat klub yakni Medan United FC, Medan Chiefs, Pro Duta FC, dan Nusaina.

Ternyata orang Indonesia itu aslinya kaya-kaya, ya.