Kisah Romantis antara Bambang Pamungkas dan Persija Jakarta

Sepakbola bagi sebagian orang adalah nafas, yang menghidupkan ruang-ruang kosong di relung jiwa. Kehadirannya menjadi stimulus yang mampu membangkitkan perasaan cinta maupun kasih. Sepakbola bagi para penikmatnya bisa mengajarkan berbagai nilai kebaikan. Salah satunya adalah kesetiaan. Indonesia patut berbangga karena ada tokoh yang mencontohkan nilai ini dengan sempurna. Dialah Bambang Pamungkas.

Perjalanan Panjang di Lapangan Hijau

Tentu kita semua tahu betapa legendarisnya sosok Bepe bagi Persija Jakarta dan sepakbola Indonesia secara keseluruhan. Banyak torehan yang belum bisa tertandingi dari sosok yang identik dengan nomor punggung 20 ini.  Catatan sahih yang masih terjaga adalah: Bepe merupakan pemain dengan rekor caps dan gol terbanyak bagi Timnas Indonesia.

Raihan 86 caps dan 38 gol belum mampu ditandingi oleh pemain Indonesia manapun. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap pemain lain, nampaknya rekor yang dicapai Bepe akan sulit dipecahkan. Setidaknya jika melihat dinamika sepakbola tanah air saat ini.

Bepe adalah cerminan pesepakbola professional milik Indonesia. Pria asal Salatiga ini telah malang melintang selama karirnya. Tak hanya di Indonesia, Bepe juga sempat berkiprah di luar negeri. Tercatat ia pernah berkiprah bersama EHC Norad (Belanda) pada 2000 dengan status pinjaman, dan Selangor FA (Malaysia) dari 2005 hingga 2007.

Sementara karirnya di Indonesia sudah pasti identik dengan Persija Jakarta. Bepe pertama kali bermain untuk Persija pada musim 1999-2000. Menjalani kiprah profesional pertamanya tak membuat Bepe kikuk, hasilnya ia berhasil menjadi top skorer pada musim itu dengan raihan 24 gol. Torehan bagus dari seorang pemain yang baru beusia 19 tahun. Setelah performa gemilangnya, ia sempat mencicipi atmosfir sepak bola Belanda bersama EHC Norad.

Namun karena masalah adaptasi yang kurang berhasil membuat Ia kembali ke Persija. Setelah kepulangannya tersebut, Ia berhasil membawa Macan Kemayoran menjadi kampiun Liga Indonesia pada 2001. Di musim yang sama Bepe juga dianugerahi penghargaan pemain terbaik liga. Dirinya juga menjadi penentu pada laga final melawan PSM Makassar dengan dua golnya.

Sehabis musim 2001, Bepe tetap menjadi andalan Persija. Meski tim terus mendatangkan pemain asing, peran Bepe dalam formasi tim tak tergoyahkan. Lambat laun dirinya juga berkembang menjadi ikon klub. Hingga pada tahun 2005 Bepe mencoba peruntungannya di Malaysia bersama Selangor FA. Di klub tersebut Bepe langsung menuai sukses besar.

Pada musim pertamanya di Negeri Jiran, Bepe berhasil mengantarkan Selangor FA meraih treble winner. Melengkapi pencapaian untuk klubnya, ia juga mendapatkan predikat sebagai top skorer Liga Malaysia dan pemain terbaik Piala Malaysia. Menghabiskan dua tahun disana, Bepe pulang kembali ke Indonesia untuk memperkuat Persija pada tahun 2007.

Antara Bepe dan Persija

Sekembalinya dari Malaysia, Bepe langsung memperkuat Persija untuk ketiga kalinya. Pria dengan tiga anak ini tetap menjadi andalan tim. Pada periode ketiga ini Bepe belum mampu memberikan gelar juara bagi Macan Kemayoran. Meski begitu penampilan Bepe tetap menawan seperti periode pertama dan keduanya.

The Jakmania tentu ingat dengan keganasan Bepe dalam duetnya bersama Aliyudin dan Greg Nwokolo pada medio 2010-an. Trio ini sempat dikenal sebagai Trio ABG (Aliyudin, Bambang, dan Greg). Kekompakan tiga penyerang ini sempat membuat lini depan Persija ditakuti lawan. Salah satu aksi mereka yang diingat saat melawan Persib Bandung pada musim 2010/2011.

Trio ABG masing-masing menyumbangkan satu gol untuk menumbangkan seteru abadi Macan Kemayoran itu. Satu hal yang kurang dari trio ABG adalah ketidakmampuan mereka dalam menyumbangkan gelar juara bagi Persija.

Setelah musim 2010/2011 berakhir, sepakbola Indonesia mengalami revolusi besar-besaran dimana para klub dilarang menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Seketika peraturan ini mengubah sepakbola tanah air, dimana banyak klub yang kesulitan keuangan. Tragisnya, hal ini juga terjadi di Persija.

Keterlambatan pembayaran gaji pemain mendera Persija. Secara langsung hal ini mempengaruhi performa tim di lapangan. Pemain Persija pun gerah dengan manajemen yang kerap terlambat membayar gaji mereka. Bepe menjadi pemain yang paling vokal dalam menyuarakan protes ini melalui media sosial pribadinya dan media.

Hubungan Bepe dan Manajemen Persija semakin renggang saat dirinya bergabung ke Timnas AFF 2012. Padahal saat itu pemain Indonesian Super League (ISL) dilarang bermain untuk tim nasional garapan PSSI.

Hingga pada akhirnya Bepe memutuskan untuk hengkang dari Persija di tahun 2013. Ia menyebrang ke kota kembang untuk bergabung dengan Pelita Bandung Raya (PBR). Meski sudah tidak bersama Macan Kemayoran, dititik inilah kecintaan Bepe pada klub Ibu Kota itu terlihat begitu nyata.

Dua laga melawan Persija di musim 2014 dilalui Bepe dengan emosional. Pada laga kandang di Bandung, Bepe berhasil mencetak dua gol ke gawang Andritany Ardhiyasa. Ia pun tak merayakan kedua gol itu, momen saat ia menahan emosinya sempat terekam kamera televisi. Begitu pula ketika melakoni laga di Jakarta, Bepe tetap mendapat sambutan meriah dari The Jakmania.

Bepe hanya menghabiskan satu musim di Pelita Bandung Raya, hingga pada 2015 dirinya kembali ke Persija untuk keempat kalinya. Kembali dalam usia yang sudah berumur membuat keterlibatan dirinya di lapangan menjadi berkurang. Meski begitu Bepe tetap menjadi ikon klub dan sosok yang berpengaruh bagi tim.

Hingga pada 2018 Persija kembali merengkuh juara liga dan Bepe masih menjadi bagian bagi tim. Dirinya menjadi satu-satunya pemain tim juara 2001 yang masih ada di tim Macan Kemayoran. Semusim setelahnya peran Bepe di tim semakin berkurang, menjelang akhir musim Bepe memberikan sinyal bahwa ia akan menjalani laga terakhirnya bersama Persija di media sosial pribadinya.

Hari itu pun tiba. 17 Desember 2019 menjadi hari dimana Bepe terakhir kalinya bermain untuk Persija Jakarta. Menjalani laga pamungkas melawan Persebaya Surabaya, Bepe diberi kesempatan untuk memberi sambutan terakhirnya untuk The Jakmania.

Ia pun mengikrarkan janji setia untuk klub kebanggaan Ibu Kota. “Persija hingga darah tak mengalir lagi,” ujar Bepe dalam puisinya untuk The Jakmania. Malam itu, rasa haru menghinggapi seisi stadion Gelora Bung Karno. Namun setelahnya, Bepe membuktikan bila janjinya tak sekedar bualan belaka.

Tepat satu bulan setelah laga terakhirnya untuk Persija. Bepe diperkenalkan kembali oleh manajemen Macan Kemayoran. Bukan lagi sebagai pemain, pria berusia 39 tahun itu mengemban tugas baru sebagai manajer tim. Bepe dianggap berkompeten untuk menangani Persija mengingat kiprah panjangnya bersama klub asal Ibu Kota itu.

Berbagai dukungan datang untuk Bepe yang memulai karirnya sebagai manajer. Salah satunya dari mantan rekan setimnya, Sandi Darma Sute.

“Menurut saya, beliau (Bepe) adalah sosok yang sangat santun dan bisa menjadi panutan untuk kami yang masih muda. Mas Bepe juga sangat layak menjadi manajer karena beliau tahu betul seluk beluk Persija. Semoga di tangan Mas Bepe Persija bisa lebih baik lagi,” ujar gelandang andalan milik Macan Kemayoran ini.

Sementara dukungan lain untuk Bepe datang dari manajer Persija sebelumnya, Ardhi Tjahjoko. “Menurut saya bagus ya, karena Bepe mantan pemain Persija juga. Dia mengetahui secara mendalam kondisi tim plus tahu sepakbola. Semoga bersama Bepe Persija bisa juara kembali,” kata mantan manajer Persija tahun 2017-2019 ini.

Memulai debutnya sebagai manajer, Bepe merekrut Evan Dimas dan Otavio Dutra untuk menyambut musim 2020. Masih dini memang untuk menilai kinerjanya, satu hal yang pasti panjangnya perjalanan Bepe dan Persija terlihat seperti kisah asmara. Di mana banyak hal menyenangkan dan mengharukan yang dilewati keduanya hingga detik ini.

Benar begitu, The Jakmania?

Tulisan : Farhandhika Alamsyah
Wawancara : Ivan Syahputra