Tuan Tigabelas dan Serak-Serak Cerita Hip-hopnya

Hip-hop tidak pernah musnah. Hanya berdiam diri di pojok geladak untuk kembali muncul dengan menawan ke permukaan. Membersil kembalinya kultus satu ini selalu memukau dan diagungkan di setiap dekadenya. Tuan Tigabelas jadi salah satu aktor utama pada dasawarsa ini. Karyanya digema ke segala rongga telingga tiap individu yang sadar irama musik hip-hop berkelas.

Tuan Tigabelas bukanlah nama baru di ranah hip-hop dan street culture. Setiap karya musiknya mentah-mentah ditelan para pecandu rima. Abdinya pada hip-hop pun setia layaknya hamba pada paduka raja. Di tahun ini langkahnya tidak lagi solo. Bersama dengan kolektif WestWew, Upi (panggilan akrabnya) melenggang penuh keyakinan ke dalam skena yang merajai atensi musik di akhir sepuluh tahun ini.

Perkenalan Upi dengan hip-hop tidaklah langsung. Upi membuka lembaran cerita dengan pukaunya pada genre Hip Metal. Hidangan musik yang disajikan Korn tajam menginfluensinya. Album Follow The Leader cukup sombong menjelma jadi zeitgeist kala itu. Lantang vokal Ice Cube jelas membekas pada track Children Of The Korn, membawa pola fikir Upi pada genre hip-hop.

“Gue suka banget sama Korn sampai sekarang. Di KTP, SIM, buku nikah, tanda tangan gue sampai sekarang tulisan Korn. Nah di album Korn yang Follow The Leader itu ada satu lagu Children of the Korn yang  featuring sama Ice Cube. Sebelumnya gue udah dengerin hip-hop sih,  tapi begitu gue dengerin beneran rapper masuk kedalem track hip metal gue kayak dapet ambience baru nih. Ternyata rap bisa ke mana-mana ya. Nah setelah itu gue kayak suka banget sama Ice Cube. Akhirnya gue ngulik lagu aslinya Ice Cube kayak gimana sih.” Kenang Upi.

tuan tigabelas weswew
Tuan Tigabelas di Westwew Records Pondok Indah

“Abis dari Ice Cube, gue nemu Snoop Dogg, Tupac dan akhirnya gue makin jatuh cinta sama hip-hop. Tapi yang pasti kenapa gue suka banget sama hip-hop, dan gue menekuni terus sampai sekarang, hip-hop kaya empowering gue untuk lebih berani menghadapi hidup.” lanjutnya.

Lepas gandrungnya pada Korn, Ice Cube, Snoop Dogg dan Tupac, jiwa kreatif Upi kian terasah. Kultur Hip-hop kala itu cukup keras. Komunitas-komunitas yang terbentuk tergambarkan seperti blok-blok panas layaknya Pakta Warsawa serta NATO.

“Karena waktu itu eranya hip-hop lagi beef-beef-an, nih. Lo kalo nongkrong sama si A, elo di musuhin sama si B. Pokoknya rutenya kurang lebih seperti itu lah.” Jelas Upi.

Kurang sehatnya kultur yang ada, agak sedikit membuat Upi mengurungkan niat. Jalannya sedikit terseok, hingga bergabunglah ia dengan rombongan anak band. Skill hip-hop beliau kian berkembang, waktu terbang ngejam-nya semakin terlatih. Akhirnya janin Rebel Education Project pun menetas di 2012, formatnya hip-hop­ namun roots-nya lebih ke arah hip metal. Masuk ke awal 2014, satu album ditelurkan R.E.P. Namun ada sedikit kecemasan dalam benak Upi, jejaknya belum bisa meretas skena hip-hop lokal.

“Akhirnya di 2017 gue izin ke temen-temen buat side-project solo dengan nama Tuan Tigabelas, tapi dengan konsep yang lebih hip-hop banget aja gitu. Terus berjalan lah Tuan Tigabelas hingga sekarang.” simpul Upi.

Formulanya untuk tetap konsisten berada pada puncak karir musik menurutnya cukup sederhana. Giat melakukan kolaborasi menjadi salah satu kuncinya. Berjejaring menjadi salah satu hal yang ia sukai, bertemu dengan pandangan baru, orang baru, maupun tantangan baru.

“Menurut gue di era sekarang kolaborasi adalah investasi paling mahal. Itu kenapa gue seneng banget kolaborasi sama orang. Atas nama grup, atas nama kolektif atau apapun itu. Karena menurut gue, dengan gue berkolaborasi, gue mengekspolarasi musikalitas, itu satu. Kedua, menambah market gue. Itu kenapa gue kayak ngga atau jarang terlihat featuring sama yang bener-bener hip-hop. Gue lebih suka keluar dari kotak-kotaknya hip-hop gitu. Jadi konteks hip-hop-nya makin lebar. Tapi kalo formulanya apa, gue gak punya rahasia apa-apa selain bikin terus aja sih. Karena emang itu cara yang gue tau. Nulis, ngerap, nulis, ngerap, itu aja yang gue tau. Hahaha.” Ungkapnya.

Sosok yang humble dengan gaya casual dan elegan mungkin menjadi pertimbangan banyak pihak memilih Tuantigabelas sebagai kolaborator. Namun menurut Upi sendiri dirinya tidak telalu mengurasi siapa yang akan berkolaborasi dengan nya. Hampir semua tercipta dari unsur ketidaksengajaan. Total sepanjang 2018, 51 kolaborasi tercipta dengan-nya.

“Tapi kalo dari hip-hop itu cuma setengah, sisanya gue kayak ketemu band folk, reggae, hardcore dari Malang, ketemu band ska, ketemu band dub dari Tanggerang. Jadi emang kolaborasinya bener-bener diluar dari yang pelaku-pelaku hip-hop. Tapi justru gue kayak nemuin dimensi baru, di mana gue belajar bahwa ini bukan tentang gimana caranya gue ngerap di depan musik hip-hop gitu. Tapi gimana caranya gue bisa fit in ke dalam satu frekuensi baru dan orang-orang bisa tetep mencerna. Nah gue ketemu tuh akhirnya metode itu. Makin nyaman lah gue di kolaborasi.” Jelasnya.

“Kalo masalah kolaborasi sendiri sih gue percaya banget ini udah semesta yang atur. Kadang-kadang gue nyari sampe congean, terus gue kumpulin sampe 10 produser pun belum tentu ada musik yang nyangkut. Jadi kadang-kadang prosesnya lewat networking, lewat nongkrong, lewat kita tuker pikiran. Terus akhirnya ketemu tuh, enak kan.”

“Kayak gue sama Dom Dom itu seperti ngga ada rencana. Tiba-tiba dia bawa laptop, lalu gue ngomong “Dom gue check ye musik-musik lo?” Terus gue cek. Kemudian tiba-tiba gue nemu 10 beat yang menurut gue itu enak banget. Salah satunya itu musik di lagu Move. Dari 10 musik yang gue ambil, satu ini yang gue matengin, dan akhirnya ini yang gue jadiin materi album.” pungkas Tuan Tigabelas.

Tuan Tigabelas juga dikenal dengan para penggemar militan nya. Penokohan yang ia ciptakan bukanlah hasil skenario. Citranya tercipta murni organik dari cerminan asli dirinya. Upi juga seringkali melakukan interaksi langsung dengan para penggemarnya usai pentas. Respon seperti itu menurutnya diperlukan untuk membangun kedekatan tersendiri dengan para penikmat karyanya.

“Satu itu organik. Kedua, menurut gue manggung itu cape. Tapi hal paling cape setelah manggung adalah bikin engagement ke orang-orang yang sudah dateng tadi. Maksudnya kan sekarang kita udah zaman Instagram. Orang datang dari luar kota, atau luangin waktu dua jam di jalanan untuk nonton, terus nge-post sesuatu tentang lo. Kalo lo gak kasih feedback menurut gue akan sangat sayang, sih. Dengan mengucapkan terima kasih, menurut gue itu apresiasi yang sangat luar biasa. Nah itu yang gue terapin.”

“Jadi gue bisa habisin waktu 3-4 jam untuk balesin teman-teman yang udah datang. Nah itu treatment gue, ya mungkin itu yang bikin temen-temen punya kedekatan tersendiri sama gue. Tapi gue bener-bener gak  arrange itu. Cuma karena gue basic nya dari fans juga, gue suka ketika gue suka sama orang, terus orangnya ngasih feedback yang positif.”

Kembali ke pembahasan karya. Tuan Tigabelas memang dikenal dengan citra elegan nan classy. Pesan yang ia sampaikan dari karyanya memiliki kesan general. Hal yang ia subtansikan jelas tersirat tanpa embel-embel. Sifatnya alami dan mudah dicerna.

“Guideline gue untuk bikin suatu materi itu, yakni ngga pernah bahas sesuatu yang lagi tren sih. Karena sesuatu yang tren pasti bergeser ya, berubah. Jadi gue kemasnya gimana gue nge-burn sesuatu yang gue tau. Kalo gue ngomongin broken home versi keluarga gue, orang bakal bilang itu versi keluarga gue. Tapi kalau ngomongin broken home secara general, orang di luar sana jadi bisa relate sama yang mereka alamin. Nah guideline gue berkarya seperti itu.”

“Maksud gue, Tupac meninggal sudah dari tahun 96, tapi Dear Mama nya masih bisa gue pake di zaman sekarang. Gue mau jadi orang seperti itu. Gue gak mau entar gue mati gue dikenal dengan “Oh Upi tiga juta views ya”, gue gak mau. Tapi gue mau jadi orang yang 5, 25 sampai 50 tahun lagi orang masih bisa aplikasiin karya gue sama hidupnya. Guideline gue kayak gitu aja. Udah. Pokoknya yang gue tau, gue kemas secara general. Itu sih.”

Wawancara selengkapnya dengan Tuantigabelas dapat disaksikan di kanal Youtube Vantage Indonesia Official.