Hikayat Singkat Setengah Serius Soleh Solihun

Beruntung mungkin bisa menemui sosok berekspresi datar yang lihai memutar kenup emosi dari riang ke serius intonasi suaranya ini sebelum pandemi COVID 19 meneror seisi peradaban hari ini. Soleh Solihun, cerita perjalanan karir jurnalistiknya dari Trax Magazine, Majalah Playboy hingga terdamparnya di majalah musik terkultus Rolling Stone Indonesia membuat obrolan pendek tersebut penuh makna.

Sementara bahasan tentang bagaimana mencipta sarwa tanya bernas dalam konten Youtube Soleh Solihun Interviewnya mampu memancing jawaban penuh arti dan bobot dari setiap narasumber tidak kalah menarik. Plus tentang kekuatan tanggannya memegang erat gawai seluler di hampir dua jam obrolannya. Oh, tak lupa pengalamannya ber-stand-up di depan hadirin Hammersonic. Sebuah hikayat singkat setengah serius Soleh Solihun yang dilantur sembari pisang goreng saus gula merah dilahap habis di siang hari cerah.

Begitu hijrah ke Jakarta langsung memulai karir sebagai wartawan?

Iya, saya kan 2004 pas ke Jakarta langsung memulai karir sebagai wartawan. Setelah lulus dari kampus langsung kerja di MTV Trax waktu itu, majalahnya. Terus belakangan ganti jadi Trax Magazine.

Kenapa memilih menjadi wartawan musik dibanding beat lain?

Karena saya suka musik, dan saya suka kegiatan jurnalistik. Kalaupun jadi wartawan saya maunya menulis atau membahas sesuatu yang saya cintai. Dari zaman kuliah saya tahu kalo jurnalistik ini menyenangkan, tapi saya gak mau bahas topik-topik yang enggak saya sukain. Karena kan saya juga gak suka baca majalah berita atau berita politik. Saya senengnya baca majalah musik.

Siapa tokoh warta yang menjadi idola Anda dalam menulis?

Yang membikin saya pengen jadi penulis itu Iwan Fals sebetulnya. Gara-gara dari 1991 saya intens dengerin Iwan Fals terus lirik-liriknya tuh bagus. Jadi Iwan Fals lah yang membuat saya pengen jadi penulis. Cuman karena saya gak bisa nyanyi, gak bisa nulis lagu dan ternyata saya menemukan gairah di junalistik. Wah ini mungkin nih jalannya saya jadi penulis.

Anda termasuk orang-orang yang ikut bedol desa Trax Magazine ke Majalah Playboy. Ceritanya?

Itu 2005. 9 orang kalo gak salah ya redaksi Trax Magazine. Itu awalnya karena gak puas dengan manajemen di Trax, istilahnya kreatifitas kita terlalu dibatasi oleh manajemen yang kami anggap gak terlalu mengerti bagaimana mengelola majalah musik.

Akhirnya kami ketemu sama Mas Erwin Arnada, karena Mas Erwin kan dulu pernah jadi GM-nya MTV Trax sebelum cabut jadi produser. Intinya kami menghadap Mas Erwin, minta dibikinin majalah musik. Tapi Mas Erwin malah bilang, “Ah gue cape bikin-bikin majalah dari nol lagi, harus promosi lagi dan bla-bla-bla”. Intinya dia gak mau mengelola majalah baru lagi. Tiba-tiba dia bilang pas pertemuan itu, “Kalo majalah yang udah jadi sih gue mau” dan terus dia nyebut nama Playboy. Gimana kalo kita nerbitin Playboy? kata Mas Erwin. Kita kaget dong.

Berselang beberapa hari dari pertemuan Mas Erwin ngabarin kalo dia udah dapet lisensi Playboy. Ah ya udah lah.

Ada perubahan yang signifikan gak dari Trax Magazine yang notabene majalah musik dengan Playboy yang kerap disebut majalah dewasa?

Kan masih sama-sama entertainment benang merahnya. Tapi Trax itu lebih ke entertainment buat remaja, 20-an ke bawah. Kalo Playboy kan lebih ke pria dewasa. Ya sebenernya benang merahnya masih di entertainment.

Perpindahannya gak terlalu mengagetkan sih. Cuma ya paling porsi musiknya jadi lebih sedikit aja gitu. Bedanya di situ. Jadi kalo kita bikin peliputan atau wawancara sebisa mungkin dihindari porsi musisi di satu edisi. Supaya orang jangan mengkait-kaitkan sama di Trax.

Bagaimana dengan akhir cerita majalah Playboy yang sempat jadi kontroversi?

Ya namanya juga majalah baru terbit pasti ada aja lah yang gak suka. Apalagi imej Playboy di luar negeri kan “telanjang” jadi stigmanya begitu.

Ya namanya juga Ormas, kita kan gak terlalu ngerti gimana si Ormas. Ya mungkin mereka mau menghapus kemaksiatan? Gak tau juga. Coba tanya sama ormasnya. Hahaha. Padahal secara konten gak jauh beda dengan majalah lain yang udah ada. Kalo dibilang telanjang ya gak ada juga yang telanjang di Playboy. Kalo setengah telanjang majalah lain juga banyak yang setengah telanjang. Kalo di luar negeri telanjang kan yang di Indonesia enggak.

Jadi kalau nanya kenapa kami didemo ya coba tanya sama ormas-ormas yang demo? Kenapa kami didemo? Apa motivasinya? Jangan tanya saya, saya kan yang di demo. Hahaha.

Usai dari Playboy, Anda melabuhkan diri di Rolling Stone Indonesia. Dari perjalanan karir di ketiganya, apakah itu semua cukup membantu karir Anda dalam dunia hiburan?

Iya, karena kenal sama penggiat dunia hiburan ya karna bergabung di Trax, Playboy dan Rolling Stone. Memang sangat berpengaruh sekali, apalagi brand Rolling Stone Indonesia besar. Ya membantu menganalkan publik pada sosok Soleh Solihun.

Anda pernah menjadi performer Stand Up Comedy di sela-sela pagelaran Hammersonic. Bagaimana perasaan Anda?

Ya sama aja. Kan saya udah menghadapi crowd musik sejak nge-MC di Rolling Stone. Makanya saya ambil ya karena saya ngerti penonton musik karakternya seperti aja. Gak ada kesulitan. Lebih sulit stand up di depan bos-bos. Stand Up di depan penonton metal Hammersonic mah tidak terlalu menyeramkan. Toh mereka juga apresiatif. Hahaha.

Dengan berbagai pekerjaan seperti MC, Komika hingga Sutradara yang Anda geluti hari ini. Apakah Anda masih menyebut diri sebagai Jurnalis?

Enggak sih. Karena kan kalo jurnalis itu harus kerja di media massa. Saya gak ada produk-produk jurnalistik. Jadi saya gak bisa bilang diri saya jurnalis. Orang bisa menyebut dirinya sebagai jurnalis kalo sudah menghasilkan karya jurnalistik. Saya gak ada karya jurnalistik.

Bagaimana dengan channel Youtube Anda?

Kalo yang di Youtube itu bukan karya jurnalistik. Kan itu channel pribadi, bukan media massa. Channel pribadi itu kayaknya gak layak disebut media massa. Jadi vlog di channel saya itu bukan karya jurnalistik.

Kenapa memilih konten wawancara untuk dimuat?

Saya suka wawancara. Dari zaman menjadi wartawan, wawancara itu merupakan proses yang menyenangkan. Tapi kan kalo wartawan cetak setelah wawancara harus ditranskrip. Kalo wawancara satu jam, ngetiknya minimal dua jam. Wawancaranya menyenangkan, begitu sampai di kantor. Aduh…

Semua episode Soleh Solihun Interview terlihat simpel. Benar Anda merekamnya hanya dengan smartphone?

Iya pakai ini, Iphone 7.

Itukan berjam-jam, hanya dipegang gitu aja? Atau dengan tripod?

 Ya iya. Masa nyuruh orang lain pegangin. Hahaha.

Ribet kalo pake tripod kan gak semua tempat wawancara saya ada meja, tripod kan butuh alas. Seringkali saya wawancara gak ada alas. Udah gitu kan kalau pake tripod jauh, saya gak yakin suara yang kerekam bagus. Makanya harus dideketin supaya microphone-nya deket. Kalo pake tripod harus beli microphone tambahan. Ah ribet bawa-bawa begituan.

Hampir semua narasumber yang Anda wawancara terlihat lepas bercerita dan penuh kelakar. Bagimana caranya?

Ya intinya sih sebagian besar yang saya udah akrab. Minimal saya udah pernah ketemu dan oh becandanya enak. Semua yang saya wawancara di channel Youtube saya itu, saya sudah akrab secara personal. Minimal ya itu, pernah nemu momen becandanya, kemistrinya udah ada. Makanya semua rela ngobrol panjang lebar karena udah ada kedekatan psikologis.