Sixteen dan Keresahan Mendalamnya Terhadap Skena Musik Elektronik Sayap Kiri Ibu Kota

Nada bicara sedikit pesimis dengan raut muka penuh visi ditunjukan Dedo atau yang lebih dikenal dengan tajuk pesta DJ Sixteen. Tak perlu ditanya lagi berapa puluh-ratus deck klub-klub Jakarta yang telah ia mainkan. Hempasan irama bergelora dan dentum instrumen elektronika yang ia ciptakan selalu saja membuat syaraf motorik bekerja dua kali lebih keras dari normal, sensasinya luar biasa. Di luar hal tersebut, keresahan Dedo mengenai masa depan skena musik elektronik sayap kiri ibukota cukup tergambar jelas dari obrolan di sore hari itu.

Dedo mungkin sudah cukup memakan asam, pahit, manis dan asin pada ranah musik elektronik. Jam terbangnya jelas melampaui waktu tidur seorang balita. Atensinya pada electronic music terkurung sejak muda, tepatnya pertengahan tahun 2000. Awal dari Dedo mendalami musik RnB, terurai dari seringnya melihat dj Cream beraksi di jaman kejayaan Parkit sampai ke jaman dj Stan di Manna House.

“2002 itu pas gue kuliah sempet kerja di eX. Nah di eX itukan ada dj-nya tuh di tengahnya. Waktu itu dj-nya kaya Asking, Dodi, abis itu gw belajari dari dj Ruffie. Gue belom bisa nge-dj tuh, akhirnya diajarin. Dulu alatnya masih CDJ 500 yang bentuknya kotak.” Kenang Dedo.

Selepas masa itu Dedo kian melebarkan sayap ke banyak kolektif. D’Makaveli jadi salah satu milestone-nya hingga 2006. 2007 Dedo harus meninggalkan tanah air untuk melanjutkan studi di Inggris. Kecintaan nya pada musik elektronik belum sirna betul. Inggris kala itu masih mengagung-agungkan kultus hip-hop. Di tengah gandrung hip-hop ternyata Dedo menemukan satu titik cerah. Penampilan Sasha Digweed yang jadi titik baliknya. Musik yang disajikan Digweed malam itu serasa rayuan hebat bagi sang captain untuk melabuhkan kapal karirnya di pulau baru bernama deep house.

Dedo menggali lebih jauh. Jerumusnya ke jurang sepi deep house juga disokong oleh Mas Bagus atau Soulful Angus dari House FM, radio online yang bermarkas di London dengan konten program musik elektro. Kendali deck nya pada genre ini semakin mahir, atensinya penuh tidak terbagi, digging nya semakin dalam buat lagu – lagu deep house.

DJ Sixteen a.k.a Dedo

“Terus gue ketemu sama temen gue, yang jerumusin gue nih. Namanya Mas Bagus, dia terkenal namanya Soulful Angus. Nah dia tuh punya program di radio online namanya, House FM. Gue akhirnya coba main di programnya dia, main deep house. Akhirnya gue setiap dua bulan sekali ke London buat ngisi program di radio itu. Tapi gue main nya deep house, gue ngumpulin plat segala macem.” celoteh Dedo.

2009-2010 Dedo kembali ke Indonesia. Bergabungnya dia bersama kolektif DAFKAF adalah suatu awal besar. Bersama DAFKAF dan komplotan dj sekelas Indra 7 pesta besar digelar. Kampus jadi sasaran empuknya mencurahkan kreatifitas bertajuk Jakarta Techno Militia. Berlokasi di lantai 36 dan 37, kolektif ini membuat catatan baru. Irama dubstep dan drum n bass diputar dilantai 37 bersama nama –nama besar seperti DTX, Eone Cronik, dan techno di lantai 36 bersama Dnsw, Microchip, dan lain-lain, setengah malam nonstop. DJ sekaliber Indra 7 dan Alvin jadi aktor utama pengunjung lupa hari sudah siang.

“Gue waktu itu sama Indra 7 dan anak-anak bikin Jakarta Techo Militia di Kampus. Jadi dulu itu Kampus kan ada lantai 35, 36, 37. Gue bikin acara di lantai 36 sama 37.  Waktu itu gue masih main dubstep sama drum n bass di lantai 36. Uniknya aturan acara gue itu selesai jam 6 pagi, si Indra ama Avin bablas sampai jam 12 siang. Nah itu cikal bakal Kampus buka sampe siang. Itu pertama kali. Hahaha.” Ungkapnya.

“Itu aturan gak boleh sih. Tapi ngga tau kenapa, crowd nya bablas, Indra-nya bablas. Sampai jam 12 siang. Itu pertama kalinya Kampus notice, Wah kok bisa nih buka sampai siang?”tambah Dedo.

Lepas acara itu Dedo bercerita panjang. Jakarta Techno Militia vol 1 menurutnya cukup monumental. Kampus ibarat kuil favorit para kawula muda Jakarta medio itu untuk melakukan liturgi dansa. Ibadah pestanya dilanjutkan, orang-orang di balik Jatem (Jakarta Techno Militia) kembali mendapat kepercayaan manajemen Kampus untuk memegang kendali.

“Nah pas tahun baru kita diminta ngisi jadwal di lantai 36, gue lupa deh tahun baru 2010 apa 2011. Kita diminta ngisi dari jam 11 malem sampai jam 11 pagi. Itu pertama kali terbentuknya Jakarta Techo Militia Show di Kampus itu. Pertama kali kan masih kebuka jendelanya. Akhirnya ama gue ditutup tuh jadi gelap. Cikal bakalnya dari situ sih.” Buka Dedo.

Langkah Dedo tidak berhenti di Jatem. Lagi-lagi bersama DAFKAF konsep unik tercipta, banyak dj – dj techno international mulai dari Ben Klock, Scuba, Eats Everything, Yousef, Cassy, Maya Jane Coles dan nama besar lainnya diboyong ke Stadium pada jamannya.  Rancangan pesta after hour  bernama Enter The Void (ETV) ia disain bersama rekan seperjuangan seperti Shawn, Darkbark, Dnsw, Rulli, Housecartel. Colosseum dipilih jadi venue-nya, ruangan nya diberi nama Void Room. “Waktu itu Colosseum siap buat nampung ide after hour kita, akhirnya kita menetap disana kurang lebih 2 tahunan lah,” Ujar dedo.

Mundur beberapa waktu kebelakang, berita menghebokan datang darinya. Dedo dikabarkan memutuskan diri untuk berhenti dari pergerakan scene. Berita yang cukup mengecewakan bagi beberapa kalangan. Bagi Dedo sendiri, ranah yang ia geluti sejauh 17 tahun tidak cukup sehat akhir-akhir ini.

Dengan sedikit pesimis Dedo bercerita beberapa faktor yang menjadikan dirinya letih. Satu dari beberapa halnya mungkin juga semakin sedikitnya klub yang mewadahi musik techno dan deep house di Jakarta. Beberapa klub-klub lama yang menjadi sarang para pemain deep house dan techno terpaksa menyudahi perjalanan-nya.

“Dari Colloseum yang begitu. Terus kejatuhan banyak klub-klub gede, membuat tempat untuk kita bermain semakin berkurang, bisa dibilang hampir gak ada. Jenja juga kan yang konon katanya best deep house club, yang di bali-nya udah tutup. Jenja Jakarta masih ada yah, cuma udah ngga ada soul nya.” Saut Dedo.

Ruangan yang di Colo itu juga sekarang RnB. Akhirnya sedikit maksain, kan. Rada susah juga buat kolektif kayak kita bikin acara di sana. Boncos yang ada, soul nya juga udah gak dapet.” Tambahnya.

Persoalan sharing profit juga menjadi masalah tersendiri. Konsep yang menurut dia cukup merugikan para pembuat pesta. Cukup kejam menurutnya karena sangat tidak sebanding dengan effort yang dikeluarkan.

“Lo bayangin banyak dj-dj sekarang yang main itu sistemnya sharing profit. Kalo targetnya gak tembus, mereka gak dapet duit. Lo kebayang gak? Lo udah effort bikin acara segala macem, tapi nggak dapet apa-apa. Udah gitu gak ada tempat juga.” Jelasnya.

“Ya sharing profit itu. Paling enggak kalo ada yang minta gue sharing profit gue minta deh, kalo gue sampe enggak tembus gue minta uang bensin deh. Hahaha.” Candanya.

Dedo juga cukup cermat mengamati fenomena sekarang. Baginya techno dan deep house tidak bisa me-relate-kan diri pada serbuan tren disko dan karaoke yang kian bertumbuh subur. Baginya tren sedang berputar. Jangan bandingkan masalah rate nya, menurutnya tanpa harus dibuka publik sudah mengerti.

“Yah, gak ada tai-tainya. Techno ini gak ada tai-tainya bayarannya sama dj-dj cewek sama dj lagu-lagu 90-an. Makanya gue bilang sama generasi di bawah gue, lo harus siap. Gak bisa lo ngarep jadi dj terus dapet duit banyak. Makanya kebanyakan dari mereka yang muda-muda dan semangat pada hijrah ke Bali.”  Tanggap Dedo.

“Ada satu pernyataan nya Indra 7 di salah satu obrolan gue berdua yang sangat gue aminin sih, masalah fenomena lagu-lagu band. Menurut Indra mereka ini yang sekarang belanja adalah mereka yang punya duit, tapi waktu di jaman kita clubbing dulu mereka enggak bisa clubbing. Mereka masih sekolah, masih kecil, belom bisa masuk klub. Sekarang waktunya mereka udah kerja, udah punya duit. Mereka pengen ngerasain lagi era-era euforia itu,” ungkap Dedo.

“Nah, ada juga perbincangan gue pas masih di DAFKAF, si Abang Remy Irwan tuh bilang, memang ini circle nya per 25 tahun, jadi balik ke 25 tahun yang lalu yang which is pergerakan-nya dari small small club, small small gigs. Kembali lagi ke era dulu.” Ingat Dedo.

Comeback menawan Dedo disambut dengan gagasan dia memprakarsai lahirnya event bertajuk Otherground. Event ini lahir dari obsesinya akan konsep day time party. Cikal bakalnya lahir dari end year party yang dibuat di salah satu tempat di kawasan selatan Jakarta. Cukup happening menurutnya kala itu. Cukup pula membulatkan niatnya untuk kembali membuat acara serupa di tempat yang sama buat yang kedua kalinya. Dari situ Dedo seperti resmi kembali ke skena elektronik musik dan event kolektif. Nouvelle di Equity Tower jadi tempat pelampiasan nya untuk melakukan gelaran ke-3 event tersebut.

“Lepas dari yang ketiga itu gue kerjasama dengan Frekuensi Antara. Syaratnya pengunjung yang dateng harus registrasi lewat website mereka. Jadi mereka hanya butuh database-nya doang. Itu gue bisa achieve 250 orang yang register. Ini gue bikin di Equity Tower SCBD, ada namanya Nouvelle. Nah yang punya ruangan itu ternyata yang punya gedung. Vibenya ETV jaman kita dulu akhirnya bisa ke ulang lagi. Itu dari jam 11 siang sampai jam 12 malem. Itu sukses, gokil.” Pungkas Dedo.

Inisiasi Otherground nya cukup maksimal. Keseriusan nya dibuktikan kontan, sound funktion one jadi pembuktiannya. Dedo patut sombong, mungkin baru dirinya yang menggunakan sound system sesempurna itu dalam sebuah pesta di luar club di Jakarta. Otherground ini bagi Dedo adalah langkah support-nya terhadap scene. “Masih cukup jauh dari unsur menguntungkan, cuma at least gue bisa ngasih sesuatu ke anak – anak buat main lah.” Papar Dedo.

Di balik kecemasan nya masih ada rasa percaya scene nya tidak akan redup. Masih banyak orang-orang yang tulus membesarkannya. “Sekarang kan temen-temen juga masih banyak yang jalan. Kaya Sunset People Project, ada Intergalatic, ada Plush inc, ada Interrupted ada Konsumma juga, dan gue masih punya Otherground. Selama masih ada mereka ya gue percaya, scene nya akan terus jalan.” Tutup Dedo.