Sejatinya Kita Harus Belajar Banyak dari Gus Dur

Sedekade sudah KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa Gus Dur meninggalkan kita semua.  Mantan Presiden ke-4 Republik Indonesia ini menjadi sosok yang tak bisa dilupakan. Segala tentang Beliau memang pantas untuk dikenang. Guyonan, pemikiran, dan nasihat yang dikeluarkan Gus Dur telah terpatri dengan sempurna dibenak para pecintanya yang meliputi berbagai lapisan masyarakat.

“Gitu aja kok repot.”

Kutipan tersebut begitu populer pada masanya. Empunya tidak lain adalah Mantan Presiden Ke-4  Republik Indonesia, Gus Dur. Sosok beliau memang sungguh karismatik, meski begitu perangai Gus Dur sebagai seorang pemuka agama maupun presiden memiliki karakter yang santai. Beliau juga memiliki selera humor yang sangat baik. Gus Dur dan humor bagaikan surat dan perangko yang tak terpisahkan. Beberapa tokoh pernah memiliki kesan tersendiri terhadap humor yang dilontarkan oleh cucu dari KH Hasyim Asyari ini.

Salah satunya adalah presiden Kuba yang sangat ditakuti yakni Fidel Castro. Suatu ketika saat Gus Dur menemui Castro, mereka terlibat pembicaraan yang cukup intens. Hingga sampai sebuah momen ketika Gus Dur menceritakan soal empat presiden Indonesia pertama memiliki masalah kegilaan. Gus Dur berujar jika Presiden pertama, Soekarno memiliki kegitlaan pada wanita. Kemudian Presiden kedua, Soeharto memiliki kegilaan pada harta. Sementara Presiden ketiga, BJ Habibie disebut gila sungguhan.

Terakhir yang keempat, Gus Dur sendiri menyebut dirinya sebagai orang yang membuat orang lain gila atau memilih yang gila. Castro pun ditanyakan mengenai pilihannya. Sontak tokoh revolusi itu memilih yang ketiga atau yang keempat. Jawaban itu dilontarkan Castro sambil tertawa terbahak-bahak.

Tak hanya selera humornya yang berkelas. Gus Dur juga dikenang sebagai sosok yang menjunjung tinggi pluralisme. Sebagai sosok yang terkait dengan agama Islam, nyatanya Gus Dur sangat mengakui dan menghargai keberadaan agama lain di Indonesia. Beliau tak ragu untuk menjalin hubungan dengan pemuka agama non muslim. Pemikiran yang terkait dengan toleransi konsisten disampaikan Gus Dur di setiap kesempatan.

Salah satu kutipan Gus Dur yang terkenal mengenai toleransi yakni.

“Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”

Kutipan diatas bila dihubungkan dengan kondisi Indonesia saat ini nampaknya memiliki relasi yang sangat dekat. Rasanya toleransi kini menjadi barang mahal yang sulit didapat di negeri dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dan Gus Dur tahu betul bahwa toleransi dan pluralisme menjadi solusi tepat untuk mengembalikan Bumi Pertiwi pada trahnya yang sangat menjunjung tinggi perbedaan dan keberagaman.

Gus Dur sendiri juga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyat Papua. Bahkan sebutan sebagai “Bapak Papua” telah disematkan pada Beliau. Gus Dur berhasil meruntuhkan ketakutan-ketakutan warga Papua yang menahun saat rezim orde baru berkuasa. Pada eranya, Gus Dur mengembalikan lagi sebutan “Papua” yang sebelumnya disebut Irian Jaya.

Gus Dur bagi Papua adalah pembawa kedamaian dari sekat-sekat yang dibangun saat orde baru berkuasa. Beliau menjadi satu-satunya presiden Republik Indonesia yang mengakui kembali rakyat Papua sebagai bangsa.

Meski periode kekuasaannya teramat singkat, Gus Dur mampu mewariskan banyak hal bagi Indonesia. Tak sulit rasanya bagi masyarakat luas untuk membuka memori yang berkaitan dengan Gus Dur. Sikap toleransi dan plularisme yang dijunjungnya perlu diterapkan di jaman langkanya toleransi ini. Selain itu, sederhananya Gus Dur dalam memandang hidup juga bisa dijadikan inspirasi bagi kita semua. Kepandaiannya dalam meramu permasalahan menjadi humor berkelas juga begitu dirindukan pecintanya.

Kini setelah 10 tahun kepergiannya, rasa cinta dan simpati yang tercurahkan untuk sosok Gus Dur seperti tak berujung. Indonesia patut bangga memilki sosok yang tak hanya dicintai di dalam negeri namun juga dipuji di luar negeri.

Terima kasih atas segala ilmu dan pelajaran yang anda berikan, Gus Dur!