Saykoji : Rapper Yang Semakin Nyaman Setelah Keluar Dari Label

Mari melihat bagaimana esensialnya Hip-hop bertaji di setiap dekade-dekade emas. Menunjukan bagaimana genre ini kompetitif dalam persaingan kencang pusaran variatif blantika musik yang tiap babaknya dihuni musik-musik bercena. Beat ritmis, lirik berima dan pelafalan cepat lantang jelas jadi estetika pembeda dari aliran seni suara ini. Belum lagi pesan tajam yang diemban dalam setiap larik yang tercipta.

Sementara trennya kian besar, pendengarnya menjaring segala kalangan dan pelaku industrinya kian jamak dengan karya dan karakter beragam yang disaji. Dalam paripurnanya ranah dan industri, Igor Saykoji layak di dapuk sebagai jagoan atas semua lirik, beat dan pesan yang terkandung dalam karya-karya bernasnya.

Namanya layak disanding dalam kaliber-kaliber teratas pencipta bunyi Hip-hop bumi pertiwi. Saykoji adanya sosok ini adalah entitas insan Hip-hop cerdas yang tau bagaimana memperlakukan nada-nada berjudul yang akan di setripkan di belakang namanya. Secuil cerita hidup dalam berkreasi dan dinamika hidupnya tercurah dalam wawancara yang terhenti dengan haus dan kering mulut ini.

Bagaimana diri Saykoji sebenarnya?

Kalo gue ngeliatnya, gue sebetulnya berbeda sama kebanyakan streotip rapper. Gue suka menyendiri orangnya. Jadi walaupun hidupnya di dunia showbiz profesinya sebagai rapper dan rapper pasti ngomong dan mesti extrovert kalo perform, tapi dalam kenyataan nya gue orangnya lebih cenderung pendiam. Mungkin sebetulnya nge-rap ini extension keinginan gue untuk berekspresi dari yang biasanya pendiam.

Orang kan selalu berusaha mendeskripsikan bilang diri lo Hip-Hop, rapper, berarti definisi karya-karya lo tuh ada unsur real-nya. Nah kalo begitu apa yang kita sampaikan di dalam lagu itu akan jadi ekspresi dari attitude dan karakter lo sehari-hari. Makanya walaupun gue ekstrovert-nya di panggung, gue lebih outspoken-nya ke karya lagu, kalo ditelisik gue lebih, lo bisa nemuin identitas gue lewat lirik yang gue tulis.

Bagaimana proses karakter Saykoji yang saat ini ada bisa terbentuk?

Gue udah lewatin mungkin tiga fase karir sebagai rapper. Pertama indie abis-abisan, indie yang gak ada modal, indie yang ke sana ke mari naik bus. Kedua gue sempet di sign sama major label Blackboard dan EMI. Dan setelahnya baru fase ketiga, gue pure independent dari 2008 sampai sekarang. Jadi gak ada label, semua bikin sendiri, gak di bawah campur tangan orang lain yang nunjuk gue harus ngapain, harus ngebentuk karakter gue sendiri seperti apa.

Orang pasti akan bilang, “wah kayaknya titik terendah lo pas indie abis-abisan dulu”. Bukan, justru titik terendah gue adalah waktu gue sama label. Jadi waktu itu album kedua yang ada single Jomblo dan di situ awal semuanya kan lagi rame-ramenya nih sama album yang pertama single So What Gitu Lho. Begitu masuk ke album kedua kayaknya ada pergeseran tren musik yang lagi ramai waktu itu Pop-Melayu. I’ve nothing against Pop-Melayu, tapi menurut gue yang namanya sebuah major label mereka pasti akan mengikuti arah angin mana yang jalan. Jadi banyak ide-ide gue yang mental. Dan saat album kedua itu gue punya anak, anak pertama gue lahir. Gue ngerasa kayak banyak pressure. Walaupun gue banyak menghasilkan lewat rap tapi hasilnya gak sama kayak sebelumnya. Justru gue melihat kayak di posisi dimana gue harus mulai menafkahi keluarga yang lebih kompleks dibanding cuman gue sama istri gue. Kok kayaknya jadi lebih susah gitu. Ada momen nya gue bikin sebuah lagu, ditawarin ke label tahun 2008 terus labelnya bilang, ini lagu gak jualan. Susah ini kayaknya orang Indonesia kayaknya gak bakal ngerti. Akhirnya gue memutuskan untuk keluar dari label itu.

Tapi kondisinya makin susah lagi. 2008-2009 itu bisa dibilang ngumpulin duit untuk beli popok anak, susu, itu kayak kepikiran banget. Apa lagi gue rapper. Rapper itu sampai hari ini kalau orang mau bilang dia mau jadi rapper itu belom tau bisa menghasilkan apa engga, kita gak tau. Industrinya sendiri di Indonesia belum se-kenceng genre lain. Jadi menurut gue perlu waktu hingga akhirnya berkembang dan semua orang bisa hidup dari situ. Tapi bisa dibilang itu momen terendah gue.

Justru setelah gue keluar dari label hingga sekarang ini segala sesuatunya berjalan lebih baik. Nah lagu yang ditolak sama label itu tahun 2008, pas 2009 baru lagu itu bermakna buat orang. Gue nulisnya kecepatn setahun. Lagu itu Online. Waktu lagu itu gue nyebut Friendster pas lagu itu udah naik, orang makai Facebook. Jadi lo bisa tahu lagu itu ditulis sebelum bener-bener yang namanya Facebook meraja lela.

Gimana lo memandang New School dan Old School di skena Hip-Hop sekarang?

Percaya gak waktu awal-awal gue nongkrong sama komunitas Hip-hop tahun 2000-an awal Busta Rhymes itu dibilang New Skool. Busta Rhymes sekarang bisa dibilang udah toku gitu. Jadi kalo lo mau punya pikiran yang terbuka, segala sesuatu yang ada di scene ini tuh cycle. Semua berputar. Paling yang bisa lo nikmatin adalah mengerti segala sesuatu pasti akan berubah sesuai zamannya.

Yang pasti sangat terasa bedanya sekarang dan dulu adalah sekarang lo nyari segala sesuatu gampang. Lo perlu beat? Lo perlu musik? Beatmaker banyak. Kalo pun lo gak bisa nyari di sini, lo bisa beli di internet. Cari aja, type beat siapa. Lo tinggal bayar. Kalo dulu? Aduh internet pelan, masih dial-up, kalo gue mau nyari video-video clip Hip-hop gue mesti ke Senen, cari VCD-VCD yang udah di compile.

Menurut gue tiap generasi punya hustle nya sendiri. Sekarang segala sesuatu dipermudah, tapi disaat yang sama ini makin ramai, makin banyak pilihan dan bisa dibilang makin banyak persaingan. Waktu dulu gue bikin karya begitu rilis orang udah bilang, unik nih, asik, gokil, keren. Kalo sekarang lo keluar dengan suatu karya somehow netizensekarang akan cepet meng-compare dengan karya lain. Kok kayak ini? Kok kayak itu? Padahal kita belum tentu dengerin semua refrensi yang mereka bilang. Jadi zaman berubah tapi challenges-nya berubah juga.

Cerita dikit dong soal konflik di skena Hip-hop?

Gue kenal Xaqhala udah lama, dari zaman Hip-hop Indo tuh ramai di forum. Jadi bales-balesan lirik tuh walaupun lo belom rekaman, lewat ketikan-ketikan, itu udah sering. Jadi mindset gue ngeliatnya adalah gini, masing-masing punya presepsinya. Walaupun gue pernah kerjasama sama Old Days atau sama Ben, bukan berarti kayak yang gue lihat dia lakukan saat itu semua benar. Jadi sempat bilang, “Harusnya lo santai aja. Jangan panasan”. Tapi mungkin ada manfaatnya juga ya. Tanpa kita sadar yang kita lakuin saat itu jadi sesuatu yang orang notice.

Gue lebih ngeliat ini kayak this is our sport. Ibarat atlet beradu dengan ketangkasan ya kita rapper beradu dengan kemampuan kita memadukan lirik. Jadi gue justru masuknya bukan dalam konteks gue panas atau emosi karna gue ngerasa bener. No. It’s fun menurut gue. Akhirnya ada satu momen di mana kalau gue mau bales seseorang dengan konteks atau pendapat ya ada sesuatu yang mau gue bilang, it’s just battle.

Kalo lo perhatiin di scene-scene Hip-hop di luar sana cela-celaan nya lebih kacau. Lo denger lirik gue, gue gak pernah ngomong yang aneh-aneh dan yang gak pantas. Di luar sana lebih parah lagi. Bawa keluarga, bawa-bawa orang tua, tapi begitu selesai, its just sport. Lo bisa salaman lagi, lo bisa ngobrol lagi. Jadi mindset gue pas gue masuk ya udah ini saatnya orang bisa ngeliat rap battle gimana.

Pandangan lo dalam berkarya itu gimana dan gimana berkembangnya Hip-hop hari ini di mata lo?

Gue bikin lagu bukan buat gue bikin video clip keren terus terkenal, bukan. Gue bikin lagi karena ada sesuatu yang mau gue sampaikan dan karena gue emang cinta ngerangkum kata-kata dengan bait per bait, lirik per lirik dengan rima dan segala sesuatu. Makin konteks, gue makin puas gitu. Buat orang-orang yang seperti itu scene ini gak bakal mati, gak bakal abis. Yang gue perhatikan adalah banyak pihak yang dulu gak pernah memperhatikan hip-hop kayak label-label besar yang pelan-pelan udah noal-noel nih. Yang kayak gini datang dan pergi tapi gue berharap bukan cuman pelaku aja, tapi pendengar dan penikmat bisa nemuin apa sih yang lo suka dari rap. Gimana lo suka rap karena bisa appreciate isi lirik dan pesan yang di sampaikan masing-masing pelakunya. Itu yang menurut gue bakal bikin rap terus bergulir dan makin luas.

Gimana dengan pandangan orang-orang tentang daulat lo sebagai jagoan freestyle battle?

Lo harus liatnya gini, gue tuh bukan Tuhan nya freestyle battle. Gue bisa selip juga. Cuman emang yang orang lain sebarkan, yang rame, yang viral itu yang gue mulus-mulus aja. Gue dalam rap battle ya santai-santai aja. Kalo gue sendiri gue seneng rap battle, itu mengasah otak. Tapi bukan dalam konteks “ini supremasi, cuman gue yang paling terbaik dan superior, bukan. It’s all fun and games aja gitu. Hari ini gue asik, besok kalo gue kalah sama orang gue seneng. Kenapa? Berarti ada yang jago.