Satria Bergitar Tersebut Bernama Rhoma Irama

Rhoma Irama merupakan fenomena asal negeri ini yang sudah berkiprah di dunia seni selama hampir kurang lebih 6 dekade.

Lahir di Tasikmalaya tahun 1946, Rhoma Irama sukses mendapat julukan Raja Dangdut berkat sejuta prestasinya yang ia toreh sejak 60 tahun lalu. Rhoma kecil bermain di film legendaris tahun 1985 berjudul Djendral Kantjil. Kemudian mendirikan band Gayhand di tahun 1963, dan mulai menekuni orkes bersama Chandra Leka, hingga akhirnya membentuk band sendiri, yang di kemudian hari kita kenal sebagai orkes paling sering tampil di seluruh dunia bernama Soneta.

Dilihat dari data penjualan kaset serta jumlah penonton dari film-film yang dibintanginya, penggemar Rhoma Irama di era 80-an awal tidak kurang dari 15 juta atau 10% penduduk Indonesia. “Tak ada jenis kesenian mutakhir yang memiliki lingkup sedemikian luas”, tulis majalah TEMPO, 30 Juni 1984. Sementara itu, Rhoma sendiri bilang, “Saya takut publikasi. Ternyata, saya sudah terseret jauh.”

Rhoma Irama juga terhitung sebagai salah satu penghibur yang paling sukses dalam mengumpulkan massa. Rhoma Irama bukan hanya tampil di dalam negeri tetapi ia juga pernah tampil di Malaysia, Singapura dan Brunei dengan jumlah penonton yang kurang lebih saat ia tampil di Indonesia. Kerap kali di dalam konser Rhoma Irama penonton jatuh pingsan akibat berdesakan. Orang menyebut musik Rhoma adalah musik dangdut, sementara ia sendiri lebih suka bila musiknya disebut sebagai irama Melayu.

Tepat 13 Oktober 1973, The King of Dangdut Rhoma membuat slogan “Voice of Moslem yang dibentuk sebagai agen pembaru musik Melayu, dengan paduan unsur musik rock dalam musik Melayu, di mana mereka melakukan improvisasi atas aransemen, syair, lirik, kostum, dan penampilan di atas panggung. Frontman dari grup rock God Bless Ahmad Albar pernah berujar, “Rhoma pionir. Pintar mengawinkan orkes Melayu dengan rock”. Tetapi jika kita amati ternyata bukan hanya rock yang dipadu oleh Rhoma Irama tetapi musik pop, India, pun orkestra. Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan setiap lagu Rhoma memiiki cita rasa yang berbeda.

Rhoma Irama kerap tampil dengan pakaian mirip Elvis Presley. Dan dia selalu bersama gitar. Rhoma juga kerap tampil dengan gitar patah tanpa kepalanya. Terkait dirinya dengan gitar khasnya ersebut, melalui filmnya Satria Bergitar (1984), dia seolah seperti mendaulatkan diri sebagai Satria Bergitar.

Seiring perjalanan karirnya, Rhoma Irama lumayan terpengaruh band rock dari Inggris, Deep Purple, lagu Soneta yang berjudul Ghibah dianggap mirip Child in the Time milik Deep Purple.

Menurut seorang doktor sosiologi Universitas Ohio Amerika Serikat, bernama William H. Frederick, dalam Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesian Popular Culture (1982), Rhoma Irama adalah musisi yang sangat cerdas. Baginya Rhoma bukan sekadar superstar, namun benar-benar ikon massa yang sanggup menautkan kelompok elit dan rakyat kecil.

Sepanjang karirnya, Rhoma Irama sudah menciptakan kurang lebih 1000 lagu dan bermain di 20 film. Hitsnya antara lain Darah Muda dan Begadang. Selebihnya, bisa Anda temukan sendiri di internet.

Asal Anda tahu saja, Rhoma Irama dan Soneta sempat diajak tur bareng oleh super group The Rolling Stones pada tahun 1982 dalam rangka tur The Rolling Stones yang bertajuk ‘Giant Road Tour’. Edan kan? Grup sebesar Rolling Stones sampai kepincut dengan pesona Rhoma Irama, di mana manajemen mereka memohon-mohon untuk mengajak Raja Dangdut kebanggaan kita agar bisa tur bareng The Rolling Stones.