Satir Isser James Untuk Drama Busuk Streetwear Bumi Pertiwi

Untuk yang percaya akan nilai sakral sebuah proses. Juga bagi para penikmat segala jerih payah dan tetes pilu yang tercurah dalam satu bentuk usaha. Manusia hidup mengejar haluan, sementara keberanian lah yang menyelamatkan ujar FSTVLST dalam lirik lagunya. Semua narasinya tergambar dalam sosok Isser Whitey James, dedengkot Sneakers Enthusiast dan kritikus bidang Streetwear yang bertitel kontroversial. Pada siang berawan di Velopark, Greenvile, Isser merunut segelintir hikayat pahit hingga panen rayanya yang belum berhenti sampai detik ini.

Prolognya dibuka dari bagaimana dari perjalanan Sneakers Enthusiast ini menceburkan diri dalam lembah streetwear dan sneakers. Dilanjut dengan cerita terdalam tentang pakem pribadi yang dihambakan beribu pengikut haus sabda kritiknya akan suatu brand. Tidak lupa, uraian segenap pengalaman seteru panasnya dalam ranah penuh satiris bernama streetwear yang kian tumbuh sumbur di Bumi Pertiwi. Isser Whitey James a.k.a Badass Monkey membahasnya panjang dari utuh satu bungkus rokok dan mengakhirinya dengan tawa ria kala gelas bir habis tersisa tetes akhirnya.

Lo pengen menyebut diri sebagai apa?

Simpel sih. Karena gue suka sama sneakers. Gue lebih suka di sebut Sneakers Enthusiast. Kan banyak sebutan-sebutan lain kayak Sneakers Influencer atau apa lah. Menurut gue itu nggak enak didenger ya.

Kenapa nggak mau disebut sebagai Influencer?

Pertama, gue nggak suka disebut Influencer. Karena kata-kata tersebut udah sering banget dipake atau digunakan akhir-akhir ini. Ada Influencer A, Influencer B. Tapi sebenernya makna dari influencer sendiri kan adalah orang yang punya dampak. Nah kalau menurut gue, gue belum punya memberikan dampak yang terlalu banyak buat culture gue. Kurang pantas aja gue menyebut diri sebagai Influencer.

Dengan ke-vokal-an Lo di sini, itu udah jadi part of Enthusiast Sneakers, kah?

Enthusiast Sneakers banyak orang mikir sesimpel seseorang yang suka sama sneakers doang. Tapi gue ngerasa dengan kecintaan gue dengan sneakers akhirnya gue punya banyak temen baru, banyak orang yang support gue melalui media yang gue buat, platform yang gue buat. Dan gue ngerasa untuk vokal atau nggak itu balik ke orangnya sih.

Cuman buat gue, kalau gue banyak orang-orang yang mendengarkan gue berarti gue punya pilihan untuk sedikit berbicara mengenai culture gue. Gue bisa kasih masukan ke mereka. Gue nggak bilang masukan ini benar atau nggak. Tapi seengganya memberikan insight buat mereka.

Setelah Lo menjalani industri ini, lo pernah mengalami masa kelam kan. Bisa cerita sedikit bagaimana itu mempengaruhi Lo?

Wah kalau pengaruh masa kelam ya kita sama-sama tau lah, lahir dari Jakarta Barat yang deket banget sama tempat-tempat untuk pick up drugs, ya salah satunya narkoba. Ada juga keadaan ekonomi, itu mempengaruhi banget!

Karena sebenarnya sneakers bukan lah hal yang murah. Jadi waktu gue punya background ekonomi yang bener-bener kurang, terus lingkungan yang ngaco, itu kayak berpengaruh banget sih. Jadi untuk dapetin itu tuh nggak semudah orang-orang lain yang emang punya duit. Nggak seperti orang-orang lain yang memang lahir dari keadaan ekonomi tertentu. Jadi itu berpengaruh banget.

Waktu Lo memulai bidang ini, seperti apa kondisinya?

Waktu mulai ini, pas pertama kali bener-bener cobain usaha gue memulai dengan Sneakers Reseller. Dimana saat itu gue nggak punya sneakers buat dijual, tapi gue jadi reseller. Jadi keadaan nya bener-bener nggak semudah itu, lo nggak punya uang dan lo nggak punya barang, gimana cara lo bisa dagang? Puter otak.

Keadaan nya sampai gue harus ngontek semua orang di Kaskus yang punya barang, datengin mereka, pergi dengan bis kota saat itu biar minim ongkos, foto-fotoin dengan kualitas handphone yang seadanya. Market juga belum se-masif sekarang. Jadi itu satu hal yang bless banget bisa ada di posisi sekarang, punya toko, dikenal orang. Luar biasa banget sih menurut gue.

Bagaimana Lo memandang toko-toko lain, Lo melihat itu sebagai rival kah?

Di satu posisi, gue yang notabene sebagai pedagang juga, melihat hal itu seneng banget sebenernya. Karena banyak supply. Karena dengan sekarang gue liat marketnya yang begitu luas dan brand-brand besar kayak Atmos dan Invicible mau bikin di Indonesia berarti mereka menyadari satu hal bahwa akhirnya market-nya tercipta begitu besar di Indonesia. Gue cukup bahagia dan bangga karena gue jadi bagian dari orang-orang yang dari pertama kali bergerilya dari gorong-gorong industri besar ini sampai sebesar sekarang.

Ya emang gue nggak punya part banyak, tapi at least gue jadi bagian dari era sneakers belum diliat hingga gimana demandsneakers di era sekarang ini.

Apa yang jadi motivasi Lo dari awal menggeluti ini?

Jadi memang di saat itu gue memang gue udah suka banget sama Basket Ball. Gue tau kalau sepatu itu salah satu yang bener-bener penting bagi seorang pemain basket dan itu jadi part of fashion, jadi part of statement lah dari orang-orang itu. Dan gue ngerasa, gue liat kayak di internet, di luar, itu market-nya besar dan gue yakin Indonesia dengan jumlah orang sebanyak ini pasti kita bisa bikin satu hal yang sebesar itu. Itu sih yang menurut gue memotivasi gue untuk tetep jualan, atau masih ada di industri dan culture ini.

Lo dikenal orang sebagai Isser Whitey James yang kontroversial. Sebenernya ada drama-drama apa aja sih di culture ini?

Wah dramanya banyak banget lah. Pokoknya kita tau lah di semua community di semua culture kalau udah berhubungan dengan uang, itu pasti banyak banget dramanya. Ada si A, si B yang saling menjatuhkan. Tapi sebenernya jauh sebelum hal ini terjadi, gue udah sempet ngomong kok di media sosial gue, kalau gue nggak punya banyak temen. Cirle yang gue pertahankan adalah pertemanan yang gue jaga dari sebelum gue terkenal, dan itu lah temen-temen bener gue. Tapi bukan berarti gue nggak nambah temen lagi lho. Ada beberapa yang memang dengan niat baik tulus mau temen. Tapi mostly kebanyakan di sini tuh terlalu banyak orang yang bertemen kalau ada maunya doang. Nah itu yang bikin dramanya banyak. Dramanya banyak, traffic nya bagus, dimanfaatin sama brand.

Definisi pertemanan menurut Lo?

Ya yang paling nyata, Respect each other. Tapi kalau lo respect each other-nya pas lo punya traffic itu mah lips service doang. Itu mah bisnis. Hahaha.

Local Pride menurut Lo sendiri bagaimana?

Gue nggak tahu siapa yang memulai nya. Tapi di mata gue yang pertama kali memulai #LocalPride itu si Dokter Tirta. Dan mungkin menurut gue misinya sangat bagus. Karena saat itu, waktu dia mulai, industri lokal kita belum terlalu dilihat orang. Orang-orang masih malu pakai produk lokalnya, belum ada kebanggaannya. Tapi, domino effect gulungan terhadap local pride ini tuh besar banget dan akhirnya dimanfaatin beberapa pihak yang kurang bertanggung jawab. Akhirnya sampai semua brand pakai istilah ini biar jualan mereka lancar.

Ini proses sih, memang harus dijalanin. Orang tuh dari bodoh, ikut-ikutan dulu, nanti akhirnya si market akan sadar dan mulai pintar untuk nentuin apa yang bakal mereka konsumsi. Mana yang bener-bener bisa dibanggain karena ini produk Indonesia, mana yang nggak.

Dari sebagian banyaknya produk sneakers lokal. Menurut Lo ada nggak yang kualitasnya bisa disamakan sama brand luar?

Gue nggak bisa ngebandingin itu sih. Karena teknologi yang dipakai udah jelas jauh beda. Tapi ada beberapa brand yang punya capacity, yang hampir mendekati produk luar lah. Tapi kalau kita samain dengan produk besar sekelas Nike, ya jelas lah, nggak mungkin.

Mungkin sih kalau negara ini concern dan tau jika ini bakal jadi industri yang besar dan mau mengeluarkan investasi yang sedemikian besar untuk membangun pabrik yang gokil, nggak menutup kemungkinan bisa. Tapi untuk saat ini, sorry to say menurut gue masih belum.

Beberapa nama terlihat seolah men-support culture ini namun kenyataannya justru sebaliknya. Cerita dikit dong tentang hal tersebut?

Ini yang paling relate aja ya, yang paling dekat. Jadi waktu pertama kali besar banget itu waktu ada sebuah brand sepatu asal Bandung, namanya sepatu Compass dipegang sama designer baru nih, temen gue sendiri namanya Aji Handoko Purbo. Saat itu gue tau jelas visi-misi mereka (Compass) pengen membesarkan industrinya, pengen bikin keren, membesarkan jargon “Untuk Semua Orang” dan movement keren merakyat lain nya.  Menurut gue itu keren banget, belum banyak brand yang concern sama hal-hal kayak gitu.

Tapi akhirnya, waktu permintaan nya meledak dan mereka nggak bisa nanggepin, mereka mulai beralih. Mereka mulai beralih ke skena di luar visi awalnya. Mulai ke tren-tren hipster, temen-temen brand besar, menurut gue itu keren, tapi akhirnya gue ngeliat ternyata visi-misinya berubah begitu cepat. Mereka mulai mikirin suatu hal yang keren, bukan suatu hal yang mereka concern di awal. Hal tentang berbagi ke semua orang.

Nah gue sebagai orang yang tahu sedari awal dan punya effort ngebantu sedikit lah. Gue ngerasa cukup kecewa, kecewa banget sih. Sampai akhirnya gue ngeluarin statementstatement yang cukup offensive. Susah sih emang kalau misi di hadepin sama keuntungan. Gue nggak menyalahkan, cuman menyayangkan.

Lo sendiri dalam bermedia sosial punya visi-misi tersendiri dalam berpandangan ke suatu isu? Terutama dengan cara lo ber-kontra pada suatu masalah?

Gue nggak peduli sama traffic, jujur. Lucunya gini, banyak orang nggak menyadari, sebenernya si culture sneakers ini punya pandangan dari luar adalah sekumpulan bocah tajir yang ngumpul untuk ngabisin duit. Untuk pamer.

Lo bayangin dari culture lain contohnya skena graffiti ngeliat kita (streetwear) kayak “yaelah elo mah isinya cuman orang-orang berduit”. Dan sampai akhirnya gue ngerasa kayak yang gue perjuangin sejauh ini kok di pandang segini rendahnya dari luar. Gue punya effort sedikit yang kasih tau kalau kita bukan sekedar ngoleksi, kita bukan sekedar ngabisin duit. Kita making money, man. Kita merubah hidup. Kita ngasih insight ke orang-orang, memberikan pengetahuan baru. Gue pengen skena sneakers dan streetwear ini punya tahap yang cukup diperhitungkan orang. Tidak cuman jadi bahan ledekan doang sih. Bukan lagi cuma fashion, ini statement buat gue.

Dan waktu gue bilang pendapat itu orang bilang gue kayak anak kecil justru. “Norak lo, Kampungan, Bocah” . Hahaha. Lah gue punya platform, Pak. Karena gue berpikiran lebih dewasa, ya gue ngomong. Tapi akhirnya gue yang dibilang kayak anak kecil, kebanyakan ngomong lah, iri, bocah. Menurut gue itu suatu hal yang cukup kocak sih, ya itu resiko. Dan gue udah terpikir semua resikonya.

Gue tau suatu saat bakal ada orang yang pukul gue dari belakang. Terus kenapa? Gue nggak takut. Itu akan terjadi, ya udah. Itu adalah resiko yang harus gue bayar memang.

Pernah ada kejadian baku hantam di skena yang selama ini Lo jalankan?

Hahahaha. Man, gue bukan orang yang cuman omong doang. Tapi kalau sampai ada orang yang nantangin gue berantem, gue pernah kejadian sampe pukul-pukulan. Pernah.

Itu gara-gara apa?

Gara-gara gue kritik. Dia kayak cukup nggak terima, ngajak ketemuan, pukul-pukulan. Fair menurut gue. Tapi habis itu kelar. Gue juga nggak dendam, nggak apa, enough.

Terus pernah diancam pake surat kaleng, mau dimatiin. Pernah. Itu ada kejadian, ada suatu event besar yang gue kritik. Di-dead threat, pernah. Hari ini nih waktu kita mau shooting, ada yang mau dateng. Gue bilang “kalo punya biji dateng”, Dia mau nyamperin. Hahaha. Memang ada harga yang harus dibayar dan gue percaya hal itu. Gue nggak pernah takut sih.

Ok. Sampe kapan Lo mau ngejalanin industri ini?

Wah itu pertanyaan susah. Sulit sih, karena umur gue udah di atas 30 ya. Terus masih berpakaian seperti ini tuh. Hahaha.

Jawaban gue ya, gue bakal terus ada di industri ini kalau gue masih relate. Tapi kalau memang pendapat dan pemikiran gue udah nggak relate mungkin akan ada saatnya buat gue cabut dari sini.

Masih relate nya tuh seperti apa?

Jujur sneakers culture ini menurut gue fun nya udah hilang ya. Makanya pas fun nya udah hilang gue stay concern sama visi-misi gue. Jadi gue banyak berbicara di banyak platform dan acara sneakers kalau “gue nih, anak alay dari Jakarta Barat, yang nggak punya duit, tapi bisa ada di level ini karena sneakers”. Gue pengen orang-orang tahu kalau mereka punya mimpi. Nggak penting lo dari mana, nggak penting lo anak siapa. Lo bisa rubah jalan hidup lo itu dengan kesukaan lo, dengan kecintaan lo akan suatu hal.

Maksudnya gue cuma mau stay true kalau tiap orang punya visi dan gue sampe sekarang untungnya, gue masih sadar kalau gue masih ada di path gue. Gue masih ada di visi-misi gue dari awal. Gue berhutang banyak sama culture ini dan gue pengen bagikan kalau yang lain juga bisa.

Kepikiran untuk membuat brand sendiri?

Pasti ada sih. Gue pengen. Kenapa nggak gue lakukan karena ada beberapa faktor. Pertama adalah gue belum cukup belajar. Refrensi gue masih minim. Brand-brand yang gue sukai juga masih segmented.

Kedua, gue tuh tipikal orang yang tidak mau bikin sesuatu yang cuman sekedar laku. Gue pengen bikin sesuatu yang bagus, pengen bikin sesuatu yang bisa gue banggain. Itu part-nya.

Ketiga, kerja gue adalah mengkritik. Kerja gue adalah ngomong melalui beragam platform yang gue punya. Kalau ada brand yang minta gue review gue akan bilang “kasih gue yang se-sampah-sampah-nya”. Gue akan ngomong. Lo bayangin nggak gue punya brand, sementara gue kritik brand lain. Nggak etis. Itu lah kenapa gue sampe sekarang nggak punya brand. Ada faktor-faktor itu yang gue pikirkan.

Tapi bukan nya gue cuma mengkritik tanpa karya. Tapi justru gue tau placement gue di mana. Bulan depan gue akan rilis sebuah sneakers kolaborasi sama League. Dan itulah untuk pertama kalinya gue memberanikan diri untuk coba gambar sesuatu, dibantu sama designer mereka. Sampai akhirnya lahir sepatu basket yang jujur menurut gue pribadi, gue nggak bisa bilang ini bagus atau jelek. Tapi at least ini adalah suatu hal yang true dari gue, yang bener-bener gue buat dan bisa gue banggakan. Untuk gue pribadi.

10 tahun ke depan, akan seperti apa industri ini menurut Lo?

Hahaha, anjir. Industri itu dimulai dari trend, lalu membesar jadi path dan akan pecah bubbling. Itulah sirkulasi sebuah fashion ya mungkin kita bisa bilang. Sekarang menurut gue kita udah di posisi yang kedua. Udah kegendutan. Udah terlalu banyak. Akan ada momentumnya di mana orang udah fucked up sama semua ini. Karena udah terlalu banyak.

10 tahun ke depan akan masih ada apa enggak? Pasti masih ada. Itu lah sirklus. Tapi gue yakin seratus persen, 10 tahun ke depan akan lebih gokil 10 kali lipat dari hari ini. Tapi mungkin tiga-empat-lima tahun setelahnya mungkin akan hilang sementara. Itu sih menurut gue.

Berarti salah dong “Streetwear is Dead” menurut Virgil Abloh?

Even Virgil, dia nggak punya capacity untuk ngomong itu. Karena dia bukan bikin streetwear kan. Karena streetwear nggak bener-bener mati. Jelas-jelas esensi streetwear, jalanan. Aktivasi yang ada di jalanan. Misi yang ada di jalanan. Streetwear lahir dari punk, dari generasi punk. Statement mereka untuk menolak kemapanan, jangan ganggu kami. Apakah punk hilang sampai sekarang? Enggak. Punk tetep ada, yang bikin rusak adalah elemen-elemen lain yang coba ngambil keuntungan dari itu. So, streetwearnggak pernah mati. Bakal tetep ada orang yang percaya akan aktivasi-aktivasi jalanan. Akan ada banyak orang yang lahir baru dan peduli sama jalanan. Streetwear tidak akan pernah mati selamanya.