Membongkar Isi Kepala Pemuka Grunge Nusantara: Che Cupumanik

Pria ini bernama asli Candra Hendrawan Johan. Ia dikenal sebagai nama besar dalam wilayah grunge nusantara. Frontman Cupumanik yang kerap disapa Che tersebut, terlalu mahir dalam menciptakan syair lagu dengan pesan yang mendalam. Selain itu, Pria beranak dua ini juga mengeluarkan hasrat bermusiknya bersama Konspirasi. Kami berkesempatan mengenal lebih cair sosok yang banyak andilnya dalam hikayat musik grunge tanah air.

Kesibukan Anda sekarang seperti apa?

Cupumanik lagi mau bikin konser akustik. Dari sekian banyak konser yang berisik, tiba-tiba kami (Cupumanik) mikirin ada single baru yang rilis pas Hari Anak Nasional kemarin, judulnya “Doa yang Terjawab”. Itu lagu yang kami buat untuk anak-anak kami. Kami merasa kalo lagu ini lebih cocok lagi dibawakan secara akustik. Cupumanik mencoba bikin konser yang berbeda, rencananya kami mau bikin konser di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Konsernya ini lebih ke perayaan single atau gimana?

Sebenernya karena pemicunya lagu “Doa yang Terjawab” itu ya, jadi kami mau konser yang berbeda. Kami mencari konsep yang engga berisik, jadi kayak MTV Unplugged lah gitu.

Memang udah bosen sama konser yang berisik atau gimana?

Engga juga sih, Cupumanik tuh punya nomor-nomor yang sendu gitu, lagu-lagu yang sepi. Beruntungnya Cupumanik tuh punya lagu yang marah, tapi ada juga yang kontemplatif. Jadi sayang banget kalo lagu kontemplatif itu tidak punya ruang untuk mengekspresikannya.

Nah menarik nih, Cupumanik kan identik dengan grunge, mengapa lagu-lagu Anda bisa memiliki pesan mendalam dan dekat dengan ranah spiritual?

Sebenarnya berawal dari renungan filosofis diri sendiri, mau engga mau kita pengen nyari jawaban yang akhirnya menyentuh sisi spiritual. Karena kalau kita mencari kebenaran lewat diri sendiri, kita engga akan nemu ya. Maka dari itu, sisi spiritual itulah yang saya cari, dan itu semua ada di beberapa lagu Cupumanik. Contohnya seperti Syair Manunggal, Maha Rencana, memang ada perenungan ke situ, jadi ditumpahkan ke dalam lagu. Kadang ada yang nanya, “sebenernya Cupumanik bicara soal apa sih?” Ya bicara alam, yaitu alam pikiran. Jadi sebenernya kita ngulik lagu di tataran ide pencerahan. Pencerahan untuk renungan diri sendiri, untuk kami para personil Cupumanik. Sampai label rekaman kami waktu itu bilang “Che, lagu lo tuh berat, yang ngerti cuma lo sama malaikat doang.” Tapi mereka salah, buktinya kita berhasil menciptakan penggemar yang ngerti lagu-lagu kami.

Anda juga tergabung dalam Konspirasi, yang mana band itu juga beraliran grunge. Apa yang membedakan Cupumanik dengan Konspirasi?

Menurut saya kalau Konspirasi punya warna yang cenderung ke metal ya. Pilihan sound-nya tuh lebih ke metal. Jadi lebih mesra grunge dan metal di Konspirasi. Kalo Cupumanik lebih ke stoner, punk gitu. Jadi bedanya tuh lebih ke musikal, kalau secara lirik masih sama seperti saya di Cupumanik.

Anda kan sudah lama berkecimpung di skena grunge. Ada perbedaan signifikan dari segi industri, skenanya seperti apa sekarang?

Saya masih percaya diri kalau grunge lokal bisa maju. Kalau ada yang bilang musik ini engga bisa maju tuh berarti dia engga bisa melihat kenyataan. Grunge lokal udah ngasih sumbangsih yang signifikan. Contohnya kayak band mana sih yang belum pernah main di TV nasional? Semua udah main di TV nasional. Atau band grunge mana yang belum tampil di festival internasional? Semuanya udah main juga. Jadi indikasi grunge bagus sudah ada sebenarnya. Yang paling penting sebenarnya harus ada regenerasi. Band-band baru harus bermunculan, mereka harus mengeluarkan karya yang bagus. Jangan sampe orang liat band grunge itu-itu lagi. Saya sempat senang ketika Dul anaknya Ahmad Dhani bikin band grunge namanya Backdoor. Dari situ saya melihat sebenarnya regenerasi grunge ini berjalan. Itu yang saya butuhkan.

Apakah anda melihat fenomena band-band baru beraliran grunge sedang bermunculan?

Iya, ada. Itu terbukti dengan adanya kompilasi di mana-mana. Kompilasi grunge Indonesia dari berbagai kota. Tapi balik lagi, kualitas itulah yang harus dikejar. Sekarang sulit ya untuk mengatakan kalau band grunge itu ada, itu aja engga cukup. Kita butuh karya yang bagus, yang bisa diterima masyarakat banyak untuk bisa angkat bandnya dan grunge itu sendiri. Regenerasi itu ada kalau adanya rilisan fisik atau digital dari band grunge baru. Hanya sekarang pertanyaannya jangan hanya muncul, harus ada kualitas dan memunculkan perhatian. Bicara soal industri mau engga mau sekarang harus ikut digital, engga bisa kalau cuma rilis fisik aja. Sekarang orang merasa kalau rilis fisik itu engga perlu. Yang paling parah, kalau kita engga rilis dalam digital dianggap tidak ada.

Saya tertarik dengan kegiatan Kawanan Tukar Pikiran yang anda buat, seperti apa sih kegiatan itu?

Saya sadar bahwa Cupumanik ini band komunitas. Kita berhasil menciptakan komunitas. Era sekarang kita engga boleh mendiamkan orang-orang yang berkomentar. Kalau sampai mereka (fans) berkomentar, berarti band kita sepenting itu. Di Instagram saya membuka diskusi dengan follower. Itu penting banget untuk mengikat mereka. Kawanan Tukar Pikiran ini menjadi wadah untuk mendekatkan diri ke follower. Saat ini kan hidup kita dikuasai oleh chat singkat. Komunikasi manusia begitu sekarang. Tapi, pertemuan tatap muka secara langsung masih penting. Dari dulu Cupumanik sudah membentuk Klub Ngobrol Interaksi Hati. Itu hadiahnya gede banget, dan mereka jadi fanatik. Sebenarnya Kawanan Tukar Pikiran ini kelanjutan dari Klub Ngobrol tersebut. Kita ngumpul di GBK pintu lima, kita cari tempat untuk ngobrol aja gitu. Ini terbuka untuk umum, engga hanya untuk Cupumaniak atau anak grunge aja.

Saya lihat Anda juga aktif menulis di Super Music, seberapa jauh keterlibatan Anda disana?

Ya saya termasuk special author di Super Music. Dan di DCDC (djarumcoklat.com) saya juga diminta untuk menulis. Intinya saya menulis tentang musik dan sikap bermusik. Salah satu contohnya saya pernah menulis tentang “Jadilah Tukang Nyontek yang Baik”. Saya mengajak untuk berpikir bahwa terlalu naif untuk membahas originalitas saat ini. Saya mengutip beberapa rockstar sekaliber David Bowie dan Kurt Cobain. Mereka itu pencontek yang ulung. Keduanya mengolah sesuai dengan seleranya, itu engga salah. Pembahasan inilah yang menjadi salah satu tulisan saya, dan ini menjadi artikel yang banyak dibaca. Selain itu waktu Chris Cornell wafat, saya juga menulis tentang ada apa grunge dengan bunuh diri. Saya juga menulis tentang itu. Banyak sekali yang saya tulis di Super Music.

Kalau tidak salah Anda juga pernah menulis sebuah buku?

Sebenarnya bukan saya yang menulis, ada penulis namanya Eko Wusthuk, dia ini dari Litbang Kompas. Dia menulis tentang bagaimana cara saya menulis lirik. Jadi buku itu punya dua sisi, Sisi A itu saya, dan Sisi B nya itu Robi Navicula. Robi dan saya diulik bagaimana sensitivitas kami dalam menulis lirik. Judul bukunya “Rock Memberontak”. Saya sendiri ditantang untuk menulis buku, dan itu menjadi target saya berikutnya.

Kalau Anda diberi kesempatan untuk menulis buku, Anda ingin menulis tentang apa?

Sebenarnya banyak ya idenya, ada yang ingin menerjemahkan lirik Cupumanik dan Konspirasi dalam satu buku. Atau mengkompilasi semua tulisan saya yang telah ada, itu bisa jadi satu buku sendiri sebenarnya. Ada satu vokalis band indie yang cukup besar, tiba-tiba dia chat ke saya seperti ini. “Che, lo jangan kaget ya, sebenarnya secara diam-diam gue capture semua omongan lo di sosmed. Gue pengen jadiin lo buku nih.” Saya yang kayak wow, dia niat banget sampe capture semua omongan saya dan dikumpulkan secara rapi. Saya belum nulis nih, dan udah ada orang yang punya ide seperti itu. Saya geleng-geleng sih pas tahu itu. Hahaha.

Selain itu yang saya dengar Anda juga melakukan proyek solois ya?

Marcell kan jadi produser saya, dia yang menawarkan diri. Lagu Dunia Orang Dewasa kemarin yang jadi co-producer itu Ian vokalis dari Zat Kimia. Waktu di Bali dulu saya garap proyek ini dan memang Marcell yang jadi produser, lalu Ian jadi co-producer di lagu Dunia Orang Dewasa, yang dirilis 30 Juni kemarin pas saya ulang tahun. Saya persembahkan sebagai hadiah ke orang-orang. Nah proyek ini harus lanjut. Sebenarnya saya punya lagu yang nuansanya biru. Istilahnya kalau Cupumanik dan Konspirasi kan warnanya merah, engga cocok gitu. Ada lagu-lagu saya yang kayanya kalo diulik engga cocok di Cupumanik nih. Sayang kalau cuma terkumpul di komputer.  Sebenarnya beberapa lagu secara kasar sudah direkam di studionya Marcell, baru satu ini yang direkam secara proper. Mudah-mudahan segera lanjut untuk single dan pengennya jadi album. Saya juga beberapa kali tampil sendiri. Atau jadi pembicara di KPK itu sayajuga tampil secara solo.

Nah saya tertarik dengan KPK, apa yang anda lakukan dengan lembaga yang satu ini?

Saya diajak orang KPK, mungkin mereka melihat lirik lagu Cupumanik dan Konspirasi yang peduli dengan isu korupsi. Di Konspirasi saya membuat lagu judulnya “Koruptor.”. Kalau di Cupumanik judulnya “Luka Bernegara”, yang menceritakan kekesalan saya pada politisi saat itu. Mungkin KPK melihat itu, dan lirik saya sejalan dengan misi mereka. Akhirnya saya tur ke beberapa kota seperti Cirebon, Medan, Bandung untuk mengajarkan bagaimana caranya menulis lagu bertema anti korupsi. Dalam pertemuan itu, pada hari itu juga mereka yang ikut acara ini harus membuat lagu. Mereka membuat lirik dan dijadikan lagu di hari itu juga. Ujungnya KPK akan membuat festival anti korupsi judulnya “Suara Anti Korupsi”. Dari situlah saya menjadi juri.

Terakhir, saya lihat anda sempat concern dengan isu politik. Adakah pesan untuk Indonesia hari ini?

Belakangan ini juga udah terekam di lagu Mantra Provokasi milik Konspirasi. Saya terinspirasi dari tulisan Nurkholis Majid, beliau menulis tentang “Jangan Jual Murah Ayat Tuhan”. Dari artikel itu saya tulis menjadi lirik lagu. Mungkin ini masih relevan, kita melihat gonjang-ganjing pilpres kemarin cukup ramai ya. Semua dipakai gitu, agama dipakai, ayat dipakai. Pada ujungnya semua gabung di satu kubu, yang jadi panutan mereka juga bergabung di satu kubu juga. Jangan gitu-gitu banget lah. Lagu Mantra Provokasi jadi salah satu lagu yang menyentil soal politik. Mudah-mudahan Indonesia lebih damai dan terbuka, lalu bisa menerima perbedaan. Karena kita yang rugi kalau terpecah-belah.