Murphy Radio: Grup Math Rock/Post Rock Pertiwi Terbaik Versi Kami Dalam 1 Dekade Terakhir

Murphy Radio menjadi senyawa baru musik instrumental persada dalam 5 tahun terakhir belakangan ini. Meski di beberapa tembangnya ada selipan nyanyian, namun grup asal pulau Kalimantan ini merupakan contoh yang baik bagaimana menyajikan sekaligus menampilkan bebunyian lagu-lagu instrumen secara bagus dan benar. Wendi (gitar) dan Aldi (bas) memberikan dedikasinya seluas hati dan penuh tanggung jawab terhadap karya-karya Murphy Radio.

Bagaimana ‘menikahkan’ visi Wendra dan Aldi, sehingga timbul konsep seperti yang tertuang dalam lagu-lagu kalian?

Wendra: untuk Murphy Radio, sebenarnya ada kayak landasan atau semacam benang merah dalam materi-materi yang dibuat, tapi awal mulanya harus ditentuin dulu jalan tengahnya. Dalam arti memilih genre beserta warna musik seperti apa yang mau dimainkan, setelah ketemu jalan tengahnya, masing-masing personil mulai menyesuaikan line atau tunning gitar dan bass-nya, tapi tetep dengan karakter bermain masing-masing.

Aldi: Sejauh ini kita memposisikan Murphy Radio sebagai wadah untuk eksplorasi, dengan begitu kita mengurangi batasan batasan untuk ngeluarin apa yang kita punya (referensi) dan jadilah lagu Murphy Radio.

Jika diilustrasikan dan diidentikan dengan fashion, Murphy Radio itu ibarat pria yang bagaimana, dan brand-nya apa?

Wendra: Saya memvisualkan pria dengan menggunakan overall dan pullover hoodie di dalamnya, pake kacamata dan beanie, atau polo longsleeve warna warni dengan celana pendek dan allstar merah, brand nya Carhartt, Polo atau Wtaps.

Adakah film atau serial yang mempengaruhi lagu-lagu kalian?

Wendra: Hampir mayoritas lagu-lagu Murphy Radio terinspirasi dari scoring di tiap film besutan Ghibli Studio dan film-film anime asal negeri matahari terbit.

Aldi: Kalau film saya belum ada.

Seberapa loyal cinta kalian terhadap kota Samarinda?

Wendra: Tidak loyal-loyal amat. Karena rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau.

Aldi: Kalau untuk mengukur loyalitas mungkin bisa dilihat dari kami belum pindah kota sampai sekarang, walaupun banyak banget yang nawarin, hehe. Tapi lebih dari itu kami coba juga dengan support teman-teman semudah mengenalkan mereka melalui sosial media atau berbagi pengalaman.

Untuk Wendra, apa yang membuat Anda begitu bergairah untuk bermain gitar seperti yang kami lihat dan dengarkan dari lagu-lagu Murphy Radio

Wendra: Karna kalo kata Jack Black di Nacho Libre, “beneath the clothes we find a man, beneath the man we find a nucleus”, jadi dalam lagu-lagu Murphy itu ada story-nya, dan waktu lagu itu dimainin, itu kaya bergetar nucleusnya.

Buat Aldi, bagaimana memposisikan diri Anda sebagai ‘pasangan’ Wendra? Karena jika salah satu dari kalian, semisal, amit-amit, meninggalkan Murphy Radio, maka kami rasa band ini detaknya akan berhenti

Aldi: Ada beberapa step yang saya lakukan karena materi Wendra cukup jauh dari band yang biasa saya ulik. Yang pertama, kosongin pikiran. Jadi bisa bener bener dengerin dan memahami materinya. Kedua, standar. Dengarkan referensi yang dia dengerin waktu bikin materi. Yang ketiga memahami ciri khas ritmis Wendra. Jadi di lagu berikutnya sudah bisa improve tanpa merusak materi. Ritmis wendra biasanya pakai pholy rhythm, antara 4/4 sama 3/4 atau 3/4 sama 7/8.

Di mana lagu-lagu Murphy Radio direkam? Karena kami mendengarkannya proper sekali. Lalu siapakah sound engineernya?

Di samarinda, tepatnya di Backstage Studio. Dan sound engineer nya mas Ari Wardhana tercinta, gitaris/vokalis dari band Kapital.

Di daerah kalian sendiri, adakah komunitas yang memainkan lagu-lagu seperti Murphy Radio? Dan, sebelum band ini berdiri, apakah di Samarinda juga sudah ada band seperti kalian?

Wendra: Sebelum Murphy Radio itu sebenarnya ada kayak semacam year of post-rock di Samarinda, di mana pada tahun itu post-rock dan instrumental kaya lagi rame gitu. Terus 2017-an pernah ada band instrumental math rock yang biasa cover lagunya Uchu Conbini, yang pada akhirnya drummer mereka bantuin Murphy Radio sekarang.

Aldi: Kalau komunitas sejauh ini belum ada, tapi sempet ada band yg muncul kurang lebih setelah Murphy Radio, namanya PAW, tapi sekarang udah gak ada lagi.

Seperti apa Murphy Radio melihat musik Indonesia hari ini?

Wendra: Senantiasa ciamiikk!!

Aldi: Wah berat juga ini. Kalau musik, Indonesia udah pasti makin ke sini kian variatif, hanya saja mungkin masih ada yang belum terekspos.

Seperti apa Murphy Radio melihat musik Indonesia masa lalu?

Wendra: Mungkin permusikan era band-band yang ada di Those Shocking Shaking Days, itu menurut saya era di mana musisi-musisi punya pemikiran yang futuristik dan visioner dalam bermusik serta berkarya mungkin.

Aldi: Musik di masa lalu itu menurut saya benar benar dibuat dari hati, lines vocal-nya selalu terngiang, dan progresi chordnya diluar nalar. Interpretasinya juga sesuai, entah di ranah major atau independent, seperti Padi atau Dewa misalnya.

Foto: Dokumentasi Murphy Radio