Menyingkap Permukaan Gabber Modus Operandi

Gabber Modus Operandi merupakan sesuatu yang tak bisa diprediksi, selalu memiliki turunan pemikiran yang memancing cakrawala mereka dalam beropini, berkesenian, hingga menjalani hidup melalui cara yang mengejutkan sekaligus menarik untuk dibedah. Sambutlah; Ican dan Kasimin!

Referensi Gabber Modus Operandi?
Ican: Kajian ilmu Antropologi mencakup budaya dan sub budaya nusantara dalam mengartikan dan menggunakan teknologi di setiap era dan zamannya.

Kas: keseharian yang Meta, rekontekstualisasi budaya, improvisasi ria kaum marginal bersinggungan dengan teknologi, kebosanan inferioritas jadi abdi post-koloni dan pengambilan alih lantai dansa sebagai safe space untuk semua.

Kok bisa satu visi untuk memainkan aliran gabber? Gimana mulainya?

Ican: Kami tidak memainkan aliran Gabber, atau genre yang spesifik, cita rasa keras campur aduk yang kami presentasikan tidak bergantung dengan citra aliran musik, Gabber secara harafiah bisa di artikan “semeton” atau “barudak” atau “kedan”. Gabber di cantumkan di nama GMO itu terinpirasi dari kelompok seni kontemporer asal Jogja Geber Modus Operandi, dan suara motor yang digeber.

Post Rock, Post Punk nah ini Post Alay, ada apa dengan Post Alay?

Ican: Prediksi dan pengandaian budaya alay masa depan, dan gak layak juga disandingkan dengan postrock dan postpunk.

Unggahan-unggahan kalian di sosial media selalu meninggalkan senyuman, karena berisi kegiatan-kegiatan random rakyat biasa yang terkadang menjadi candaan orang-orang di kota besar, kenapa kalian lebih fokus ke situ? Apakah itu bisa dibilang mengkurasi shitposting sehingga menjadi lebih “art” gitu?

Ican: Kami tidak mengkurasi dan menyebutkan unggahan social media kami “shitposting “ apalagi “art” , yang kami unggah adalah realita keabsurdan budaya dari berbagai Nusantara yang dikirim oleh teman teman kami.

Kas: “Art” nya di mana? Ini cuma sudut pandang kalau nun dalam hati kami, subjek yang kami tampilkan jauh lebih keren dari patokan keren itu sendiri. Lebih legowo menikmati identitas dan luwes beradaptasi dengan apa yang dipunya.

Pernah ada kejadian unik atau aneh ngga pas manggung? Mengingat aksi panggung kalian selalu ajaib dan mungkin “baru” bagi sebagian orang.

Ican: CDJ mati di tengah tengah performa karena kabar mistik yang kami kelola, terjadi di Sydney, Soft Centre festival.

Kas: tahun 2019 Di Uganda, setelah manggung saya dipeluk seorang seniman kulit hitam asal Kenya sambil bilang, “I don’t know who you guys, i don’t see the list but you guys spoke to me in so many levels”. Menyenangkan jarak 10.000 km bisa bikin abstraksi seperti ini.Jakarta di Gig nya Studiorama, kami dapat beberapa kiriman video kalau beberapa penonton joget Jathilan sampai kesurupan. Yesss!

Kami mau bahas sedikit tentang beberapa waktu lalu sebelum pandemi, bagaimana perjalanan Gabber Modus Operandi sampai menjadi salah satu line up Boiler Room, di Nyege-Nyege Festival Uganda?

Ican: Itu berkat obrolan ngalor ngidul di belakang panggung bersama crew Nyege Nyege Tapes pasca kami perform perdana di CTM Festival di club Berghain, Berlin awal 2019. Setelah basa basi dan berbagi keresahan yang sama, dibantu dengan DISK Agency dan institusi budaya Goethe Institut, kami pun berjumpalitan di Uganda.

Kas: Acak, di CTM FESTIVAL 2019 kami bermain bersama MCZO & DUKE asal Tanzania asuhan Nyege-Nyege Tapes di Berghain, jumpa di backstage pawangnya dua orang sekaligus kurator Nyege-Nyege langsung bilang, kalian harus terbang ke Uganda! Kami pikir becandaan, hahah, tapi eh beneran. Ini berkat jaringan Nusasonic – CTM Fest – Nyege-Nyege dan Boiler Room.

Scene di Uganda itu seperti apa sih?

Ican: Yang pasti mereka lebih semarak, dalam artian produksi, presentasi dan hal hal subtansi.

Kas: Struggling seperti kita, bahkan secara piranti dan infrastuktur jauuuh dari kita. Kampala hanya punya 4 CDJ hahah! Tapi urgensi mereka untuk bikin karya jauh dari Skena manapun yg saya tahu yang perlahan menjadi Hub Afrika Timur, Tengah dan Utara bukan karena party atau DJ nya saja, tapi dari Produser-produser mudanya mulai menggeliat ngasih produksi segar yang punya akar juga berjaring luar biasa. Nama eklektik seperti Slikback, MC Yallah, Otim Alpha, Kampire, Fulu Muziki dan lainnya hanyalah sedikit nama dari sekian banyak. Yang menarik Adalah jaringan Nyege-Nyege sebagai sanggar kolaborasi seimbang tanpa embel-embel etnik, appropriasi apalagi silau dengan Skena US atau EU.

Bagaimana Kalian melihat scene disko Jakarta dan Bali hari ini? Cukup variatif kah? Atau ada perbedaan antara scene Bali dengan scene orang Jakarta yang hijrah ke Bali?

Ican: kami kurang mengerti skena Jakarta karena jarang juga main ke ibu kota , apalagi sampai menjajal klab klab malamnya. Selagi dugem hanya sebagai alat untuk bersenang senang, pasti tidak menarik untuk dibahas.

Kas: Biasa aja, jujur saya tidak begitu ngerti “disko”. saya melihatnya masih seputar hedonisme bercampur retrospektif. Banyak romantisme tentang “Dahulu” dan “proper” apalagi sampai ke konteks budaya Vinyl, yang jujur aja kemahalan dan merepotkan buat saya. Haha. Saya lebih tertarik ke percobaan-percobaan futurisme swadaya seperti appropriasi Cyber sound Wisisi di Papua atau Next Penceng Sumatra.

Tahun ini mestinya kalian adalah orang Indonesia pertama yang menjadi line up di Primavera, itu bagaimana ceritanya sampai kalian bisa berada di line up itu?

Ican: Agensi kami di Berlin memang hebat. Ohya, festivalnya diundur tahun depan.

Kas: Wah ndak tau, itu di luar dan bukan target. Sebenarnya target kami cuma pengen bisa main di CTM, Unsound, Dark Mofo serta Nyege-Nyege, dan semua sudah terpenuhi. Tahun ini jujur saya pribadi lebih tertarik main di sebuah acara bernama Tremor di kepulauan Azores – Portugal, di tengah Samudra yang paling dekat segitiga Bermuda yang kebetulan jadi gig pertama yg dibatalkan karena pandemi ini.

Seperti apa Gabber Modus Operandi menyikapi Pandemi?

Ican: Bikin dugem online

Kas : Tawakal dan bercocok taman. Lah wong kami Ndak ngerti medis dan politik ya mending di dapur ngeracik yang kami tahu.

Apa saja album favorit bagi Kasimyn dan Ican Harem?

Ican: The Upstairs Matraman
Dom 65 secret warehouse
Bvrtan Pemuja Sawah Tebu
Metalik Klinik I
Slipknot “Welcome to Our Neighboorhood”

Kas : banyak, tapi setahun ini : semua rilisan Fire-Toolz, Girl Band – The Talkies, Zoo – Kawagakha, Metal Preyers – Metal Preyers, Jay Mitta x Sisso X Modern institute x Errosmith – At The Villa, An Albatross – Return of the Viking Lazer, Tigran Hamasyan – They say nothing stay the same (OST)

Selain video-video debus dan aneka budaya mistikal rakyat, adakah film-film yang memengaruhi musik Gabber Modus Operandi?

Ican: CALLING NEW GODS BY VINCENT MOON DAN SENYAWA, WOZA TAXI CRUDO VOLTA RADIO

Kas : Malam satu suro dengan semua Low budget kengeriannya. Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives – karya Apichatpong Weerasethakul dengan kewajaran absurdnya.

Ngomong-ngomong bagaimana ceritanya sampai ikutan Re-Imagine ini?

Ican: mungkin karena kami hokinya bagus, rejeki ada terus, sampe sampe Re-Imagine ngundang.

Nanti kan akan ada kolaborasi GMO dengan Rimbawan Gerilya dan Siko Setyanto di Re-Imagine ini, bagaimana persiapannya dan akan seperti apa kira-kira? Soalnya setelah pertama kalo di San Fransisco, ini pertama kalinya di Indonesia ya?

Ican: Persiapan kami hanya pertebal kuota internet saja.

Kas : Sebenernya Rimbawan dan saya berteman sudah lama sekali, sewaktu saya masih aktif di dunia grafis, satu studio bareng malahan! tapi tak pernah punya kesempatan untuk menggarap sesuatu yg spesifik dan meta seperti ini. Siko juga datang dengan organik (orang pertama dan kelompoknya) yang memakai tembang kami untuk tarinya. kami punya minat mutual yang sama namun disiplin yang beda. Ya, kalau jodoh mah gak ke mana. Hahah.


Foto: Gabber Modus Operandi