Menjadi Disko Bersama Diskoria

Beberapa tahun terakhir, dunia malam di Ibu Kota mendapat penyegaran kembali pada gelaran pesta. Melawan kejenuhan terhadap EDM, kini klub-klub diramaikan dengan nada-nada disko khas era 80 90-an. Sebut saja, tembang karya Fariz RM, Alm. Chrisye, Guruh Soekarno Putra, dan lainnya menjadi primadona klub-klub kekinian. Tentunya tren ini tidak begitu saja bergulir kembali di permukaan, ada aktor yang berkontribusi untuk mempopulerkan musik yang catchy ini. Salah satunya adalah Diskoria. Duo DJ yang digawangi oleh Fadli Aat dan Merdi Simanjuntak ini mengusung misi untuk menularkan virus disko melalui setlist yang mereka bawakan. Mereka mencoba mendobrak tradisi klub-klub yang melarang DJ untuk memutar lagu-lagu Indonesia. Saya pun berkesempatan mewawancarai salah satu dari mereka, Merdi Simanjuntak. Melalui bincang-bincang ini, saya melisik bagaimana musik disko kembali kuasai klub-klub di Jakarta.

Anda memiliki background musik yang sebenarnya bukan disko. Apa sih yang membuat Anda tertarik untuk bermusik di genre ini?

Sebenernya saya punya kecenderungan untuk explore macam-macam musik dari lama. Dulu ketika explore band-band-an, sebenernya saya di rumah juga sambil denger kaset-kaset lama punya Bokap kayak Beach Boys sampai ke Lou Rawls gitu-gitu. Ketika akhirnya bisa sampai ke disko, itu awalnya dari ngulik history band-band-an yang saat itu saya dengerin macam indie/dream pop/britpop dan yang lainnya. Dari band-band itu saya pelajari akarnya, yaitu new wave/post punk/synth pop dan lain-lain. Dari situ ternyata ada akar lainnya, semacam hybrid antara post punk/new wave dengan disko, yaitu mutant disco gitu-gitu. Dan ketika ditarik lebih jauh lagi akhirnya saya bertemu dengan musik disko macam Salsoul Records, Paradise Garage. Kenapa saya bisa langsung kena? Karena saya sudah ada sejarah ngulik kaset-kaset Bokap, jadi ketika dengar kayak familiar aja. Ditambah waktu kecil saya juga sering denger lagu-lagu classic disco diputar di tape mobil tante saya, jadi bisa langsung relate.

Nah, kalau dilihat saat di Diskoria, Anda lebih memilih memainkan lagu Indonesia ketimbang lagu barat. Se-seksi apa sih lagu Indonesia menurut Anda?

Kebetulan saya dan Aat memang mengkoleksi piringan hitam lagu-lagu pop Indonesia, dan misi dari Diskoria memang memutarkan lagu-lagu Indonesia untuk kebutuhan wisata dansa orang-orang, istilahnya seperti itu. Kami bukan melihat seksi atau bagaimananya. Kami awalnya kayak concern aja, kenapa orang-orang cenderung nggak mau clubbing dengan playlist lagu Indonesia, malahan ada semacam kebijakan untuk “melarang” DJ memainkan lagu-lagu dari musisi dalam negeri. Alasannya mungkin dianggap ketinggalan zaman. Kami (saya dan Aat) membuat Diskoria lebih untuk menunjukan kalau orang Indonesia juga pada akhirnya menyukai karya seni lokal dan bisa jadi pilihan. Kami juga punya keinginan jangan sampai playlist lagu Indonesia selalu kalah dari playlist lagu barat.

Secara nggak langsung larangan untuk memainkan lagu Indonesia tadi yang membuat Anda membentuk Diskoria yah?

Iya, trigger-nya ketika tahun 2008 saya main di Centro Club Dharmawangsa di acara Turn On Plastic, menggantikan teman saya Hanin (Aksara Records) yang saat itu harusnya nge-DJ tapi nggak bisa karena sakit. Saat itu, di DJ booth-nya ada tulisan “Please Do Not Play Indonesian Song Or You Will Be Banned!!” Kertas itu saya foto dan saya simpan di folder ponsel. Fotonya juga sempat saya posting di akun Instagram Diskoria juga. Sejak saat itu saya selalu kepikiran “emang lagu Indonesia kenapa ya?”

Berarti Diskoria secara nggak langsung ingin mendobrak tradisi yang ada di klub-klub pada saat itu?

Iya benar, tapi nggak mikir bakal sampai seperti ini juga. Awalnya mau nunjukin aja kalau disco party pakai lagu-lagu Indonesia semua juga bisa, jadi orang yang sepikiran sama kita bisa ikutan party bareng. Tapi akhirnya bisa jadi kerjaan full time kayak sekarang gini. Nggak kepikiran awalnya, hahaha.

Wah menarik! Bisa jadi penghasilan juga lewat Diskoria ini. Berarti respon dari audience positif yah dengan musik dan setlist yang dibawakan oleh Diskoria?

Iya bener banget. Sejauh ini sangat positif sih, kita jadi bisa main ke macam-macam kota dan macam-macam acara. Mulai dari promnight SMP-SMA, Pensi, acara kampus, sampai acara kantor dan reunian orang tua juga pernah. Range umurnya luas juga untuk audience-nya. Malah pernah ada beberapa kali orang tua yang clubbing bareng anaknya di gig Diskoria, jaman dulu mana pernah kan, hahaha. Lalu bisa main keluar negeri juga, seperti ke Jepang, Korea dan akhir September ini ke New York.

Wah keren banget! Boleh dibilang Diskoria jadi salah satu musisi lintas generasi dong yah?

Mungkin lebih pas nya pemandu cakram lintas generasi. Hahaha.

Nah ini cocok haha! Oh iya, Anda juga terlibat di Suara Disko, bagaimana movement-nya dan apakah masih berlanjut?

Iya Suara Disko masih ada kok, memang belum aktif banget lagi karena satu dan lain hal. Tapi dalam satu bulan ke depan akan ada announcement event dari Suara Disko.

Balik lagi ke Diskoria. Saya lihat Diskoria pernah berkolaborasi dengan Fariz RM. Apa sih yang mendasari kolaborasi itu?

Karena kita sebagai fans aja sih, terus awalnya ingin meminta izin bikin remix atau re-edit lagu Om Fariz. Setelah ketemu dan ngobrol-ngobrol, akhirnya malah diajak kolaborasi sama dia untuk format live PA.

Kalau dilihat pas Live Session-nya sepertinya respon dari audience cukup baik ya, dan banyak juga generasi millennial yang kelihatan nonton live-nya juga.

Iya banget. Om Fariz sampai bilang begini pas di Interview pasca event itu. “Lagu Sakura gue ciptain untuk suasana kayak gini nih (orang sing along loncat-loncat, joget-joget) cuma baru tercapai sekarang yang energinya bisa seperti ini”. Yang dateng memang umurnya banyak yang lebih muda dari anak-anak Om Fariz sendiri. Setelah itu Om Fariz dan band The Anthology nya juga sempat diundang main di beberapa pensi, padahal sebelumnya bisa dibilang tidak pernah main di pensi. Jadi nggak mesti dengan Diskoria format presentasinya. Dengan format live dia yang diiringi oleh musisi-musisi senior pun bisa diterima sama anak-anak muda sekarang.

Wah asik banget! Berarti semenjak kolaborasi itu, Fariz RM dan Band-nya eksis lagi yah?

Band-nya sih sebenernya ada terus, cuma muternya di sirkuit yang beda aja, beneran di acara tembang kenangan dan reuni-reuni aja. Jadi setelah kerja bareng, masuklah ke ranah audiens yang lebih muda lagi.

Selain Fariz RM, ada musisi lain yang jadi “ruh”nya Diskoria?

Rata-rata adalah orang-orang yang terlibat di pengerjaan album soundtrack film “Badai Pasti Berlalu” alm. Yockie Suryo Prayogo, alm. Chrisye, dan Guruh Soekarno Putra.

Oh gitu, mereka yang eksis di era 80’an yah yang jadi referensi di Diskoria?

Mostly iya, karena era itu banyak musisi Indonesia yang mulai memasukkan influence disco di karya musik pop nya, jadi kena dengan estetika disco party yang ada di konsep Diskoria. Untuk musisi 90-an juga ada kok, seperti Rieka Roeslan dari The Groove dan band Groove Bandit (alm. Igor – ayahnya Derby Romero dan Mas Budi PM), karena mereka bisa bikin musik house dengan lirik Indonesia.

Setelah single Balada Insan Muda kemarin, apakah Diskoria berniat untuk membuat album?

Album ada di plan jangka panjang, plan jangka pendek lebih akan keluarin singlesingle lagi dulu. Mungkin setelah kita launch empat single, baru kita akan launch album yang berisi empat single tersebut ditambah beberapa lagu lainnya yang mendampingi sampai memenuhi kuota album penuh.

Kalau saya perhatikan, lagu 90-an sering masuk di setlist Diskoria sekarang. Apa alasannya?

Kita sih yang penting beat-nya aja sih. Tahun 2015 kita juga mainin kok, kaya lagu Dea Dalila yang “Kau Pun Tahu” dan tahun 2019 Parlemen Pop “Gairah Hasrat” juga kok, yang penting lagu Indonesia dan groovy kita mainin kok.

Anda sendiri sebagai DJ lebih senang tampil klub atau festival?

Nyamannya di klub sih, karena buat saya DJ itu untuk ngiringin orang joget, jadi ngga perlu stage yang gede, cukup DJ booth yang dekat dengan dancefloor, sound system bagus, nggak usah liat DJ nya siapa tapi tinggal terima aja lagu yang dikurasi sama DJ-DJ nya, terus joget hahaha. Kalau DJ di festival itu kaya aneh, karena kalau pemain band kan bisa improvisasi sambil main alat. Masih enak ditontonnya. Kalau DJ improvise-nya seseru apa sih? hahaha, cuma kelihatan muter-muter knob. Impact untuk hype-nya nggak seseru gitaris yang muter-muterin gitarnya gitu. Akhirnya sekarang banyak DJ yang merangkap jadi MC juga untuk bikin seru crowd di festivalnya.

Lalu, bagaimana cara Anda atau Diskoria untuk mensiasati agar crowd tetap seru saat bermain?

Kalau istilah kita “let the music do the talk” aja, hahaha. Kita juga mungkin terbilang old school kali ya untuk referensi. Kita mastiin juga flow set-nya sampai ke level energi yang semaksimal mungkin untuk jogetin orang-orang. Mungkin itu bisa jadi faktor pembeda juga kalau tampil di festival dengan penampil yang lainnya.

Pertanyaan terakhir, kalau lagi manggung atau hangout Anda suka minum nggak? Kalau iya, lebih prefer liquor atau bir?

Kalo saya minum sih dan biasanya liquor, tapi dibatasi aja jumlahnya, hahaha.

Video Wawancara Diskoria Selekta