Kiki Aulia Ucup Dengan Ulah Inventifnya

Adiwarna karya seni suara terkurasi rapih dalam satu paket bercap festival. Gaungnya tidak berhenti berdentum selama 3 hari setiap warsanya. 3 tahun terakhir sesembahannya kian menjadi urgensi anual kawula muda. Dari lahan multifungsi Synchronize Festival selalu berhasil memuaskan damba euforia hadirin nya. Di balik riuh sukses pesta, Kiki Aulia Ucup punya se-bludak hikayat yang menarik di dengar.

Perannya dalam selenggara Synchronize cukup esensial. Curahan ide gila merupakan formula sejati berkesan nya gelaran Synchronize dalam 3 tahun belakang. Idenya menghadirkan Rhoma Irama, Didi Kempot hingga band pop-melayu se-angkatan Radja, Wali hingga Kangen Band di tengah kerumunan milenial cukup mengundang sejuta tawa sekaligus decak heran seribu promotor lain dengan kekontraannya. Namun metodenya jitu, ribuan respon positif pasca acara yang tersebar di antero sosial media cukup menjawab keraguan dan gamang nyir-nyir. Synchronize Festival menunjukan punya nafas berjenjang dibawah kendali Ucup dan teman-teman.

Melebarkan topik mengenai pendahulu, bagaimana promotor sekaliber Java Musikindo, Buena Production hingga Tommy Original Pratama perlahan hilang tajinya? Hingga prakarsa festival digantikan nama baru sekelas Ismaya, Demajors sampai dengan Dyandra. “Cuma lebih ke nebak-nebak aja sih. Yang gue liat mereka udah di tahap yang kayak Udahlah udah banyak yang ngejalanin sekarang, ngapain lagi gue main di situ. Kalo ditanya masih mampu sih, gue yakin mereka masih mampu banget, capability nya nggak usah ditanyain lagi, gue yakin itu.” Jawab Ucup dengan yakin.

“Tapi kayanya Om Adri mungkin ada pemikiran lain. Mungkin kayak “udah lah gue nonton aja sekarang mah”. Gue rasa sih gitu, Java Musikindo udah jadi kayak legenda aja gitu. Gimana kalo kita langsung telfon Om Adri? Hahaha. Gue pribadi penasaran juga sih.” Candanya.

Festival serupa yang pernah dihelat adalah Java Rockin’ land yang harus menutup perjalanan nya di 2012. Namun Ucup menebak kembali, baginya kini merupakan era pasar bebas untuk festival. Dibutuhkan sesuatu yang lebih eksperimental. Tidak lagi pada rumusan sepersepuluh band besar yang masuk pada line-up, butuh formula yang variatif untuk menggabungkan semuanya pada satu pegelaran agar tercipta karakter yang kuat pada sebuah acara.

“Oh ternyata bikin festival gede gak bisa asal caplok line-up gede. Ibarat kalo masak kita gak bisa nyampurin semua bahan-bahan enak, yang ada enek. Gak selamanya nama besar elo bisa caplokin, karena sustainability-nya yang lo tawarkan ga cuman nama besar doang.”

“ Itu sih problem sekarang. Karena setiap penyelenggara (event) sekarang kurang punya karakter. Apa sih yang elo tawarin, speciality apa gitu yang lo bawa. Ya emang sih balik lagi semuanya ke bisnis. Tapi kan ada hal di luar bisnis yang harus di fasilitasi, yaitu karakter.” curahnya.

Sejauh pandang pikirannya, pengunjung festival kini lebih menjurus pada incaran statemen strata sosial yang mereka emban. Secara negatif, beberapa kalanga hadir di festival semata sebagai ibadah bagi penyembah gengsi.

“Nah salah satu yang gue jalanin di Synchronize adalah ya movement nya itu. Tujuan nya ya emang mau ngerayain bagaimana euforia selebrasi musik di Indonesia. Alhamdulillah kebanyakan orang dateng ke Synchronize bukan karena lifestyle, bukan juga karena “gue harus ada di sana biar gak ketinggalan tren” tapi karena mau seneng-seneng, mau selebrasi.” tegas Ucup.

Selain membidani Synchronize Festival, Ucup juga tergabung dalam tim kurator Soundrenaline di 2018. Tergabungnya dia bersama nama-nama sekelas Teguh Wicaksono , Alex Kowalski, Saleh Husein, Ardi Chamber dan kawan-kawan lainya. Brainstroming kubu ini terfokus pada penggantian logo, taktik promosi hingga ke susunan line-up. Hasil dari aliansi pelaku-pelaku industri musik ini berdampak cukup signifikan dalam perjalanan Soundrenaline.

“Perubahan nya Alhamdulillah berubah sih, dari profiling yang dateng, tingkat konsumsinya juga, hingga yang belom pernah terjadi di event itu kayak merchandise abis. Ya itu buah pikiran tim kurator.”

“Karena Soundre sebelumnya sendiri belom pernah ada tim kurator. Dan itu hal yang bagus menurut gue, karena mereka mempercayakan hal ini langsung ke pelaku-pelaku yang ada di industrinya gitu. Untuk menjadikan mereka fasilitas komunitas, sebagai sarana selebrasi musik, dan lain-lain. Ya seharusnya mesti begitu.” ungkap Ucup.

Ucup nampaknya cukup menjadi jembatan baru antara daratan panjang yang masyarakatnya lebih menyukai band sepadanan .Feast, The Cat Police, The Panturas hingga Grrrl Gang dengan pulau asri di belakang benua tempat berhuni teman-teman pop-melayu. Tren pop melayu yang sudah ditinggalkan pada akhir 2013 dibawa kembali dengan kemasan karaoke humor bermayoret Oom Leo di altar. Sebuah konsep Anti-tesis dari pengekor tren yang nyatanya ditelan munafik dengan animo tinggi.

“Saat ini gue rasa juga industrinya sedang berputar. Kayak hal-hal yang menurut gue gak begitu tren, justru membuat orang jadi keren gitu. Ya contoh sebenernya fenomena-fenomena kayak gitu dilakukan oleh Diskopantera lah. Hal-hal yang guilty preasure malah membuat orang jadi seneng. Sampe akhirnya ada Feel Koplo yang ngebawa koplo bisa masuk ke kalangan A B, koplo bisa masuk ke bar-bar populer anak muda itu kan gak pernah terpikirkan. Ya itu tanda tren nya sedang tergantikan dan gue ngebaca tren itu dan ini hal baru yang bisa ditawarkan. Start awalnya ya pas gue ngebawa Rhoma Irama ke Synchronize. Orang ngeliat dangdut itu kayak hal baru, padahal dangdut itu kayak genre yang lebih dulu ada di Indonesia di banding musik pop. Pola-pola fikir gitu sih yang gue adopsi.” ujar Kiki Aulia Ucup.

Synchronize 2019 juga dibumbui letup kejutan. Hadirnya living legend Iwan Fals seusai Jimi Multhazam dan kawan-kawan turun pentas adalah kekongkritannya. Spoilernya sebenarnya terbaca dengan cantuman nama Iwan Fals pada t-shirt merchandise Synchronize. Menurutnya hal seperti itu adalah pelecut kesan.

“Di 2019 emang gue nggak pengen diprediksi orang. Makanya announcement pertama gue ya Oom Leo Berkaraoke bersama Pop Melayu itu. Terus kenapa Iwan Fals gak di announce di Synchronize Fest 2019, kayak-nya orang-orang udah bisa prediksi itu banget sih. Saat orang udah gak berekspektasi tapi ternyata dihadirkan, itukan senengnya akan dua kali lipat, menurut gue.” petik pria pencinta Liverpool FC ini.

Inventif Ucup yang cukup sakti menebak gejolak “mau” pengunjung butuh jalan panjang. Learning by doing menurutnya adalah sekolah terbaik pembentuk insting out of the box nya. Prakarsa gila nya akan setia dinanti, sampai bertemu di lain kesenangan Synchronize, Soundrenaline dan Lord Ucup.