Kelakar Maksimal Sang Pangeran Hardcore, Gabriel Gebeg

Setiap kota, masing-masing memiliki riwayat dosa dan kenangan menyenangkan. Bandung sarat akan hal tersebut, terlebih untuk setiap jiwa yang pernah menghabiskan detik, menit, gelas hingga butirnya di wilayah penuh kembang ini. Ibukota provinsi Jawa Barat tersbut punya segudang kemeriahan sekaligus karya-karya fantastis yang dipersembahkan dari hati maupun pikiran terdalam. Di sebuah sore yang mendung, kami menikmati aroma petrichor dengan cerita seru dari seorang maestro penggebuk drum oktan tinggi, Gabriel Gebeg, yang antusias berceloteh ria gembira.

Pertemuan dengan Gebeg memang tak pernah membosankan. Sosok humoris penuh semangat tersebut optimis dengan segala bentuk dinamika kehidupan yang Ia jalani. Ceritanya hari itu penuh pengalaman menyenangkan bersama para teman, terutama dalam ranah musik yang membesarkan namanya dan yang tidak tertinggal pemasukan utamanya dari bisnis clothing bernama, Anti-Class.

Gebeg bercerita bagaimana perkenalan awal dengan pedal, tom-tom dan simbal. Instrumen yang menurutnya menarik untuk digali dengan lebih antusias dan membutuhkan effort lebih. Bermodal mental otodidak lantunan Guns N’ Roses dan Metallica jadi  bahan kulikan sosok metalhead & punkrocker ini.

“Kalo dulu waktu pertama banget mainin alat musik drum. Cuma lagu yang pertama dikulik lagu pertama ya Guns N’ Roses yang “Sweet Child O’Mine”, terus Metallica yang “Nothing Else Matters”. Dari situ saya ngulik terus. Hampir semuanya otodidak, sih. Sempet sekolah sebentar, cuma kesini-sininya otodidak dan belajar dari para senior. Curkil, Curi Curi Skill. Hahaha,” jelas Gebeg.

Lepas fase perkenalan, Gebeg memulai mengeksplor ke segala lini permainan. Tersangkutlah ia pada musik oktan tinggi yang menjadi identitas pembentuknya hingga saat ini. Masih sedikit teringat memori panggung profesional pertama-nya sebagai penabuh iringan Global Unity di Bandung Berisik volume awal. “Pertama sama Global Unity di GOR Saparua. Itu Bandung Berisik keberapa gitu ya, ke 4 kalo nggak salah. Pokoknya yang main Burger Kill, Jasad, Disinfected, Suck Religious sama Forgotten. Yang 3 saya masih jadi opening; Global Unity, Rentenir sama Ababil. Dari situ baru main-main sama band yang dibantu kayak Jeruji.” ujar nya.

“Kalo dulu, siapapun yang ngajak saya main drum, apapun itu genre musiknya saya lakukan. Yang penting mah main drum. Hahaha. Mau Pop sampai Jazz saya sikat aja. Anggep aja itu teh sebagai pelajaran gitu ya. Jadi menambah ilmu dari tiap genre.” tambah Gebeg.

Tidak hanya di Kota Kembang, pamornya sebagai penabuh drum ragam genre memang tidak perlu diperdebatkan lagi. Skill penuh, pengaturan tempo hingga pemilihan beat nya berkelas. Dirinya seringkali dilibatkan band-band lokal kaliber Internasional sekelas Burger Kill, Taring, Rock n Roll Mafia hingga The Sigit. Banyak yang penasaran bagaimana bisa dirinya mencapai kelas setingkat kepercayaan tinggi untuk para musisi tersebut. Dirinya menjawab setengah hati, setengah bingung. “Saya juga nggak tau, itu pertanyaan yang lumayan sering ditanyain gitu. Saya juga nggak tau kenapa mesti Gebeg. Era 99-2002 itu krisis drummer di Bandung . Kalo Gebeg kan dulu main nya kemana-mana. Ke anak-anak metal, punk, electronic, pop ke ini, ke itu, mungkin gara-gara itu yah.” ungkapnya.

Dirinya sempat mengenang masa-masa lalu kancah musik Bandung. Menyenangkan mendengar cerita sekelas dirinya dibayar 150.000 Rupiah untuk menggantikan Acil yang harus absen. Kala itu The Sigit masih band medioker di skena kota. Selain itu, terceloteh bagaimana sosok humoris ini menggawangi Teenage Death Star.

“Dulu Teenage Death Star pernah main di classic-rock. Wah itu Teenage masih edan! The Sigit era itu masih opening, Seringai juga. Sorry ya, kalian sekarang baru jadi rockstar saya dulu udah rockstar. Hahaha. Pernah dulu suruh main di acara Trax di Jakarta, terus tiba-tiba drummer nya sakit gigi, si Ucil (The Milo). Gebeg lagi main sama Homogenic, tiba-tiba disusulin sama Aji (Vokalis) sama managernya gitu ya. Dimintain tolong suruh gantiin gitu. Hahaha. Go dulu aja kitu. Oh pernah juga main sama The Sigit waktu itu sekali. Main di Cirebon Cuma bayar 150 ribu. Hahaha. Tapi waktu dulu itu mah, gantiin si Acil,” kenang Gebeg dengan penuh gelak tawa.

Sosok jenaka ini memang dikenal gemar bercerita. Dirinya tidak sungkan berbagi pengalaman lucu. Total dirinya sudah berkontribusi melahirkan lebih dari hitungan jari satu tangan album ajib dengan beberapa band-band ciamik Indonesia. Biografinya mungkin akan dipenuhi diskografi rentetan album cadas penuh irama mengejutkan melalui tabuhannya. Gebeg memang cukup senang berjejaring, tidak hanya inter-Bandung, Jakarta pun cukup mengenalnya sebagai seorang drummer brilian. Kunci terpenting menurutnya adalah attitude.

“ Kalo Gebeg sih resepnya selalu menjaga attitude dengan baik ya. Masalah skill mah bisa dilatih, tapi kalo menjaga attitude dengan baik susah. Apalagi kan Gebeg endorsement Ludwig dan Zildjian di Indonesia satu-satunya tapi biasa aja. Hahaha. Jadi yang penting mah resepnya kita berbuat baik aja ke siapapun, musik kan pemersatu bangsa, jadi alat komunikasi yang universal lah. Attitude dijaga, pertemanan dijaga dengan baik.”

Sosok yang kerap berbicara dengan subjek orang ketiga ini pula kerap kali diundang mengisi acara pada festival-festival mancanegara. Wacken di Jerman jadi pelabuhan nya bersama band yang ia gawangi dengan sepenuh hati, Taring. Selain itu Everloud Fest di Jepang juga menyambut Taring dengan baik. Pengalaman nya tercurah hari itu. Menyenangkan sekaligus membanggakan menurut Gebeg karyanya dikenal manusia-manusia yang bermukim ribuan kilometer dari rumah. Tidak hanya ingatan yang Gebeg bawa, perbedaan kultur membuatnya membawa oleh-oleh berkesan, terutama di Jepang. “Oh iya, di Jepang itu semua performer harus dateng dari awal. Pulangnya juga barengan. Rispek lah” terang Gebeg.

Menyudahi sedikit pembahasan seputar musik. Kamipun penasaran bagaimana bisnis clothingan-nya dibangun dan masih established hingga babak era ini. Dirinya pun sedikit tertawa, menurutnya ini adalah sebuah perjalanan penuh keringat bermodal 500 ribu Rupiah.

“Kalo Anti Class brand saya dengan modal 500 ribu tapi bertahan hingga sekarang. Awalnya sih berdua sama Ica eks Turtle Jr, tapi dia cabut dengan alasan bisnisnya lagi sibuk, jadi sekarang Gebeg sendirilah. Survive aja kita mah ngeliat yang ngomong, “clothing Anti Class kok gini-gini wae?” . Kita mah bodo amat lah, yang penting mah berjalan, gitu mah. Sekarang punya toko gitu, walaupun kecil yang penting pride. Anti Class tetap Gebeg, Gebeg tetap Anti Class.” Tukas Gebeg.

“Yang penting mah survive aja sampai sekarang. Dengan modal segitu kok bisa bertahan gitu ya. Terus barang banyak, terus bisa bayar kredit rumah dari Anti Class, mobil lunas dari Anti Class. Hahaha. Asal kitanya bener-bener survive mah kayanya bisa aja. Percaya aja dan kemauan nya dijaga.”

Gebeg juga cukup yakin industri bisnisnya ini akan tetap sehat selagi budaya populer masih ada. Tidak ada yang cukup berarti mengancam kelangsungan bisnisnya selagi masih ada tren-tren yang tercipta. “Nggak bakal mati. Asal musik, skateboard dan dunia gemerlap masih ada mah tenang yah. Makanya dunia gemerlap jangan di hapuskan yah. Hahaha. Sayang itu. Itu termasuk promo juga untuk fashion di Indonesia. Kalo gak ada klub, bar, nggak bakal hidup ini industri. Hahaha. Pokoknya mah yang penting survive dan yakin lah kuncinya gitu.”  tutup Gebeg.

Panjang umur pangeran Hard Core, Gabriel Gebeg!

Video Wawancara dengan Gabriel Gebeg