Kartika Jahja Ungkap Manfaat Lain Ruang Selatan, Selain Tempat Makan Yang Menyenangkan

Kartika Jahja, akrab dipanggil Tika, merupakan sosok menyenangkan yang loyal terhadap perjuangannya untuk segala bentuk ketidakberesan di muka bumi, khususnya negara ini. Sementara itu, 4 album solo dia layak masuk ke dalam daftar rilisan seni suara dan karya lirik penuh nutrisi asli nusantara, yang berguna untuk menyeimbangkan jiwa serta pikiran. Namun kali ini saya tidak akan membahas aktivitas Tika sebagai aktivis maupun seniwati, kami berbincang mengenai Ruang Selatan yang dia kelola bersama kedua temannya, sekaligus kandungan-kandungan bergizi di dalamnya.

Ketika ditanyakan mengapa dari kafe milik dia yang fenomenal, yaitu Kedai, lalu berganti nama menjadi Ruang Selatan, Tika menjelaskan, bahwa Kedai yang dia jalankan dari tahun 2008 hingga 2017 tersebut sebenarnya sudah serve well banget, banyak memberi pelajaran terhadap dunia F&B bagi dia, dan pernah jadi tempat yang bermakna bagi banyak orang, namun di tahun 2017 Kedai close down.

“Di situ saya evaluasi ulang untuk buka lagi dengan nama berbeda. Saya juga melihat ke diri saya sendiri, apakah saya juga sudah berkembang dari saya yang di tahun 2008 dengan seperti apa saya sekarang,” ujar Tika.

Menurutnya lagi, sekarang ada tambahan dua partner untuk melengkapinya. Dengan kepribadian dua orang tambahan itu, values-nya, dan cara pandang terhadap bisnis, menjadikan konsep Ruang Selatan seperti sekarang.

Konsep baru Ruang Selatan itu berbeda dari sebelumnya. Kalau dulu Kedai hanya sebuah restoran, namun sekarang mereka menyebut Ruang Makan sebagai restorannya. Lalu ada Ruang Karya yang merupakan sebuah ruang komunitas terkurasi sebagai bentuk respon terhadap kurangnya ruang-ruang yang memberi jaminan atas kebebasan berekspresi. “Sekarang memang lagi naik-naiknya konservatisme dan intoleransi. Jadi semakin sedikit nih ruang-ruang yang mem-fasilitasi ruang untuk berekpresi, terutama untuk perempuan, untuk kelompok minoritas,” kata Tika.

Tika melanjutkan, selain sebagai creative space, mereka juga ingin ini memiliki nilai lebih dalam hal inklusivitas. Selain itu, Selatan juga punya nilai sustainable sendiri. Mereka tidak menggunakan produk yang menggunakan plastik, semua sampah didaur ulang (zero waste to landfill), tidak ada yang berakhir di Bantar Gebang, dan ramah terhadap lingkungan. Seperti dalam hal bagaimana mereka mengonsumsi listrik, energi dan lain sebagainya.

Tika menegaskan, bahwa di tahun pertamanya rata-rata program mereka adalah program kreatif yang berbayar, dan nantinya akan lebih beragam serta dikembangkan ke cabang-cabang lain. Jadi setelah adanya program creative empowerment seperti dance, akting, menulis, dan seni rupa, nantinya di tempat tersebut akan ada support group untuk pemulihan adiksi, program untuk single parents, anak-anak, personal politics, dan lain sebagainya. “Info program-program tersebut, dan apa saja yang bisa Anda lakukan di sini, update-nya dapat dilihat di akun instagram kami.” ujar Tika

Sungguh itu semua merupakan kegiatan-kegiatan positif sekaligus menarik untuk didukung. Dan, ternyata sebelumnya Ruang Selatan juga sudah melakukan kegiatan meeting seminggu sekali untuk narcotics anonymous, alcohol anonymous, dan cocaine anonymous, yang terbuka untuk umum. Tika menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dibuat bagi mereka yang berniat berhenti secara serius dari adiksi terhadap Napza. Mereka juga melakukan kerjasama dengan satu support group lain yang fokus di single parents, khususnya single moms, dan nantinya akan ada juga program untuk single dads-nya.

Selain menjadi tempat “berbagi” yang sangat bersahabat, di sana juga tersedia ragam kuliner yang bisa dicicipi. Menu yang menjadi favorit pengunjung ada yang bawaan dari kafe dia sebelumnya, Kedai, seperti Bakwan Malang, Ketoprak Mede, dan Ayam Seger.

Selain itu, tersedia juga beberapa menu baru untuk vegan dan vegetarian walaupun bukan restoran vegan dan vegetarian. Alasan nya adalah banyak orang yang sering kesulitan menemukan tempat makan vegan dan vegetarian yang enak dinikmati oleh orang-orang yang bukan vegan atau vegetarian. Alasan lainnya dikarenakan Tika memiliki teman, keluarga dan juga partner Ruang Selatan yang vegan dan vegetarian.

“Jadi sekarang banyak menu-menu dengan inspirasi resep nusantara, seperti dabu-dabu, balado, rawon, tapi dibikin versi daging dan vegan-nya.”

Di bulan November ini, Tika mengungkapkan bahwa untuk Ruang Makan, mereka akan mencoba resep-resep baru agar lebih take away friendly bagi mereka yang memesan makanan melalui Go Food dan sejenisnya. Lalu untuk Ruang Karya, saat ini mereka akan lebih fokus terhadap program-program publik yang bisa diakses secara gratis.

Perkara minuman beralkohol di Ruang Selatan, Bir sudah pasti harus ada. Lalu jika ada private events, atau kegiatan yang sekarang yang sedang berlangsung di Ruang Karya seperti rangkaian pameran dan festival film, atau si penyelenggara meminta menu minuman beralkohol, mereka menyediakan Amer Based Cocktails yang ingredients-nya berasal dari warisan zaman dahulu ketika Tika masih sering ngamer. “Kalau lagi ada tester cocktail, saya ikutan coba juga dong, masa saya nggak minum, hahaha,” jawab Tika ketika ditanyakan soal kebiasaan minumnya yang belakangan sudah mulai berkurang.

Ya, perempuan kelahiran 19 Desember 1981 ini mengakui kalau dia memang sudah cukup enggan untuk menikamati minuman beralkhol. Tapi, dia memberikan pengecualian untuk Wine karena masih sesekali diminumnya. Untuk seperti jenis Whiskey atau Vodka, dia sudah tidak mengkonsumsinya lagi.

Dan nightlife yang ideal menurut Kartika Jahja adalah sebuah tempat yang tidak pretentious, tidak ada asap rokok, good quality alcohol, and even better quality friends. “Saya membayangkannya like an outdoor space, terus gelar-gelar tikar, minum-minum di atas rumput. Kayaknya itu kemewahan banget kalau di Jakarta. Semua di Jakarta kan serba boxes, gedung-gedung ber-AC, nah, kalau ada tempat seperti itu, maybe i will go back to going out at night and drinking. Haha!” pungkas Tika.