Indra 7: Supremasi Humanis Elektronik

Indra 7 dikenal sebagai sosok loyal di industri musik, sejak manuver-nya di Media Distorsi bersama Agus Sasongko & FSOP-nya (Future Sound Of Pejaten) pada awal 2000-an menyeruak berbagai kegiatan seni disko ibu kota, kiprah mereka turut membuka cakrawala elektronik lokal. Influensial. Berbarengan dengan masuknya duo ini ke dapur rekaman, Indra juga sedang merintis karir band-nya bersama Vessel sebagai gitaris. Namun di saat yang bersamaan pula, grup alternatif yang juga digawangi Leonardo Ringo ini sudah tekan kontrak dengan salah satu label nasional untuk rilis album. Indra 7 memilih yang pertama. Hingga akhirnya di tahun 2019 ini, subjektivitas saya menyemat sosok Indra 7: supremasi humanis elektronik.

Pilihannya tidak salah, dari sini dia semakin yakin, bahwa elektronik musik merupakan gairah sekaligus opsi pastinya sebagai profesi utama yang dia putuskan pada tahun 2016. Lagu “Confession Part II” Media Distorsi mau tidak mau menjadi pijak artefak Indra. Tone-tone di lagu tersebut sayup samar menjadi signature notasi Indra dalam selipan-selipan mixingan-nya di awal karir dia sebagai DJ. Saya sempat beberapa kali melihat aksinya pada pertengahan 2000-an, dan, progresi tekniknya dari tahun ke tahun kian berkelas.

Jika dihitung mundur, genap sudah 20 tahun Indra 7 mengabdikan diri sebagai DJ, untuk genre Techno, maupun gaya bebas, terutama alternative rock dan glam rock. Meski terkadang dia bermain lagu-lagu ‘terjun bebas’ tersebut, untuk pub maupun bar yang bergaya bebas juga, di mana para pengunjungnya pun campursari, ada rocker, scenester, hingga gadun, Indra 7 adalah sosok DJ adaptif, konsisten, dan bernas.

9 September 2019, saya melakukan wawancara dengan pria ramah berputra satu ini. Seputar acara SHVR, back to back-nya dengan DJ Apsara, dan pilihan tegasnya untuk menjadi full time DJ.

Bagaimana SHVR Ground Festival (SGF) kemarin? lihat dari IG story-nya, crowd Anda dan Apsara seperti tidak mau pindah tempat. Mereka tampak betah berlama-lama menyaksikan dan mendengarkan setlist kalian berdua

Hahaha, sebenarnya semua area kemarin penuh juga sih. Pas sebelum dan setelah main, saya sempat juga lah keliling area 1 dan 2. Rata-rata packed semua.

Untuk kolaborasi dengan DJ Apsara itu permintaan dari pihak SHVR atau dari management Indra 7 dan Apsara yang mengajukan konsep back to back untuk event ini?

Sebenarnya konsep b2b (back to back) saya dan Apsara sudah pernah terjadi di SGF tahun 2018 lalu di Ecopark. Waktu itu kami main closing di area techno dan sambutannya bagus banget dari crowd. Untuk tahun ini, konsep back to back tersebut dipakai kembali. Yang minta sih dari organizer-nya.

Sebelumnya ada workshop lebih dulu dengan Apsara?

Workshop secara latihan langsung sih ngga ada. Tahun lalu juga ngga ada. Haha. Semua serba spontan dan go with the flow saja. Paling kami cuma diskusi H-1 via Whatsapp, kira-kira mau bawa lagunya dan mau build journey-nya seperti apa. Karena sebelumnya saya dan Apsara memang lumayan sering b2b waktu kami masih sama-sama main di Jenja Jakarta. Jadi, masing-masing sudah tahu karakter mainnya seperti apa, dan kami tinggal saling menyesuaikan saja saat live.

Saya sempat baca di IG-nya Apsara, bahwa di tahun 2012 dia memainkan genre yang berbeda dengan Indra 7, lalu akhirnya beliau mencoba banyak belajar dengan Anda untuk memperdalam jenis musik techno yang Anda mainkan. Gimana tuh ceritanya?

Dulu Apsara waktu pertama kali ke Jakarta masih main progressive house. Kami pertama kali ketemu dan kenalan tahun 2012 di Stadium Jakarta. Semenjak itu saya, Apsara, dan Rey (suaminya), lumayan sering hangout bareng. Mereka sering datang kalau saya bikin party techno, baik itu party saya dengan Microchip (kolektif techno yang Indra buat dari 2007) atau party yang saya bikin dengan Jakarta Techno Militia. Sebenarnya ngga ada niatan langsung buat ngeracunin dia untuk main techno sih, haha! Cuma saya pernah ingat ada suatu kejadian lucu waktu bikin party di Hotel Ambara. Apsara bertanya kepada saya,”Lo main pakai bpm berapa?” Saya jawab bpm 120 sampai 122, dan dia kaget. Kaget karena “Kok pelan ya? Tapi party banget” Haha! Dari situ saya mulai mengenalkan techno sampai ke subkultur-nya kepada Apsara. Dan, hasilnya dia menjadi salah satu produser techno yang lumayan aktif bikin lagu serta rilisannya sudah banyak terjual di berbagai platform digital.

Hahaha. Berarti dia detail ya, sampai muncul ujaran algoritma gitu dari dia

Hahaha, iya. Biasa main bpm cepat, pas ke party techno “lho kok pelan tapi vibenya party ya.”

Balik ke SGF, event ini sama aja gak sih dengan acara-acara rave party lainnya?

Kalau lihat content internasional-nya sih bisa saya bilang sama. Banyak nama-nama familiar yang sering muncul di rave party sini meski organizer-nya beda. Sementara, content bagus lainnya di luar sana masih banyak yang bisa dieksplorasi, tapi memang belum dapat kesempatan main aja di sini. Yang bikin SGF beda dari yang lainnya, mereka bisa mengakomodir teman-teman dari skena ‘underground dance scene’ lokal untuk bisa ikut berpartisipasi di dance event kelas internasional. Saya salut sih untuk poin yang ini. Production-nya juga keren sih kemarin. Nggak nanggung-nanggung.

Sebelum dan sesudah main kan sempat melihat penampilan DJ lain tuh, baik yang dari luar maupun dalam negeri. Siapa yang menjadi highlight Anda?

Kalau lokal hampir semua jadi highlight sih, karena biasa nonton anak-anak di tempat yang kecil dan intimate. Ketika mereka main di acara yang taraf nya internasional, panggung yang besar, dan ambience yang berbeda ketika main di club-club kecil, pasti akan ada sesuatu yang berbeda yang bakal menjadi daya tarik tersendiri. Untuk highlight internasional-nya, gue megang Above & Beyond, Darius, dan Goldroom.

Oke, cukup dengan SGF. Seorang Indra 7 tahun 1999 memulai karir sebagai DJ, dan kemarin sempat bikin perayaan 20 tahun berkarya. Saat mulai semua itu income-nya berapa sih? terus 5 tahun setelahnya, 10 tahun lalu, dan sekarang, progress kenaikan nya signifikan nggak?

Hahahahah! Edan ini pertanyaannya. Sejujurnya, saya 20 tahun nge-DJ baru bisa merasakan kalau saya bisa hidup dari main lagu yang cuma disimpan di flashdisk itu baru 4 tahun yang lalu, circa 2016. Di tahun itu juga saya membuat sebuah keputusan besar dengan memberanikan diri berhenti dari pekerjaan 9 to 5 sebagai buruh korporat untuk total bermain musik sebagai DJ. Sisa 16 tahun sebelumnya, saya belum merasakan hal yang signifikan kalau nge-DJ itu bisa untuk hidup. Nggak tau ya, mungkin waktu itu saya belum berani untuk terjun total. Dan memang benar, kalau kata orang-orang, “kalau mau total, ya nyebur saja sekalian daripada cuma nyebur sepaha.” Karena ketika kita sudah berani mengambil keputusan untuk total ke suatu pekerjaan yang kita suka, namanya rejeki toh ngga akan kemana, sih. Dan saya terus terang sudah nggak sanggup lagi hidup di “dua dunia”. Secara fisik sudah nggak mumpuni.

Bagus nih quote-nya “kalau mau total, ya nyebur saja sekalian daripada cuma nyebur sepaha”

Awal saya main pertama kali tahun 1998, cuma dibayar pakai 2 gelas Black Russian di sebuah bar di bilangan Wijaya, haha. Progress income-nya sendiri sih cukup terasa lah, dari awal dulu main hingga sekarang.  Cuma telat saja berasanya. Haha. Makanya baru mulai memberanikan diri total itu baru 2016 kemarin. Ngga ada yang saya sesali sih. Toh ini kan bagian dari proses, dan saya menikmati sekali proses ini. Bukan yang ujug-ujug baru main langsung sukses. Kalau ditanya sampai kapan akan nge-DJ, ya saya akan jawab sampai selamanya. Haha. Kalau di umur 70 nanti ternyata masih laku ditanggap, sikat aja terus!

Untuk pengembangan skill sendiri, setiap hari latihan-kah, atau melakukan hal lain? supaya muncul ide-ide baru pas nge-mix. Lalu untuk visual, Anda benar-benar mempertahankan signature khas indra 7 ya? Yang dari tahun ke tahun berkaos hitam dengan t-shirt band-band kesayangan

Kalau sekarang sih sudah nggak terlalu sering latihan ya. Paling misalnya kalau habis beli lagu, dicoba sendiri di kamar sambil nge-mix. Gitu aja sih. Saya malah lagi ingin banget balik lagi ke producing lagu sih. Minimal bikin mini album deh. Cuma yang ‘nyambukinnya’ belum ada. Mungkin karena sekarang semua dikerjain sendiri, jadi ngga ada sparring partner-nya buat ngingetin. Soal penampilan, saya memang suka koleksi baju-baju band dan cuma itu aja yang saya punya. Tidur saja pakai kaos band. Dan kebetulan semua kaos band yang saya punya warnanya hitam semua. Yang warnanya beda cuma dua, kaos Smashing Pumpkins yang “Siamese Dream” dan Anthrax yang “State Of Euphoria”. Haha. Kenapa saya selalu pakai kaos band saat nge-DJ, sementara buat sebagian orang terlihatnya seperti kontradiktif ya. “Bawain lagu dance tapi kaosnya kok Burzum?” Haha! Ya ini saya cuma satir saja sih. Tujuannya buat ngeledekin orang-orang saja, selain saya memang gak bisa lepas dengan roots saya yang berangkat dari mendengarkan lagu-lagu rock sebelum akhirnya nge-DJ. Intinya sih anak metal nggak haram kok pergi ke diskotik, vice versa.

Bagaimana Anda melihat acara “award ” untuk skena dance? Masih oke gak untuk jadi referensi Event Organizer atau club dalam memilih DJ sebagai line up maupun resident? Ngaruh nggak sih sebenarnya?

Acara “award” untuk apapun itu pasti ujung-ujungnya akan jadi popularity contest. Dan ngga ada yang salah juga dengan hal tersebut. Sah-sah saja. Cuma kalau dijadikan sebagai referensi untuk Event Organizer atau club dalam memilih line up atau resident kayanya sih nggak terlalu berpengaruh juga ya. Justru terkadang malah terbalik. Nama-nama yang masuk ke dalam daftar nominasi adalah mereka yang sudah punya prestasi duluan, baik sebagai individu atau membawa nama institusi club di mana mereka bekerja.

Di Jakarta, ada fenomena DJ fade in fade out, nge-mix nya biasa aja, tapi senjatanya memainkan lagu-lagu yang sing along, dan rata-rata playlist-nya nostalgia. Lalu edannya beberapa jadi laris manis, terus job-nya gak putus, dan mungkin mereka udah main hampir di setengah indonesia. Ada komentar?

Huahahahahaha!! Ini sekarang saya termasuk di jajaran ini. Bentar-bentar, gimana ya jawabnya. Haha. Kalau saya lihatnya sih memang club scene di Jakarta, pada khususnya, memang lagi menurun saja sih. Nggak tahu ya analisa saya ini valid atau tidak, kalau tidak valid, ya mohon dimaafkan. Haha! Tapi saya lihatnya sih sekarang fenomenanya orang lagi senang kembali nonton live band atau dengerin DJ yang playlist-nya sing along. Gak ada yang salah sama sekali kok. Namanya juga trend. Dengan bermunculannya the so-called “DJ fade in-fade out” saya pribadi sih santai-santai saja. Ngga merasa terancam juga kok. Mungkin karena saya juga masih aktif main set band-band-an. Cuma terkadang yang mengganggu itu kalau sudah mainnya set band-band-an, tapi flow-nya ngga dipikirin, dan cenderung asal-asalan mainnya. Mau elo nge-dj electronic set atau cuma jadi selektor main lagu band, flow dan pemilihan lagu itu buat gua tetep penting sih. Skill mah bisa dipelajarin, taste yang ngga bisa dibeli.

Satu pertanyaan terakhir, Diskoria apa Diskopantera?

Fak! Susah banget ini pertanyaan. Hahaha! Tunggu ya, ini pertanyaan paling sulit, nih. Huahahahaha. Hmmm, ya udah, jawabannya ini “DISKO………………” Kasih tau ngga ya? Hahahaha.