Hogi Wirjono : Salah Satu Akar Cetak Biru Elektronika Persada

Sekembalinya Hogi Wirjono dari Amerika, di mana ia mengenyam pendidikan Academy of Art University San Fransisco jurusan Screenwriting, disjoki garda depan kolektif Future 10 ini membukukan catatan penting mengenai skena dansa elektronik bersama kakaknya, Anton Wirjono, dalam cetak biru perjalanan musik elektronika tanah air.

Kedatangan tim Vantage di kantor Future 10 bilangan Grand Wijaya Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, disambut dengan hangat oleh pria yang lumayan gemar berolahraga ini. Hogi Wirjono merupakan figur yang ramah, dan dijadikan sebagai disjoki panutan oleh generasi setelahnya. Hal ini terungkap dari kesan-kesan musisi elektronik nusantara terhadap sosok Hogi. Beberapa malah ada yang menyebutnya sebagai ‘Don’ di skena ini.

Hogi Wirjono jatuh cinta terhadap The Chemical Brothers dan Underworld. Dia mencecap Drum and Bass, Hiphop, dan Triphop sebagai salah tiga menu musik utamanya. Perjuangan pria ramah ini bersama sang kakak, Anton Wirjono, dalam membesarkan skena elektronik persada, dimulai ketika mereka memulai usaha toko plat di bilangan Wijaya Jakarta Selatan pada tahun 1995.

Dari situ mereka sepakat untuk mengembangkan sebuah kolektif bertajuk Future, yang juga dijadikan sebagai sebuah nama acara, dalam gelaran ingar bingar pertamanya di Parkit. Future selalu membawa sound system tambahan, demi tercapainya output yang ideal di dalam berbagai rangkaian yang terajut di tempat tersebut. Hogi berujar, “Seluruh event Future yang dilakukan di Parkit, dapat dipastikan hampir semuanya selalu meledak.” Itu semua terjadi di pertengahan hingga akhir 90-an.

Jakarta Movement menjadi salah satu pergerakan rave festival terbaik milik Asia, yang terjadi di awal 2000-an. Hogi dan Anton berada di belakangnya. Pola pikir serta visi yang selalu beberapa langkah ke depan, menjadi signature dari Future 10. Alasan penambahan angka 10 di belakang Future, ternyata lebih karena pada saat mereka akan membeli domain Future, harganya begitu melangit. “Mahal banget!” tukas Hogi. Selain Jakarta Movement, keterlibatan Anton yang juga dibantu Hogi dalam membidani Bengkel Nightpark pada dasawarsa lalu, sangatlah membekas di hati para pegiat perdansaan Indonesia.

Demi mengembalikan pengalaman yang teramat manis tersebut, pada 19 Oktober lalu Future 10 mencoba membawa kembali kedigdayaan Bengkel Nightpark di The Pallas. Penjudulannya diberi nama Bengkel Nightpark Revival. Event ini sukses membuat hampir semua yang datang terlihat bahagia, berkat gelimang irama elektro nostalgia yang dicuatkan Anton sebagai satu-satunya penampil. Gelegar petir langsung menyengat kuping pengunjung dari era lama, saat dia mengeluarkan track-track bersejarah, semisal ‘Pearl’s Girl’ dari Underworld. Dalam acara ini Anton bermain selama 6 jam. Sendirian.

“Kami kepikiran bikin konsep gimana kalo nanti pas Anton main di acara Bengkel Nightpark Revival, kita pakein kerangkeng. Hal tersebut kita bahas bareng tim Future 10 dan Isha Hening,” ucap Hogi ketika ditanya mengenai formula sukses acara tersebut. Isha Hening adalah visual joki sekaligus salah satu pelopor visual mapping yang sudah menjalani kegiatan ini sedari lama.

Kolektif seperti Future 10 harus tetap ada sepanjang masa, agar kehidupan dansa elektronika di negeri ini selalu berjalan seimbang, melalui pola pikir luas visi yang selalu dituangkan secara nyata oleh sosok-sosok menginspirasi seperti Hogi Wirjono.

Wawancara selengkapnya dengan DJ Hogi