Renungan Henry Foundation

Henry Foundation, akrab disapa Betmen, seorang seniman yang memulai karir keseniannya secara nasional melalui media visual. Bersama Anggun Priambodo, karya-karya entitas mereka menjelajah tabung televisi melalui The Jadugar, duo sutradara musik video alumni IKJ yang banyak menggarap klip leluhur indie nusantara pada awal 2000-an. Lalu Betmen melanjutkan kiprahnya di seni musik komputer sebagai penyanyi bersama Goodnite Electric, tahun 2003. Ditemani Bondi Goodboy dan Oomleo yang bertugas untuk menjaga gawang Synth, di pertengahan dekade 2000 mereka menjadi salah satu penguasa berbagai pentas seni Ibu kota, sejak tembang “Am I Robot” “The Super Market I Am In” dan “Rocket Ship Goes By” ciptaan Betmen berhasil merebut hati indie kids khatulistiwa.

Anda kalau disko, enaknya diiringi musik yang seperti apa sampai Anda bener-bener turun dance?
Hahaha. New Wave, Post Punk Disco, pokoknya yang bisa sing along.

Musik Goodnite Electric (GE) sendiri sengaja diciptakan supaya orang disko nggak?
Kalau GE sendiri ngga harus, sih. Asal orang bisa enjoy saja. Kalau saya sebagai DJ, playlist-nya harus bisa bikin crowd happy, joget dan sing along.

Kalau saya dengar, Anda seperti menaruh punch line, agar pas di bagian tertentu lagu GE, yang mendengarkan ujug-ujug nggak tahan buat gerakin badan
Iya, mostly lagu GE upbeat sih. Mungkin ke depan musiknya dibuat agak merenung begitu.

Memang musik GE selanjutnya mau seperti apa?
Lagi mau coba explore dengan lirik bahasa. Lumayan tantangan bagi saya pribadi, bagaimana menyatukan lirik bahasa Indonesia yang tepat ke dalam musiknya GE. Secara musikal mungkin agak sedikit lebih tenang, namun tetap bisa dipakai joged. Mungkin, ya.

Ini dimulai dari VCR? (Single terbaru Goodnite Electric yang baru saja dirilis)
Iya, single tersebut kami rilis 2 minggu lalu.

Kenapa butuh waktu yang lama untuk memunculkan materi yang baru?
Wah, kompleks sih. Selanjutnya akan ada 2 single terbaru lagi yang akan kami rilis di bulan Oktober dalam bentuk 7″ Vinyl.

2 single saja?
Saat ini iya.

Single VCR dirilis tanggal 11 September 2019. Apakah ada pertimbangan tertentu dengan memilih tanggal dan bulan tersebut?
Nggak ada pertimbangan, sih. Tadinya rencananya mau rilis di bulan Juli, cuma mundur banget karena satu dan lain hal. Kita justru memilih hari Rabu, karena kalau Jumat biasanya banyak muncul rilisan baru yang keluar.

Ada ngga diskotik yang menurut Anda musiknya pas dan sesuai dengan selera Anda?
Saat ini? Nggak ada sih. Hahaha. Tapi kalau tempat asyik buat duduk-duduk saja, ada beberapa, namun bukan diskotik. Saya sebenarnya nggak begitu suka disko. Saya kan shoegaze dalam hati.

Program joged yang Anda buat itu apa aja ya? Dan, target market-nya umur berapa sampai berapa?
Namanya Mayhem Extended. Sebelumnya bernama Monday Mayhem. Kan biasanya hari Senin yang besoknya hari libur, sekarang kami adakan juga di hari biasa yang besoknya hari libur. Lalu ada Uber Damage, sebuah costume party yang diadakan setiap bulan Oktober. Target market-nya sih lebih ke indie kids gitu. Hahaha. Musik-nya 80′s sampai sekarang, tapi di area britpop, post punk, indie pop, new wave dan seputaran situ. Gak termasuk emo ya, tapinya. Hahaha.

Kenapa emo ngga masuk?
Ngga masuk aja di saya-nya. Hahaha.

Sejak era YouTube, kan ada sebutan musik Indonesia City Pop, kalau menurut saya pribadi, GE sendiri merupakan bagian dari jenis tersebut. Nah, Anda melihat perkembangan so called Indonesia City Pop dari 80-an hingga sekarang seperti apa? ada perubahan signifikan?
Sebenarnya saya tidak terlalu memperhatikan. Yang pasti sih sekarang musisi-musisi muda baru hebat-hebat. Pengetahuan musik dan produksi-nya bagus. Jadi mungkin saya lebih melihat ke sisi kualitas. Semakin baik, seiring dengan dukungan teknologi yang baik juga tentunya. Mereka-mereka ini menggunakannya dengan sangat baik.

Apa ada musisi baru yang sukses mencuri perhatian Anda?
Waduh banyak, bukan mencuri secara selera tapinya, ya. Lebih ke objektif seperti cara mereka branding project-nya. Producing-nya juga. Sound dan lain-lain yang lebih teknikal. Well produced lah istilahnya. Label Double Deer misalnya. Terus seperti Elephant Kind dan Feast. Mereka sudah matang, satu paket dari rekaman hingga manggungnya. Sama banyak juga songwriter baru dan bagus bermunculan. Kalau yang mencuri selera saya tetap band-band lo-fi. Seperti rilisan Kolibri dan Anoa Records.

Apa acara nightlife di ibu kota yang Anda pernah ada di dalamnya sebagai audience dan memorable banget?
Wah, hahaha. Kalau nightlife lebih keseringan lupanya daripada ingatnya. Yang asyik sih, Slits. Waktu itu event-nya Merdi (Diskoria) sama Ika “This Happy Feeling”. Refreshing banget dengar lagu-lagu yang tidak popular atau hits di bar.

Lagu apa dari GE yang menurut Anda paling disko banget?
Hmmmm sulit. Ada satu lagu judulnya “Stranded in The Arms of Love”, belum pernah direkam dan dirilis, tapi 3 tahun terakhir ini sering kita mainkan di panggung.

Menurut Anda, koreografi dan lagu itu jadi paketan yang harus ada dalam sebuah pertunjukan nggak?
Tergantung jenis musik nya sih ya. Kalau lagu dance, ada baiknya seperti itu, biar bisa ngajak masa juga buat rileks joget. Walaupun saya juga kadang-kadang biasa-biasa aja sih kalau di panggung, nggak jingkrak-jingkrak banget. Tapi koreografi, blocking panggung, tata cahaya dan visual itu sangat berpengaruh terhadap live performance. Bisa buat lagu yang biasa aja jadi luar biasa atau lagu luar biasa bisa jadi makin depresif misalnya. Semuanya satu paket.

Terakhir, kalau cocktail, Anda sukanya apa?
Saya tidak suka liquor, lebih ke bir.