Gairah Tanpa Batas Wendi Putranto Terhadap Musik

Mari sejenak menggali lebih dalam mengenai sosok Wendi Putranto yang sepenuhnya mendedikasikan diri terhadap musik. Dari andal merangkai kata, membentuk diksi, hingga mencipta idiom bernyawa pada setiap paragraf yang dicetak untuk lembar glossy majalah musik paling influensial di tanah air, Rolling Stone Indonesia. Menghantarkan band sarat pendengar: The Upstairs dan Seringai. Hingga terakhirnya adalah menyibukan diri dengan menjadi Co-Founder yang mengelola spot temu antar disiplin tengah selatan ibu kota dan venue musik bernama M Bloc Space.

Wendi Putranto adalah figur yang tepat untuk didengar celotehnya, tentang bagaimana tren musik hari ini dengan perannya sebagai kritikus serta pengamat perubahan selera yang terjadi. Semuanya tercurah deras sepanjang siang, ditemani segelas kopi susu dingin di Oeang, M Bloc Space.

Memulai cerita, ketertarikannya pada musik dimulai sejak kecil, kala dentum Deep Purple, Led Zepelin, Black Sabath dan The Police senantiasa diputar dengan volume tertinggi olah sang Ayah sebagai anthem yang membangunkannya dari tidur pulas untuk memulai hari. Ngiang nada-nada itu membekas dan terpatri hingga Wendi berujar : Musik sudah jadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup gue.

Beranjak dewasa, jiwa mudanya diisi dengan kidung-kidung cadas sebagai simbolis dari jiwa pemberontakannya. Sementara kurang makhirnya Wendi muda pada ilmu hitung membuatnya terjerumus pada prodi Jurnalistik. Pilihan yang selanjutnya membuka jalan Wendi menutur karya ke cakrawala lebih luas.

Pilihan untuk tidak jauh dari musik membuatnya memilih jalan cetak majalah. Fanzine bertajuk Brainwashed pun menjadi debut pembuktian diri namanya kepada jalur musik, bahkan kali ini lebih dalam menggali hingga ke bawah tanah industri. Dirinya matang menjadi penulis musik dari sini, zine semi-amatir yang membawa banyak pengalaman untuknya masuk ke jurnalisme musik tanah air.

Karirnya dilanjut, bergabung bersama Rolling Stone Indonesia. Majalah musik tanah air yang kredibilitasnya terjamin dan influensialnya tidak diragukan lagi, terutama pada masa jaya media cetak sejauh dekade 2000-an. Namanya tidak hanya terkenal sebagai penulis dan jurnalis musik, Wendi juga tergabung dalam band sarat kultus sekelas The Upstairs pada posisi manajer dan berhasil mengantarkannya menrajai pensi-pensi dekade tersebut. Kesibukanya pun sebagai manajer band ditanggap berbeda, hingga pada 2010 Wendi harus dihadapkan pada pilihan karir: menetap di Rolling Stone Indonesia atau Manajer The Upstairs. Dirinya pun memilih menetap di Rolling Stone Indonesia hingga akhir edisi majalah tersebut.

Usai karirnya di Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto pun dipercaya memegang kendali manajerial band stoner ter-apik di tanah air, Seringai. Nama besar Seringai yang sudah terbentuk dan kedekatan pribadinya dengan para personil menurutnya jadi tantangan tersendiri menangani band tersebut.

Hingga di 2019 tempat multifungsi bernama M Bloc Space hadir di tengah selatan ibu kota. Wendi pun jadi aktor dalam suksesnya tempat ini berdiri bersama beberapa founder lintas disiplin lainnya. M Bloc Space menurutnya adalah mercusuar kembalinya masa jaya Blok M yang berbinar terang di dekade 80-90an. M Bloc Space digadangkan menjadi titik temu lintas generasi dan lintas disiplin dengan ruang-ruang dan fasilitas di dalamnya. Kesibukan terkininya pun fokus di kelola dan manajemen tempat berwarna ini.