Musisi Itu Harusnya Seperti Fariz RM, Produktif Berkarya, Bukan Aktif Nge-vlog

Berbekal 19 album solo yang materinya dipenuhi dengan pelbagai aroma genre mulai dari synth pop, new wave, new age, pop ballad, yang kesemuanya dapat kita rangkum ke dalam sebutan berbahasa Indonesia, yaitu: Pop Kreatif, pemilik nama lengkap Fariz Rustam Munaf ini dapat dibilang salah satu garda depan solois nasional paling produktif.

Musisi yang di masa mudanya mendapat julukan ‘Si Bule’ dari para teman-teman masa lalu beliau, benar-benar mengecap nikmat sekaligus pahitnya hidup sebagai musisi selama 4 dekade terhitung hingga hari ini. Namun untuk urusan produktivitas, gairahnya begitu luar biasa. Karena selain album-album sendiri, Fariz juga memiliki beberapa kolaborasi album bersama grup Transs, Symphony, Jakarta Rhytm Section, Fariz RM Group, Superdigi, dan Wow! Dan canggihnya dari masing-masing proyek tersebut, semuanya memiliki ciri yang berbeda-beda, namun tetap terasa lekat rasa sang Fariz nya. Nikmat.

Dimulai dari album pertama ‘Selangkah ke Seberang’, rilis tahun 1979, yang anggun melenggang sebagai landmark musik pop Indonesia era akhir 70-an. Elok, jujur, dan sangat tidak memaksakan diri untuk terdengar indah maupun keren. Lanjut ke album ‘Sakura’ yang total memberikan suguhan new age nusantara dengan daya magis pop yang luar biasa dari sentuhan dingin aransemen musik seorang Fariz.

Lalu lanjut oleh ‘Panggung Perak’ yang megah, rilis tahun 1981. Digeber lagi oleh Fariz pada tahun 1982 dengan kehadiran album ‘Peristiwa 77 – 81’ yang terdapat lagu hit “Pesona dan Kurnia”.

Kemudian tahun 1983 Fariz seakan tiada kehabisan ide untuk berkarya. Dia merilis album ‘Fariz & Mustaka’ di mana dia di sini menampilkan album musik instrumental saja. Lalu dilanjutkan tahun 1984 dengan kemunculan album ‘Peristiwa 81-84’. Gila, produktif luar biasa musisi yang satu ini.

Lalu tahun 1985 si bule merilis album ‘Musik Rasta’. Disusul tahun 1987 dengan album ‘Do Not Erase’. Ternyata ada jeda 1 tahun kosong, namun hal tersebut dirasa wajar bagi musisi yang dari awal karirnya tidak pernah kosong memproduksi album baik untuk diri sendiri maupun berkolaborasi dengan grup baru.

Tahun 1988 Fariz meluncurkan ‘Living in Western World’. Kemudian di tahun 1989 ada ‘Fariz Hitz’, dan di tahun yang sama pula dia merilis ‘Fashionova’. Sadis.

Di awal 90-an, Fariz merilis ‘Cover Ten’, kemudian tahun 1992 doi melanjutkan karya dengan album ‘Balada’. 1993 Fariz merilis ‘Romantic’, 1996 album ‘Dongeng Negeri Cinta’, 1997 ‘Super Medley’, 1998 ‘Kronologi’, lalu 2001 ‘Dua Dekade’, 2002 ‘Mix!’, 2006 ‘Curze on Cozmic Avenue’, dan 2012 berakhir di ‘Fenomena’.

Ini bisa jadi pelajaran berarti bagi para musisi Indonesia, yang sekarang lebih banyak cuap-cuap di YouTube, ketimbang berkarya dengan produktif seperti yang dilakukan oleh Fariz RM, sang pangeran musik pop Indonesia sesungguhnya. Berharap musisi tanah air kembali ke jalur produktivitasnya ketimbang nge-vlog yang membuat level mereka jadi menurun, sehingga lama-lama akan terasa basi seperti para artis peraup rupiah di YouTube yang hanya memanfaatkan ketenarannya, lalu mengisi kontennya dengan berbagai sampah belaka. Atau ada juga yang cari perhatian di media sosial dengan menunjukan berbagai kegalauan maupun keresahannya. Aduh, apakah Anda tidak capai melakukan cara-cara over acting dengan model seperti itu?

Sumber foto: tempo.co