Energi Oktan Tinggi Arian 13

Panas siang beberapa minggu terakhir di Jakarta memang cukup brengsek, terutama di tengah centro Selatan Jakarta seperti Kemang. Untungnya kami dipersilahkan singgah di Lawless Burger Bar, sebuah restoran dengan menu spesialis burger yang sudah tidak perlu ditanya lagi kualitas dan rasanya, fenomenal. Di siang itu juga kami sudah membuat janji dengan Arian 13, salah satu empunya restoran ini untuk sedikit berbincang-bincang santai.

Mengambil tempat di lantai 2 Lawless Burger Bar, Arian 13 tiba dengan kaos Antiseen hitam, trucker hat dan sepatu Vans SK8 nya. Membawa minuman dengan gelas berlogokan Lawless Burger Bar, ia duduk di salah satu kursi wajib reservasi di pojok lantai 2.

Arian memang lebih dikenal dengan kiprah band bergenre trash metal nya Seringai yang mampu menjaring jutaan penggemar militan dengan lagu-lagu apik nan beringasnya. Di tengah gilanya variasi blantika musik tanah air, Seringai masih memegang kendali dengan akselerasi maksimum.

Tapi bukan melulu soal musik yang ingin kami bahas dengan sang pemilik akun Twitter @aparatmati ini, melainkan lebih menjurus ke kegemaran duniawi, permabukan dan kiprah gerombolan Lawless Jakarta pada skena party di Duck Down Bar, Senopati, yang terlihat selalu ramai tiap malam nya.

Perkenalan Arian dengan alkohol ternyata dari sejak dini. Arian muda telah mencoba alkohol sejak sekolah menengah pertama, botol gepeng menjadi sajian nya. Tapi masa itu hanya sekedar coba-coba. Tingkat frekwensinya menanjak ketika dirinya memasuki masa SMA. Bir jadi minuman periodik kala berkumpul bersama teman tiap akhir pekan di Bandung kala itu. Sampai saat ini menurutnya, bir masih jadi minuman terfavoritnya.

“Erdinger dunkel yang item itu, sama kalo craft beer gitu Gue milih showeer beer,” ujar Arian.

Untuk varian yang lebih keras, Arian 13 awalnya cukup suka dengan Jack Daniels. Tapi dengan beredarnya isu munculnya Jack D tiruan yang mirip dengan aslinya, membuat Arian menjadi ragu dan berpindah haluan. Single malt dan Jagermeister akhirnya jadi pilihan yang cukup aman.

“Gak terlalu milih-milih, sih. Mungkin kalau Gue minum kayak jager atau whisky itu masih bisa di shift. Tapi kalau udah minum kayak tequila gitu tujuannya udah beda, kayak anjing Gue mau mabok nih. Hahaha. Udah enggak peduli rasa,” tutur lelaki yang punya nama lengkap Arian Arifin.

Berbicara masa jahiliah tentang kejadian mabuk di panggung layaknya zaman 2000-an awal di Bugiet Park, menurutnya untuk saat ini belum ada kejadian serupa terulang. Memang, di masa itu dirinya mengakui cukup geriliya dengan minuman lokal. Tapi berbeda ceritanya dengan sekarang-sekarang ini.

“Kalau sekarang, habis main balik ke hotel, tidur. Hahaha. Atau enggak cari kuliner,” ujar Arian.

Meski dikenal dengan jargon ‘Menolak Tua’, dirinya mengakui ketika main diatas panggung dalam keadaan mabuk badannya akan terasa mudah lelah. Karena musik Seringai yang sangat intens dan membutuhkan energi ekstra, satu atau dua botol bir menurutnya cukup sudah untuk membangkitkan semangat, tidak perlu terlalu mabuk. “Kalau mabuk, baru dua lagu aja udah kayak mau mati. Hahaha,” canda Arian.

Seringai memang mencantumkan bir dalam raiders nya. Namun itu bukan lah keharusan, untuk acara-acara tertentu semisal pentas seni sekolah yang sudah tentu melarang minuman, raiders bir tersebut bisa dikompromikan. Prioritas utama mereka masih tetap pada equipment penunjang performa Seringai.

 Jika dilihat dari akun Instagram nya, Arian 13 dikenal gemar melancong ke luar negeri. Entah untuk kebutuhan pekerjaan atau sekedar berekreasi. Ketika ditanya mengenai drinks experience-nya di bar-bar luar negeri, pria yang masih melajang hingga kini menjawab kalau minuman yang menjadi most wanted ketika menyempatkan diri berkunjung ke bar di luar negeri masih tetap varian showeer beer, karena cukup mudah ditemui, berbeda dengan di Indonesia.

Pembahasan lalu beralih ke soal asal muasal Lawless Burger Bar berdiri. Memang sudah menjadi impian Arian untuk membuat bar sejak dulu. Namun karena waktu itu belum mengetahui perizinan-perizinan untuk membuka bar, niat nya pun urung dilakukan. Setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya ia menemukan solusi untuk membuat usaha lain yang bisa juga memenuhi ekspektasinya untuk memiliki bar.

Karena semua pendiri Lawless menyukai burger dan mengajukan izin usaha kuliner lebih mudah, akhirnya terjadi kesepakatan antara dirinya dengan teman-teman Lawless-nya untuk membuka burger joint yang juga menjual bir. Dan akhirnya lahirlah Lawless Burger Bar dengan bar mini di lantai dua sebagai pelengkap.

Dirinya menuturkan, dibanding penjualan makanan dan minuman, pemasukan lebih besar dari makanan karena rata-rata pengunjung Lawless Burger Bar datang untuk makan menurutnya.

Selain Lawless dan Lawless Burger Bar, Arian dkk juga memiliki investasi dalam tubuh Duck Down, sebuah bar yang sedang menarik banyak perhatian orang untuk datang ke sana. Tapi, campur tangan Arian dan Lawless di Duck Down Bar juga tidak se-intim seperti di Lawless Burger Bar, cukup hanya pada promosi jejaring, mengingat Lawless cukup vokal di media sosial. Namun, Arian pribadi juga berkutat pada konten design interior dan artistiknya.

“Orang yang nggak tahu mungkin lihat poster-poster di Duck Down Bar cuma sekedar hiasan dekorasi, tapi buat orang yang tahu mikirnya semua pasti terkurasi,” tandas Arian.

Tapi terkadang, Arian juga ikut menyumbang usul mengenai pilihan DJ yang akan bermain atau sebagai host di Duck Down Bar, terutama pada sesi Karaoke Night. Arian dan Sammy juga aktif dalam projek Lawless Youtube Squad. Playlist ciptaan nya cukup efektif mempersuasi pendengarnya berdansa.

Menyoal Lawless Youtube Squad, projek ini berawal dari ketidaksengajaan. Kegudahannya terhadap playlist bar yang mayoritas memutar lagu-lagu EDM dan R&B membuat Arian dan Sammy men-takeover meja DJ di salah satu klub di bilangan Kemang (Stube) dengan deretan-deratan lagu bar pilihan mereka. Ternyata respon pengunjung sangatlah baik. Mayoritas suka dengan lagu-lagu yang mereka putar. Setelah kejadian itu, akhirnya mereka berdua memutuskan melanjutkan projek selecta DJ ini.

Arian memang pantas dengan jargon ‘Menolak Tua’ nya. Di umur yang sudah mencapai kepala empat, dirinya mengaku masih cukup sehat untuk menenggak alkohol, tidak ada tanda-tanda yang cukup mengkhawatirkan untuk berhenti. Dirinya mengetahui batasnya.

“Tahu batasnya si menurut gue lebih ke dompet si ya, tahu batas dompet uang kamu ada berapa. Hahaha,” tutup Arian.

Video Wawancara Arian 13