Edo Wallad: Jurnalis Puitis Romantis Yang Sangat Indies

Di tengah teror brengsek tak berujung yang dihembuskan Sang Maha Perusak Rencana COVID 19, beruntung bagi Kami mendapat luangan sedikit waktu dari sosok multi-talenta, multi-wacana, sekaligus salah satu bidan yang membantu persalinan gerakan kultur brit-pop di ibu kota, Edo Wallad.

Obrolan singkat tidak bertema tentang sedikit cerita lampau Edo Wallad di The Motives (setelah itu berganti menjadi The Brandals), kiprah musiknya bersama The Safari, kolaborasinya dengan Texpack yang menetaskan nomor pembuka Gadog, kehandalannya meracik kata-kata hingga membuah satu kitab antologi puisi berjudul Pesta Sebelum Kiamat, dan tak lupa dipenghujung tanya, projek dokumenter yang tengah digarapnya ikhwal masa digdaya pun jahiliyah Poster Café. Apalagi selebihnya? Mungkin bisa diteruskan di lain waktu dan kesempatan.

Lebih duluan sadar punya talenta musisi atau penulis?

Kalau dalam musik gue lebih senang dibilang punya ‘sense’ musik. Talen sih pas-pasan cenderung minim. Nah yang gue suka itu emang nulis, termasuk nulis lirik. Karena gue juga dulu kerja jadi editor majalah, jadi emang kerjaan juga nulis. Baru kemudian gue ketemu komunitas puisi bernama ‘bungamatahari’ di situ kepatil sama puisi dan akhirnya terjun mendalami puisi dan sastra lainnya, walau gak dalem-dalem amat juga.

Kenapa bisa digantikan Eka di The Brandals?

Sebenarnya waktu itu gue di band itu namanya belum The Brandals, tapi The Motives dan alasan sebenarnya itu bukan karena gue bekerja (seperti yang diberitakan media-media lain), tapi karena ketidak-cocokan visi mereka sama visi gue.

Memang sempat ada masa canggung, karena gue agak sensi juga. Tapi seiring waktu kami bisa melupakan semua itu. Akhirnya gue juga menemukan rumah gue di The Safari yang lebih nyaman buat gue. The Safari dan The Brandals sekarang saling support, seperti kemarin mereka bikin showcase di Bogor, The Safari support. Gue ama Eka juga sering teleponan dan bertukar pikiran.

Apa langkah selanjutnya di The Safari? Ada rencana buat album atau single baru?

The Safari saat ini sedang meramu materi baru. Dengan formasi yang baru juga. Juga dengan gaya yang baru. Eksplorasi ke musik yang lebih relevan di jaman sekarang tanpa meninggalkan identitas The Safari.

Gimana cerita awalnya bisa kolaborasi dengan Texpack di lagu Gadog?

Awalnya basis  Texpack, Dimas, approach gue karena mereka ada lagu yang belum ada liriknya dan ingin bikin lagu itu jadi satu spoken words yang diambil dari puisi di buku gue, Dimas memilih puisi ‘Bersin, Makan Ketoprak dan Menulis’ karena ada setting daerah gue tinggal dulu yaitu Gadog dan itu merepresentasikan identitas kami sebagai orang Bogor. Menurut gue kolaborasi ini termasuk yang sukses setelah dulu juga pernah kolaborasi dengan Agrikulture. (Dawai Damai, 2007)

Pada lirik Gadog sebenarnya itu Jurnalis Gay atau Jurnalis Gaya?

Jurnalis Gaya. Karena saat ini yang menggelisahkan gue adalah jurnalis yang gaya.

Cerita dikit dong tentang Pesta Sebelum Kiamat?

Pesta Sebelum Kiamat adalah satu kumpulan puisi yang gue kumpulkan sejak tahun 2003. Berisi tentang kegelisahan gue pada hidup ini in general. Buku ini intinya tentang merayakan hidup, bagaimana gue mau hidup-sehidupnya setelah beberapa pengalaman kelam masa lalu.

Akankah ada buku baru setelah Pesta Sebelum Kiamat?

Pastinya mau sih ada buku yang baru setelah itu. Tapi menulis buku buat gue gak gampang dan harus ada nilai “vitalitas”-nya untuk ditulis isunya.

Benar lagi garap film dokumenter tentang Poster Café?

Iya. Hahaha, tepatnya skena brit-pop di Poster Café tahun 90an. Karena kalau dari seluruh skena gue gak ada kapasitas dan itu terlalu luas.

Bisa diceritakan maksud dari dokumenter ini? Untuk sekedar nostalgia? Atau ada misi lain?

Tentu ada misi. Ini untuk menampilkan sejarah yang sepertinya sering diceritakan tapi kurang didukung media visual yang baik. Selain itu kita juga mau menampilkan orang-orang yang kurang mendapatkan recognition atas terjadinya skena itu, seperti, Event Organizer dan kolektif-kolektif musik saat itu.

Menurut Anda sendiri seberapa besar pengaruh Poster untuk skena di masa sekarang?

Menurut gue sangat penting karena dari situ lahir artis-artis indie legendaris yang kita kenal sekarang, musik brit-pop juga satu genre yang tidak pernah mati karena sepertinya musik itu cocok untuk orang Indonesia. Pertanyaan kenapa musik brit-pop relevan dengan Indonesia justru adalah alasan untuk menjawab pertanyaan itu lewat dokumenter yang sedang digarap.