Diskopantera Bicara Seleksi Alam di Tengah Demam Throwback

Dentuman irama semakin kencang terdengar, malam semakin menjadi, penonton semakin liar berdansa seronok tak mengenal siapa di sebelahnya. Saat itu menjadi malam penutupan Synchronize Festival 2018. Usai 3 hari diterpa karya para line-up populernya, malam penutupan memang harus dibuat berkesan. Diskopantera pun menjadi salah satu aktor yang berkontribusi di dalam nya.

Terdapat dua pilihan guest star di malam itu. Di panggung utama, Dewa 19 dengan personil lengkapnya berhasil membujuk tiga perempat pengunjung yang datang. Satu perempat lainnya memilih berdendang dan berdansa gila di salah satu stage yang berada di pojok venue acara bersama Diskopantera.

Siapa Diskopantera? Mengapa bisa ia mempersuasi sebegitu sesaknya penonton untuk sing along sembari menggoyangkan badan hingga dini hari? Apakah daftar putar berisikan paduan musik era 80’s & 90’s dan 2000-an menjadi alasan ia disukai? Beberapa pertanyaan itu membawa penelusuran lebih jauh, bagaimana bisa dia memulai semuanya di tengah semakin menyebarnya wabah demam nostalgia di segala kalangan.

Saya pun akhirnya mendapat kesempatan berbincang virtual dengan DJ yang mempunyai nama asli Rahmat Dwi Putranto. Tak jauh-jauh, obrolan langsung menjurus ke perjalanan karir DJ dengan penampilan eksentrik tersebut.

Bagaimana awalnya Anda bisa memulai karir sebagai Diskopantera?

Jadi awalnya saya diajak main di salah satu acara di tahun 2012. Kebetulan emang acaranya bertemakan 80’s & 90’s gitu. Dari situ mulainya. Kalau nama Diskopantera itu asalnya dari nickname Twitter.

Jadi awalnya memang tidak sengaja berkarir sebagai DJ?

Kalo secara professional, iya.

Tapi apakah Anda memang sudah punya ketertarikan sebelumnya dengan musik-musik era 80 dan 90-an?

Referensi musik saya sepertinya mentok di era itu. Hahaha. Dan mungkin itu jadi salah satu alasan kenapa teman saya mengajak untuk main di acara yang dia buat. Saya tumbuh di era 80 dan 90-an juga, jadi musik di era itu sudah pasti mengisi masa kecil sampai saya remaja.

Anda sebagai Diskopantera lebih nyaman disebut DJ atau Music Selector?

Beda istilah aja ya sebenarnya. Dari awal saya nggak pernah memposisikan diri sebagai DJ, jadi kayak ngasih kebebasan aja orang mau menyebut saya seperti apa. Tujuannya memang ingin membawa orang bernostalgia, senang-senang, nyanyi bareng. Nggak nyangka bakal sejauh ini.

Anda bisa disebut pionir di konsep DJ seperti ini. Bagaimana pendapat Anda tentang semakin banyaknya DJ yang memainkan playlist 80 dan 90-an?

Ya nggak nyangka aja tiba-tiba semua terjangkit demam throwback. Sangat terasa sekitar 2-3 tahun terakhir. Saya pribadi menanggapi itu sebagai hal biasa. Nanti bakal ada seleksi alam kok.

Berbicara tentang seleksi alam, apa Anda sendiri yakin “demam throwback” ini akan bertahan lama?

Saya nggak pernah mikirin itu. Misalnya mereka nggak demam lagi ya udah. Diskopantera tetap jalan terus. Saya juga nggak cuma muterin lagu lama kan. Saya juga merilis lagu sendiri.

Akan bekerja sama dengan musisi lain untuk lagu yang akan dirilis?

Maunya sih sendiri saja. Hahaha. Liat nanti aja.

Ada niatan bikin album juga dong?

Inginnya sih, tapi nggak berani janji. Hahaha. Bikin album itu niatan dari tahun 2015 yang tak kunjung terealisasi. Hahaha. Tapi sekarang kayaknya rilis single – single dulu aja.

Ngomongin soal pengalaman Anda nge-DJ. Ada nggak satu atau dua acara yang euphoria crowd-nya bener-bener “gila”?

Waduh! Nggak ingat. Biasanya sih yang gila banget kalau festival. Soundrenaline sama Synchronize sih selalu gila.

Terakhir. Ada nggak lagu di playlist Anda yang jenuh untuk dimainkan?

Semua hal kalau diulang-ulang pasti ada bosannya sih. Hahaha. Dinikmati dan disyukuri saja. Karena yang bosan buat saya belum tentu bosan buat orang yang nikmatin. Tapi untuk yang mengikuti saya dari tahun 2012 bakal tau kok, lagu-lagu yang saya mainkan mengalami banyak perubahan.

Foto : Garin Anugrah (instagram.com/anugarin)