Metamorfosa Bobby Mandela: Bergumul Dengan Kawanan Whisky Warrior dan Podcast Boker

Ragam media baru bermunculan ke peradaban 4.0 ini. Media mainstream seolah tenggelam ditelan gejolak era digital yang semakin ganas masuk ke setiap ranah kehidupan. Berbagai layanan streaming pun menjadi raja dengan konten-konten yang disajikan. Bobby Mandela pun berusaha menyiasati itu. Lewat media Podcast di kanal Spotify, Podcast Boker jadi buah akalnya.

Regulasi yang semakin ketat dari komisi yang berwenang mungkin jadi titik awalnya. Manusia-manusia dibalik media mainstream seperti TV dan radio seolah dibuat gerah. Ide kreatif harus tersalurkan, media digital jadi sasaran. Berawal dari instastory seorang Sammy Bramantyo (Bassist Seringai), membawa saya ke akun Instagram Podcast yang bernama Podcast Boker. Episode pertama dan kedua sudah tersedia di Spotify, cukup membuat saya terbahak-bahak mendengarnya. Langsung, saya rekomendasikan kepada beberapa teman yang tergabung dalam grup Whatsapp, respon nya sama. Ini hiburan yang kami mau.

Podcast Boker berisikan tiga announcer yang tidak baru dari ranah radio. Bobby Mandela, Ryo Wicaksono dan Molen Kasetra alias Molen. Kelompok Power Trio yang nampaknya sudah sering bercuap-cuap absurd. Dalam suatu kesempatan, saya diberi waktu mewawancarai tokoh di Podcast Boker. Salah satu penghancur topik dengan pembawaan jenaka, Bobby Mandela.

Memulai debut episode pertamanya di bulan Mei 2019, Podcast Boker berada di bawah naungan Box2Box Media. Podcast Boker merupakan singkatan dari Bobby ketemu Ryo. Awalnya Bobby Mandela diajak oleh Ryo dan Tyo, yang memang sudah bergabung di Box2Box Media. Kehadiran Molen ternyata bukan rencana awal dari Podcast Boker.

“Awalnya kita berdua, terus si Molen yang kuliah S2 di Singapura pulang ke Jakarta, tapi Gue sama Ryo sudah produksi beberapa episode saat itu. Lalu timbul rencana untuk mengajak Molen dan siaran bertiga. Seteleh diobrolin dan tim pada setuju, akhirnya Molen bergabung deh. Hahaha.” kata Bobby.

Masuknya Molen memang menjadi tambahan amunisi berharga bagi mereka. Formula-nya semakin lengkap. Untuk urusan kecocokan pun tidak perlu diragukan lagi, karena mereka adalah teman bermain sejak lama dan pernah merasakan ada di satu kantor yang sama dalam kurun waktu yang cukup lama. Lantas masalah nama Boker yang merupakan singkatan Bobby ketemu Ryo pun dirubah menjadi Bobby Molen ketemu Ryo. Ide yang cukup kreatif, mengingat beberapa episode terlanjur sudah dirilis dan sudah menjangkau pendengar.

Bermain di media podcast bukanlah hal sulit bagi ketiga orang yang memang memiliki basic sebagai seorang penyiar. Bobby dan Ryo masih menjalani karir di radio, sedangkan Molen yang sekarang sudah tidak lagi siaran, tetap memiliki kredibilitas tinggi sebagai seorang announcer. Mereka hanya tinggal meneruskan apa yang biasa mereka lakukan hari demi harinya di radio, untuk dipindahkan ke podcast.

Menurut Bobby, baik podcast maupun radio konvensional masih sama-sama menyenangkan. Perbedaan nya hanya seputar regulasi yang dimiliki keduanya. Podcast lebih bebas, radio tidak. Secara treatment, keduanya juga masih memiliki kesamaan, hanya masalah kecil tentang penentuan durasi dan terbebas dari spot iklan yang sejauh ini belum ada di Podcast Boker.

Podcast Boker yang sudah masuk dalam jajaran Top 5 Podcast Indonesia di Spotify dalam kenyataannya belum mendapat monetized yang cukup menguntungkan dari sang empunya. Namun menurut Bobby, cepat atau lambat Spotify akan menaruh fokus kesini. Mengingat semakin ramainya podcast digandrungi.

“Menurut kabar burung dan dari teman-teman yang Gue dengar, tahun depan kayaknya aiming mereka mulai ngurus-ngurus soal podcast juga deh. Karena mungkin lebih gampang ya orang-orang untuk milih “Gue mau dengerin apa nih, sesuai apa yang mau Gue”. Begitu kali ya, pendapat pribadi total sih ini.” cetus Bobby

Untuk saat ini, salah satu sumber pemasukan dari podcast menurut Bobby berasal dari adlibs. Beberapa produk juga sudah deal dengan mareka. Menurutnya, itu adalah salah satu cara mendapatkan cuan di tengah ketidakjelasan monetized yang ada saat ini. “Kalau di Boker sih sudah sempat ada yang kayak gitu. Tapi karena kita podcast-nya begajulan, jadi produk yang nge-present kita rada begajulan juga. Ada lah nanti di episode-episode depan, dengerin terus aja,” tambah Bobby.

Salah satu keunikan dari Podcast Boker adalah cara mereka untuk menentukan topik pembahasan. Meskipun topik yang dipilih tidak mengikuti trend yang sedang berjalan, tapi mereka bisa mengolah dan membawakannya dengan menarik dan berujung dengan banyaknya orang yang mendengarkan dan mem-follow akun podcast mereka. Mereka pun mengakui tidak punya formula khusus dari apa yang mereka jalankan. “Kalau membahas formula, yang kita bertiga lakukan adalah duduk dan ngobrol. Topiknya luas. Dari yang berfaedah sampai yang absurd kita obrolin semua, soal santet, sunat, apa aja bisa kita obrolin. Nggak bisa ditebak. Tapi, sebelum kita meeting biasanya mimik cantik dulu, hahaha,” ungkap pria yang memiliki brewok lebat tersebut.

Selain itu, mereka juga kurang mengikuti kaidah-kaidah yang baik untuk siaran. Seperti membuat script atau sekadar menuliskan pointers agar topik bahasan tak melenceng kemana-mana. Tapi, itu tak berpengaruh terhadap performa mereka berkicau di depan microphone. “Kadang bikin pointers, tapi nggak kepake. Ujung-ujungnya malah nyeleneh, keluar dari topik. Dan saat itulah Molen Kasetra mengambil peranan, pengendali situasi. Ibarat di OVJ, dia Parto-nya lah. Gue mungkin lebih sering ngacak-ngacak omongan, karena biasanya Gue lebih mabok aja dibanding mereka berdua. Hahaha.” ungkap Bobby.

Ada satu episode yang menurut Bobby paling “pecah” dan membuktikan kalau yang mereka lakukan itu memang tidak memiliki formula khusus dan hanya bersenang-senang. Episode itu adalah ketika Podcast Boker mendatangkan Kiki Aulia Ucup sebagai bintang tamu.

“Di episode itu, nggak ada pointers sama sekali, total freestyle. Hahaha. Itu bener-bener Lord Kiki Aulia Ucup aja udah, kita ngikutin dia aja. Di malam perekaman itu juga harus nya kita produksi dua episode, tapi karena nggak berhenti kewata sama Ucup dan energi kita habis gara-gara dia, nggak jadi bikin dua episode,” ungkap Bobby.

Selain Podcast Boker, Bobby Mandela juga menjadi announcer di AMWave. Sebuah podcast besutan AMVibe yang di-produseri oleh Rio Tantomo. Pembawaan Bobby sedikit berebeda di podcast ini karena AMWave memang memiliki style yang berbeda. Dia melakukan siaran seorang diri. “Jadi kaya lebih in-depth interview gitu sih dan lebih digging kepribadian narasumber untuk sharing ke pendengar. Di AMWave juga mungkin ada secercah edukasi untuk diberikan,” cetus Bobby.

Jauh di luar apa yang sudah dilakukan Bobby di dunia podcast atau radio, pria bertubuh tegap ini juga aktif dalam tongkrongan antik yang bernama Ragunan Whisky Warrior, sebuah grup yang beranggotakan manusia-manusia hebat dengan obrolan absurd ketika berkumpul. Nama-nama seperti Rudolf Dethu, Dons Setiawan, Indra 7, Tony Tandun, Leonardo Ringgo, Ryo Wicaksono, dan Jimmy Simatupang ada di dalamnya.

Dinamakan Ragunan Whisky Warrior tak lain karena tempat berkumpul mereka berlokasi di daerah Ragunan, yang merupakan rumah Dethu saat masih tinggal di Jakarta.

“Ragunan Whisky Warrior itu yang buat adalah Rudolf Dethu. Pas Dethu dan Tandun masih tinggal di Jakarta, dulu kita sering nongkrong di sana sambil minum Whisky kelas atas. Lalu Dethu membuat Whatsapp Group yang isinya Gue bersama orang-oran itu,” kenang Bobby saat menceritakan awal mula grup minum-minum nya itu tebentuk.

Whisky yang disajikan selalu berharga mahal. Mulai varian singlemalt hingga blended. Suplainya merupakan hasil saweran atau chip-in para anggota grup, terutama yang senior.”Gue, Ryo, dan Jimmy itu yang paling muda diantara orang-orang 40 tahunan ke atas itu. Kalau mau ikut patungan, biasanya dibilang entaran aja, jadi jarang bayar. Hahaha,” tambah Bobby.

Meski seringkali menikmati Whisky dengan kualitas teratas, Ragunan Whisky Warrior bukanlah whisky snob. Bobby Mandela lebih memilih close group itu disebut penikmat Whisky saja. Lucunya, terdapat peraturan tidak tertulis dari grup ini. Dilarang mencampur singlemalt dengan es batu. “Kalau dicampur es batu, itu tidak menghargai Whisky mahal. Dethu yang bikin pernyataan itu,” ungkap lelaki yang pernah juga menjadi host acara mancing di salah satu televisi swasta Indonesia.

Walau dalam grup tersebut terdapat gap umur antar anggotanya, tapi tidak ada batasan ketika mereka melakukan perbincangan. Semua anggota Ragunan Whisky Warrior juga terdiri dari ragam profesi yang berbeda, namun sebagian besar masih dalam lingkup media dan tak jauh dari ranah musik. Grup ini menjadi grup teraktif dalam aplikasi pesanWhatsapp Bobby, karena selalu ada informasi terbaru. Mulai dari yang sifatnya rahasia sampai gosip receh.

“Selalu ada informasi yang mungkin cuma wartawan atau orang dalem yang tahu tapi di-share di grup kita. Jadi informasi penting tentang Negara dan gosip-gosip underground itu lengkap di Ragunan Whisky Warrior. Itu tuh grup yang isinya orang tua tetep muda, yang muda ya tetep muda aja.”

Berbicara lebih dalam soalWhisky, Bobby danWhisky bukanlah teman yang baru saja berkenalan dua-tiga hari. Bobby memang telah memfavoritkan jenis minuman satu ini sejak lama. Dari ragam singlemalt dan blended yang pernah ia tenggak, beberapa diantaranya bahkan masih berkesan dalam ingatan Bobby hingga saat ini. Ingat rasa, lupa nama, begitu mungkin kalimat yang tepat untuk Bobby ketika ditanya apa whisky singlemalt favoritnya.”Whisky yang paling Gue suka itu Gue lupa namanya. Itu tuh singlemalt usia 15 tahun kalau nggak salah. Rasanya kayak smokie gitu, ada rasa kayu halus nya gitu. Itu enak banget!” kata Bobby.

Ragam merk dan varian Whisky tentunya sempat mampir mengalir di tenggorokan Bobby. Sejauh pengalaman nya, beberapa Whisky dengan cita rasa paling aneh hingga yang paling mengejutkan pernah dirasakan. “Lagavulin deh kalau enggak salah merknya. Itu kayak top class nya gitu. Tapi itu Gue enggak terlalu suka sih. Rasanya kayak betadine menurut Gue. Tapi tuh termasuk Whisky mahal yang high-end gitu,” tambahnya.

Menurutnya lagi, harga juga tidak menjadi jaminan bahwa Whisky itu enak dinikmati. Beberapa diantaranya yang memiliki harga murah juga memiliki cita rasa yang enak ketika diminum. “Contohnya Jameson, kan gak mahal-mahal amat dibanding Jack D. Terus ada Busmills, Blended Scoth Wiskey yang mendekati singlemalt walaupun bukan tetap enak dengan harga murah. Terakhir namanya Noble, produknya Orang Tua Group. Itu paling enak sih menurut Gue. Intinya, minuman mahal juga belum tentu enak.”