Azizah Hanum: Representasi Figur Klasik Eklektik Masa Kini

Kami berhasil mendapatkan sedikit waktu dari sosok muda maksimum talenta satu ini. Perempuan berparas jelita, dikenal melalui kepiawaiannya dalam menyaji topik dan menggiring keseruan ke dalam sebuah program televisi. Mengantongi jam terbang tinggi dalam ranah jurnalistik, lalu dikaruniai suara bening nan teduh, yang belum lagi ditambah kemahirannya dalam bermain drum nyaris menjadi paket komplit hidup idaman setiap insan. Seorang jurnalis senior, pembawa berita profesional, presenter jenaka plus musisi brilian, beri sambutan terhangat untuk Azizah Hanum.

Melalui surel singkat, berbagai pertanyaan ringan terlontar dari sisi penasaran terhadap drummer perempuan ini. Mulai dari tanya seputar pengalaman ‘nyebelinnya’ selama menjadi jurnalis, awal ketertarikannya di ranah musik, pandangan tentang karir bermusik, hingga kesukaannya akan album-album bernas penyanyi sarat kultus, Sting.

Lebih ingin dikenal sebagai apa seorang Azizah Hanum? News Anchor? Jurnalis? Atau Musisi?

Mmm, lebih pengen dikenal sebagai Azizah Hanum. Bukan profesinya, tapi personalnya. Hanum yang seorang jurnalis dan musisi. Hehe.

Sebagai seorang jurnalis, adakah tokoh yang paling punya kesan ‘nyebelin’ ketika wawancara?

Tokoh yang paling nyebelin pas diwawancara? Wah wah. Tiap narsum punya karakteristik sendiri yang unik dan berbeda satu dan lainnya. Kalau yang nyebelin sih gak ada, tapi mungkin yang hobi ngaret atau suka ngga nyambung pertanyaan sama jawaban banyak sih. Hehe.

Jujur, ketemu yang seperti ini jauh lebih melelahkan lahir batin. Tapi namanya juga pengalaman, bisa dikenang dan jadi memori seru untuk di kemudian hari.

Berbicara tentang karir di ranah musik, bagaimana bisa memulai karir sebagai musisi?

Into sama musik udah dari umur 4 tahun, basic-nya memang suka nyanyi. SMP sempet punya band, SMA sempet jadi bassist di satu band sekolah, kuliah mulai serius nyanyi lagi sambil kadang main perkusi juga.

Karena suka banget Jazz, 2013 join ke Komunitas Hajar Bleh Big Band dan jadi vokalis di situ. Mulai deh karir serius jadi musisi, sampai di 2018 ditawarin join di project webseries ARAH, yang webseries-nya batal tayang, tapi bandnya tetep lanjut terus.

Kenapa bisa memilih drum?

Pada dasarnya aku suka banget perkusi, dari dulu pengen nyobain ngeband jadi drummer, tapi baru kesampaiannya sekarang. Jadi proses berkarirnya memang ga pernah dicita- citain, cuma Alhamdulillah chance-nya ada, akhirnya dinikmatin dan mengalir terus aja gitu. Bener aja, jadi cinta banget sama Drum.

Karir sebagai Musisi Anda terbilang kian gemilang, punya vokal indah dan piawai memainkan drum. Tertarik untuk terjun lebih dalam? Atau tetap menganggap musik hanya sebatas projek samping?

Aku ngga pernah kepikiran kalo musik jadi profesi untuk mata pencaharian. Karena segitu cintanya, jadi mau posisinya tetap ada di situ, jadi tempat menumpahkan segala emosi. Kalau harus lebih dalam dan dijadikan profesi utama, kayanya enggak. Takut jengah ngejalaninnya. Musik tuh kaya nafas buat aku. Kalau dipaksa untuk ke-push lebih jauh atau berhenti, nanti nyesek. So, just keep it that way.

Sosok Azizah Hanum jika digambarkan sebagai suatu genre, genre apa kira-kira?

Hanum by genre? I’m the classic one. Hehe.

Berbicara tentang Arah yang dikenal luas sebagai band spesialis pengisi soundtrack film, menurut Anda sendiri bagaimana?

Happy sekali. Gak nyangka, sambutannya luas dan meriah banget. Semoga bisa terus diterima dan di support sama teman-teman SeARAH semuanya.

Terakhir, apa album The Police favorit Azizah Hanum?

Wow! Why The Police? Hahahaha actually suka bangetnya sama Sting. Especially Album ‘The Dream of The Blue Turtles’, favorite song-nya ‘Moon Over Bourbon Street’. Kalau The Police-nya hampir semuanya suka-suka aja.

Sumber foto : Instagram Azizah Hanum