Petualangan Apsara, Dari Tokyo Lalu Hinggap di Jakarta

Mari Furuya, yang lebih dikenal dengan nama panggung: Apsara, lahir di Tokyo, dan sekarang tinggal di negeri ini. Tahun depan akan menjadi tahun ke-sepuluh dia sebagai warga Jakarta. Apsara begitu mencintai Indonesia, terutama budaya dan makanannya. Disjoki perempuan sarat talenta dan pengalaman ini, menjadikan nusantara sebagai rumahnya sekarang. Dia Mengarungi Tokyo, San Fransisco dan akhirnya hinggap di ibu kota, sebagai serial petualangan seru bagi Apsara dalam pengalaman bermusiknya. Mulai dari pesta rave bawah tanah di wilayah teluk San Fransisco, hingga kegiatan dansa gegap gempita a la Tomorrowland di Boom, Belgia, telah diarunginya.

“Saat umur saya 13 atau 14 tahun, saya mendengarkan The Chemical Brothers, Fat Boy Slim, Moby, dan lain-lain. Tapi saya tak tahu jika itu disebut musik elektronik atau DJ,” Apsara berkata. “Pengalaman clubbing pertama saya ketika berusia 16 tahun, saya pergi untuk melihat Moby di Club Air Tokyo bersama ayah,” lanjut dia.

Acara tersebut merupakan konser Moby yang diadakan oleh MTV, di mana dia mendapatkan tiket dari sang bapak, yang mengizinkan Apsara menonton asalkan beliau diajak. Perempuan ramah ini juga menjelaskan jika pada saat itu dia tidak mengetahui kalau Moby adalah seorang disjoki juga.

Apsara menyatakan, bahwa sebelum musik elektronik se-komersial hari ini, musik tersebut seperti musik untuk orang buangan dan tidak begitu diterima dengan baik di masyarakat. “Padahal ini merupakan bentuk ekspresi diri seseorang dan kebebasan untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Ini tentang PLUR, Peace, Love, Unity and Respect! Itulah yang membuat saya percaya terhadap musik elektronik hingga hari ini,” ujar Apsara.

Apsara juga bercerita kalau tujuannya sudah tercapai, dan salah satu orang yang mempunyai andil dari karir perempuan berparas cantik ini adalah sahabat nya sendiri yang bernama Chika. “Jika kamu percaya bahwa kamu dapat meraih mimpimu, percayalah hal itu bisa terjadi,” ucap Apsara ketika mengulang perkataan yang dilontarkan Chika untuk membakar semangat dirinya sembari memberikan sebuah poster.

“Lalu Chika meminta kepada saya untuk menulis 10 goal di belakang poster itu. Entah bagaimana, saya telah mencapai 10 goal itu. Ketika saya mulai DJing, beberapa di antaranya terdengar sangat mustahil untuk diwujudkan. Namun seiring berjalannya waktu, saya menetapkan tujuan baru juga dan berharap bisa mencapainya,” tambahnya.

Apsara juga memiliki penilaian tersendiri untuk kesenangan saat tampil di sebuah festival atau klub. Baginya, keduanya memiliki pengalaman yang unik. “Tentu saja klub lebih intim, namun festival itu megah dan epik. Saya selalu ingin lebih dekat dengan penikmat musik saya, baik itu di klub maupun festival. Saya suka energi festival, tetapi saya juga suka ketika bermain di klub, karena saya dapat mengenali yang datang dengan lebih baik,” ungkap Apsara.

Menurutnya juga, ketika bermain di klub dirinya seperti memiliki ikatan personal kepada crowd yang datang, karena sebagian besar yang datang ke klub akan kembali lagi dan lagi. “Saya juga melakukan set yang berbeda bagi ruangan kecil dan ruangan yang berskala besar. Saya suka melakukan keduanya, dan tidak bisa mengatakan saya lebih suka terhadap salah satu,” lanjutnya.

Sebagai seorang DJ, Apsara tidak suka dengan penggunaan istilah ‘DJ lokal’ untuk membedakan DJ luar dan dalam negeri. Tapi, dia memiliki idola dari teman satu profesinya tersebut yang juga bernaung di management yang sama dengan dirinya. “Saya menyukai DJ Deny dari Clubhoppers, yang juga pendiri dari State of Play. Dan saya menghargai DJ dari apa yang sekarang orang sebut generasi ‘old school’, karena mereka berbeda dengan DJ angkatan baru. Generasi ini sangat peduli terhadap hal-hal berbau teknis, dan juga sabar saat berada di deck DJ, karena mereka merupakan generasi vinyl yang hilang. Saya juga suka dengan beragam DJ di Indonesia sekarang, karena masing-masing dari mereka membawa tambahan yang unik ke dalam skena kami,” kata Apsara.

Untuk urusan setlist ketika tampil dibelakang deck, Apsara mengaku tidak memiliki daftar lagu yang sudah ditetapkan. Yang biasa dilakukan Apsara adalah memilah dari ‘music library’ miliknya dengan mencari tahu venue terlebih dahulu dan mengetahui tipe pengunjungnya seperti apa.

“Saya punya banyak kosa lagu di perpustakaan musik saya, dan saya menghabiskan banyak waktu untuk memilah sekaligus membedah masing-masing. Ada begitu banyak lagu yang ingin saya mainkan, namun waktu set saya terbatas, jadi ini seperti memilih yang terbaik dari yang terbaik. Hal ini sangat sulit untuk dilakukan,” ungkap Apsara saat ditanya apakah dia selalu menyiapkan setlist saat akan bermain di sebuah tempat.

Apsara juga terbiasa bermain dengan melihat bagaimana orang-orang bereaksi. “Saya selalu membawa seluruh perpustakaan musik saya untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ada track yang pas dan sempurna untuk dimainkan pada saat itu,” tambahnya.

Saat dirinya ditanya gigs apa yang paling berkesan baginya, dia menjawab terlalu banyak gigs favorit di mana ia menjadi salah satu line up-nya. Jadi Apsara hanya memilih dari tahun ini saja, seperti ‘This Is Life Festival’ yang berlangsung di Gili Air pada bulan Juli. “Itu adalah pesta 24 jam di pantai yang indah, di mana musik mengalir sepanjang hari, dan malam harinya pun terlewati dengan sempurna. Energi dari mereka yang datang, merupakan yang terbaik. Saya mendengar mereka akan melakukannya lagi pada tahun 2020, dan itu adalah pesta yang wajib didatangi,” cetus perempuan yang lebih suka menikmati minuman alkohol pyur dibanding cocktail atau bir.

Kegiatan Apsara di malam hari sebagian besar dihabiskan dengan menyulap waktu antara menemukan musik baru, melakukan pekerjaan di studio, memilah musik untuk pertunjukan, membuat podcast After Dark, bepergian untuk pertunjukan, dan menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu. Yang menurutnya adalah sebuah karya seni yang luar biasa. “Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana saya melakukannya, saya hanya melakukannya,” ujar Apsara.

“Dengan musik elektronik yang semakin populer, kita cenderung kehilangan kualitas serta karakter unik klub malam sekaligus festival. Saat ini sulit untuk merasa berbeda, akan tetapi acara yang lebih kecil ternyata masih memiliki banyak karakter. Saya selalu merasa bahwa Indonesia selalu menyambut saya dengan baik, dan saya berteman baik dengan siapapun di mana saya berpijak. Orang-orangnya benar-benar ramah dan menyenangkan. Rasanya seperti selalu memiliki teman-teman di manapun berada. Itu yang saya suka dari Indonesia.” Tutup dia.

Photo: Courtesy of Apsara