Jenuh WFH di Minggu Ketiganya

Sedari pandemi corona kian mengkhawatirkan dan Indonesia mengumumkan seruan social distancing per 17 Maret 2020 lalu, hampir sebagian kantor-kantor yang ada di ibu kota serempak menerapkan sistem work-from-home bagi para pegawainya. Pada minggu pertama pernerapannya hampir semua gembira menyambut sistem ini. Namun setelah 3 minggu berjalannya WFH, sebagian besar kian mengeluhkan tidak produktifnya langkah ini.

Work From Home jadi topik pembicaraan paling pasaran yang diperbincangkan warga net dalam kurun waktu beberapa pekan belakangan. Himbauan untuk tetap di rumah dan seruan social distancing untuk memutus rantai penularan wabah jadi alasan sistem ini diterapkan berbagai perusahaan. WFH yang tidak mengharuskan para karyawan untuk datang ke kantornya disambut baik pada awal penerapannya.

Alasan suka cita para karyawan yang mendapat hak WFH pun beragam, dari periang yang tidak perlu berdesakan di transportasi umum pada pagi hari, pengendara motor sejati yang tidak lagi bermacet ria, penerap ekonomis yang bisa berhemat dengan makan di rumah, hingga yang paling bahagia komplotan langganan telat yang tidak lagi dapat teguran perkara absen. Di minggu pertamanya semua bahagia diterapkannya WFH.

Memasukin minggu kedua, rutinitas terasa berubah drastis. Beberapa mulai mengeluh diri, mulai dari isu adaptasi terhadap kebiasaan baru mereka dibilang sukar, koneksi internet abal, hingga suasana sepi dalam rumah membuntukan arah pikir. WFH mulai terasa menyebalkan, mana kala tersadar jadwal kerja dan istirahat yang carut akibat perubahan drastis rutinitas harian normal.

Sekarang memasuki minggu ketiganya dengan situasi makin runyam dirasa. Beberapa menyadari ada penurunan produktivitas, paling terasa pada pekerjaan-pekerjaan yang lazimnya dilakukan koordinasi langsung. Ppekerjaan yang biasa dapat diselesaikan lebih cepat dengan interaksi nyata ini kini harus dilakukan via daring yang butuh koneksi stabil untuk lebih efektifnya. Selain itu ada faktor kejenuhan dengan kondisi rumah yang hiburannya itu-itu dan space minimnya. Terakhir, terdengar setengah konyol setengah munafik, tapi rindu pada suasana kantor benar adanya dan punya pengaruh signifikan pada motivasi kerja.

Pada perjalananya WFH tidak melulu menjadi suatu yang menyenangkan. Dampaknya pada penurunan produktivitas personal dan kian surutnya motivasi kerja jadi sesuatu yang harus diobati. Belum lagi stres dari kian menerornya wabah menyebalkan COVID 19 ini yang terasa jadi makanan sedap media-media.