Pandemik Virus Corona Bawa Duka Dunia

Deras hujan di sepanjang Desember hingga Januari seolah berkisah akan duka dunia sejauh dua bulan terakhir. Pengawal tahun tidak dibuka bahagia, semenanjung Asia nampak agak bermuram. Terlihat jelas lewat musibah pada daratan Tiongkok yang sedang di landa epidemic Corona Virus.

Corona Virus hadir bak badai angin di tengah siang cerah. Warna langit biru tidak cukup membuat semuanya tersenyum lebar, di bawah matahari virus mematikan tersebut menyebar cepat. Tangis haru membasahi para terjangkit, sementara yang bertahan diselimuti doa dari segala penjuru.

Virus Corona sejatinya adalah patogen utama penyebab beragam wabah epidemik mematikan sejenis. Sebelumnya wabah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV) adalah buah perkembangan nya. Virus yang menyerang organ pernapasan atas dan bawah ini cukup berbahaya jika sudah memasuki jangka lanjut.

Virus Corona yang menjangkit daratan Tiongkok pada 2019 termasuk jenis baru. Evolusi yang terjadi dinilai cukup cepat dan lebih kuat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menamainya coronavirus 2019-nCoV. Virus Corona menginfeksi saluran pernafasan bagian atas dan bawah, gejala awalnya seperti pileks berkepanjangan, demam, batuk kering dan diare. Seiring berkembangnya virus dalam tubuh dapat menyebabkan penyakit pernapasan, radang, demam tinggi hingga ke level yang lebih serius seperti Pneumonia hingga komplikasi organ.

Virus corona murninya adalah virus yang diidap hewan-hewan liar seperti musang, kelelawar, tringgiling, landak hingga ular. Pada kasus corona 2019, para terjangkit awal virus tersebut umumnya adalah pengkonsumsi hewan-hewan liar yang dinilai umum pada wilayah Wuhan, provinsi Hubei, Tingkok. Pola makan yg kurang lazim tersebut ditambah dengan minimnya kebersihan dan cara pengolahan yang salah membuat virus bersemayam dalam tubuh manusia. Virus yang menjangkit tubuh manusia lalu bermutasi menjadi lebih kuat hingga menular.

Virus Corona hingga saat ini sudah merebak ke 14 negara dengan jumlah kasus sebanyak 2700, 80 diantaranya meninggal dunia. Wabah tersebut jadi perhatian seluruh organisasi kesehatan terutama di bilangan Asia sebagai sumbernya. Di Tiongkok sendiri beberapa wilayah terpaksa di isolasi untuk mengurangi penyebaran virus. Naasnya hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang cukup ampuh untuk menanggulangi epidemik ini.