Ulah Bengal Pengguna Strobo

Aksen cahaya biru bergaris, nyentrik dengan sirine berbunyi nyaring memekakan telinga. Di belakang, sebuah mobil berplat hitam ngotot ingin mendahului. Tetibanya di lampu merah, Polantas berompi hijau siap memberhentikan dengan tegasnya. Pengemudi bodoh tersebut lantas kalap, strobe nya di oyak-oyak sang petugas dengan kertas tilang.

Penggunaan strobo atau lampu tambahan hingga sirine jelas ada aturan nya, larangan secara pasti tertera, sosialisasi gencar dilakukan baik langsung maupun melalui media sosial. Alasan beragam menyelimuti sang pengguna, atas dasar keindahan atau menambah kesan eksentrik kendaraan, gagah-gagahan, keamanan hingga guna tidak penting lain nya.

Selain mobil, banyak pula pengendara sepeda motor yang menggunakan alat serupa. Entah memang tren, mempercantik, atau sebagai alat penambah gagah, penggunaan strobo pada sepeda motor biasanya di dominasi motor besar, motor cc besar hingga rombongan touring.

Penggunaan lampu sejatiya dijelaskan tegas pada Undang-Undang (UU) Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Nomor 22 Tahun 2009 pasal 59 ayat (5). Penindakan nya gencar dilakukan karena banyaknya pengendara yang menyalahgunakan fungsi lampu tersebut. Pasal tersebut berisi, lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk mobil Petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk mobil tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadam kebakaran, ambulans, Palang Merah, dan jenazah. Sedangkan lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk mobil patroli jalan tol, pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek Kendaraan, dan angkutan barang khusus.

Hukuman nya lumayan tegas, buktinya tertera pada Pasal 106 ayat (4) huruf f, atau Pasal 134 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000 (Dua ratus lima puluh ribu rupiah).