Meski Uzur, Regenerasi Pengguna Twitter Berlangsung Mulus

Twitter belakangan semakin marak oleh keberadaan akun-akun tidak jelas, sehingga apapun yang tersaji di dalamnya, penuh dengan kesimpangsiuran informasi.

Bagaimana mereka yang menjadi pendahulu pengguna Twitter sebelum generasi sekarang, menyikapi segala perubahan drastis terhadap salah satu alat media sosial paling hit di pertengahan masa 2000-an tersebut? Mulai dari profil para user yang semena-mena serta sekena-kena, kemudian isi-isi twit berantakan anti teori, dan kegundahan era sekarang yang kian menjadi-jadi, malah terkadang berujung terhadap depresi diri.

Sebagian besar teman mengemukakan bahwa mereka merasa sudah tidak bisa masuk lagi terhadap konten-konten generasi masa sekarang. Selain dianggap tidak nyambung dengan selera mereka, rasa gembira resah gelisah konten hari ini sungguh berbeda drastis dengan apa yang mereka post di waktu lalu. Relevansinya hampir tidak ada, apa lagi koneksinya.

Sementara para anak muda tersebut malah cuek bebek melenggang dengan pelbagai kerisauan, nada-nada rindu, dan rona-rona asmara kicauan mereka, tanpa pernah memedulikan akar dari bunga-bunga Twitter di masa lalu.

Satu hal pasti, aplikasi ini selalu dipenuhi gurau canda yang luar biasa maksimal, di mana banyak terjadi viral yang awal mulanya muncul dari sini. Hal itu diimbangi pula oleh keburukan kejulidan dan ujaran kebencian produksian Twitter. Yang dampaknya selalu berujung terhadap kebencian masal, pembunuhan karakter secara masif, serta pembubaran hubungan komunikasi baik dengan yang dikenal maupun tak dikenal.

Sekarang, Twitter sudah jadi milik generasi baru. Facebook, masih dipegang warga lama, sementara Instagram dan YouTube? Temukan jawabannya pada diri Anda.