HOOQ Tamat. Apakah Ini Pertanda Bisnis Video On Demand Tergolong Tidak Aman?

HOOQ Tamat. Apakah Ini Pertanda Bisnis Video On Demand Tergolong Tidak Aman?

Tak dapat dipungkiri, perubahan pola konsumsi informasi manusia kian berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi. Satu diantaranya yang menarik disimak adalah gejolak konsumsi Video on Demand yang kian meroket serta laris manis dengan varian film-film dan serial yang disaji dalam masing-masing platformnya. Namun selalu ada persaingan ketat para pelaku di tengah ramainya pasar. Beberapa harus tersingkirkan dan angkat kaki, seperti HOOQ yang resmi pamit pada 30 April mendatang.

Setelah meningkatnya perhatian dunia pada pandemi COVID-19 dan langkah antisipasinya lewat social distancing dan lockdown, platform Video on Demand seperti mendapat ‘berkahnya’ tersendiri. Pada masa terjenuh ini fitur-fitur yang disedikan platform streaming ini sepertinya jadi angin segar yang siap menghibur masa karantina. Kelebihannya yang dapat dikonsumsi secara portable, bebas memilih apa yang akan diputar dan tidak ada batasan waktu membuat platform VoD kian diboyong penggunanya. Hal ini pun diamini dengan data yang diutarakan salah dua perusahaan penyedia layanan VoD, Iflix dan Netflix. Iflix menyebutkan adanya kenaikan pengguna hingga 25% semenjak pemberlakuan work-from-home sedangkan Netflix sebagai pemuncak klasemen popularitas dan dedengkot ranah VoD menyebutkan pula ada 15,8 juta pengguna baru per Maret lalu ketika pola lockdown marak diterapkan di berbagai negara dunia.

Namun hal serupa nampaknya tidak banyak berdampak pada HOOQ. Perusahaan layanan VoD asal Singapura ini resmi mengumumkan kabar buruk yang memastikan tidak lagi beroperasi per 30 April mendatang. HOOQ yang merupakan perusahaan joint venture antara Singapore Telecommunication Ltd (Singtel), Sony Pictures Television, dan Warner Bros Entertainment ini tidak dapat lagi melanjutkan layanannya setelah pemegang sahamnya memutuskan untuk melikuidasi perusahaan. Keputusan ini berkaitan dengan penilaian Singtel sebagai pemilik 76,5 persen saham terhadap gagalnya pertumbuhan HOOQ dan urungnya profit berkelanjutan yang tidak timpang dengan biaya produksi yang semakin naik. HOOQ yang berdiri pada 2015 pun harus mengakhiri jalannya di umur mudanya.

Berita tutup buku HOOQ agaknya membuka mata akan adanya persaingan sengit dalam industri Video on Demand. Adu muatan dan kualitas sedang panas terjadi di industri ini. Faktor-faktor suksesi seperti kurasi ketat sajian film-film dan serial berkelas, metode promosi, gaya masing-masing platform VoD hingga hal fundamental seperti tampilan aplikasi akan lebih sengit berlangsung. Belum lagi kemunculan-kemunculan peserta baru dari perusahaan raksaksa seperti Apple TV Plus hingga Disney Plus dengan amunisi-amunisi tayangan berkelasnya yang perlahan ambil andil meramaikan pasar.

Share this article :
Vantage Banner Ads