Tiktok akan Berikan Gaji US$ 200 juta Kepada Para Pembuat Konten

Kehebohan TikTok tahun ini memang telah menyebar ke seluruh dunia. Aplikasi yang satu ini berhasil mengubah citranya dari aplikasi yang di cap negatif menjadi platform yang dapat memberikan berbagai manfaat bagi penggunanya. Tak berhenti sampai disitu saja, aplikasi buatan China ini masih terus berupaya menarik banyak pengguna. Salah satu cara yang sedang ditempuh adalah memberi gaji kepada para pembuat konten. Tak tanggung-tanggung, dana segar sebanyak US$200 juta telah disiapkan TikTok.

TikTok baru saja mengumumkan jika mereka akan memberikan gaji sebesar US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,9 triliun untuk mempertahankan dan menarik pembuat konten di Amerika Serikat agar terus bermain TikTok.

Dalam laman resminya, TikTok memiliki tujuan untuk mendukung mereka yang ingin meraih mimpinya dengan mengeluarkan bakat dan kreativitasnya. Dana yang digelontorkan tersebut juga disuntikan untuk membantu mereka yang mencari peluang untuk menambah penghasilan melalui pembuatan konten.

“Untuk mendukung para kreator, kami telah meluncurkan program ‘TikTok Creator Fund’ untuk mendorong mereka yang bermimpi untuk menggunakan suara dan kreativitasnya untuk merintis karier yang inspiratif. Pendanaan di Amerika Serikat akan dimulai dengan US$ 200 juta untuk mendukung kreator yang berambisi untuk melihat peluang untuk menambah penghasilan dari konten yang mereka buat. Dana tersebut nantinya akan disalurkan untuk tahun yang akan datang dan diharapkan akan terus bertambah kedepannya,” bunyi pernyataan TikTok.

Untuk mengikuti program tersebut, TikTok telah menentukan beberapa persyaratan yang tak begitu sulit dipenuhi. Pertama para pengguna harus berusia minimal 18 tahun, memiliki jumlah pengikut yang telah memenuhi standar, dan konsisten untuk membagikan konten yang sesuai dengan ketentuan TikTok.

Selain dana sebesar US$ 200 juta tadi, perusahaan aplikasi asal China itu juga mempersiapkan beberapa program lainnya untuk mendukung para pembuat konten. Seperti program ‘Creative Learning Fund’ yang telah menggelontorkan dana sebesar US$ 50 juta (Rp 728 miliar) untuk para guru di Amerika Serikat. Dana tersebut dilaporkan telah digunakan oleh sekitar 1.000 gurus selama masa pandemi Covid-19.

Program lainnya yang sedang dijalankan TikTok adalah ‘TikTok Creator Marketplace’. Sesuai namanya program ini bertujuan untuk membantu brand untuk menjalin kemitraan dengan para pembuat konten inovatif di TikTok untuk membangun kesadaran merek dan menarik konsumen baru.

Beberapa program diatas adalah bentuk dari inovasi yang dilakukan TikTok. Pasalnya para pesaing platform tersebut sudah terang-terangan menggempur, seperti yang dilakukan Instagram dengan meluncurkan sebuah fitur bernama Reels. Fitur tersebut memungkinkan para penggunanya merekam dan mengedit video berdurasi 15 dektik yang bisa dilengkapi musik atau audio dan mengunggahnya ke Instagram.

Sementara saingan TikTok lainnya, YouTube telah membuat sistem yang memungkinkan pengguna untuk memonetisasi channel mereka khususnya pengguna yang berkulit hitam. Dana sebesar US$ 100 juta telah disiapkan YouTube untuk menjalankan program tersebut.