Tentang Drama Keputusan Ganja yang Sempat Ditetapkan Menjadi Tanaman Obat

Pembahasan tentang Ganja memang tak ada habisnya. Salah satu zat adiktif itu bagai dua mata pisau. Di satu sisi tanaman tersebut dipandang sebagai perusak generasi bangsa, namun pada sisi lainnya ganja juga dianggap sebagai zat yang bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Akhir pekan lalu, Ganja sempat menjadi perhatian masyarakat tanah air setelah ditetapkan sebagai tanaman obat binaan oleh Kementerian Pertanian. Namun tak lama setelah itu, penetapan ganja sebagai tanaman obat binaan dicabut oleh Menteri Pertanian. 

Ganja sempat mencuri perhatian masyarakat pada akhir pekan kemarin. Tanaman yang bernama latin Cannabis Sativa itu sempat ditetapkan sebagai tanaman obat binaan oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Penetapan tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 104 Tahun 2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian. Rupanya keputusan tersebut telah ditandatangani Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sejak 3 Februari 2020 lalu. 

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 104 Tahun 2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian, ganja masuk dalam komoditas tanaman obat di bawah naungan Direktorat Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementan. Pada kategori yang sama terdapat 66 jenis tanaman obat yang juga dibina oleh Dirjen Hortikultura. Beberapa diantaranya adalah kecubung, mengkudu, kratom, brotowali, hingga purwoceng.

Namun ganja sendiri telah masuk ke dalam kelompok tanaman obat sebenarnya sejak 2006 silam. Dilansir dari kompas.com, tanaman yang masuk dalam kategori psikotropika itu tercantum dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511 Tahun 2006. Adapun kebijakan ini untuk memposisikan ganja untuk ditanam untuk kepentingan pelayanan medis dan atau ilmu pengetahuan.

Namun keputusan tersebut memancing polemik di tengah masyarakat. Pasalnya ganja diketahui sebagai zat yang tergolong dalam narkoba dan dianggap berdampak buruk bagi generasi bangsa. Tak lama setelah pengumuman itu, Kementan mencabut sementara penetapan ganja sebagai tanaman obat binaan.

“Kepmentan 104/2020 tersebut sementara akan dicabut untuk dikaji kembali dan segera dilakukan revisi berkoordinasi dengan stakeholder terkait,” kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Tommy Nugraha dilansir dari CNN Indonesia.

Pihak Kementan pada kesempatan tersebut juga mengonfirmasi jika mereka akan mengkaji peraturan tersebut bersama Badan Narkotika Nasional (BNN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Padahal, langkah untuk menetapkan ganja sebagai tanaman obat dinilai sebagai hal yang baik untuk dunia kesehatan. Bahkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand sudah lebih dulu meneliti dan memanfaatkan ganja untuk kepentingan pengobatan.