May Day Kelam di Tengah Pandemi

May Day Kelam di Tengah Pandemi

Ada yang berbeda dari 1 Mei di tahun 2020. Pandemi COVID19 yang melanda seluruh belahan dunia membuat May Day tahun ini senyap dari aksi dan demonstrasi seperti sedianya. Terutama di Indonesia, Peringatan Hari Buruh agaknya harus diperingati dengan awan kelabu teror PHK yang menggelayut di benak para buruh.

Wabah virus corona atau COVID 19 berdampak besar pada stabilitas segala sektor. Tidak hanya pada sektor kesehatan, krisis pun seolah menggoyahkan sektor ekonomi yang kian fluktuatif pergerakannya. Himbauan social distancing dan penerapan PSBB memaksa produksi diberhentikan sementara, angka kerugian pun membumbung seiring harinya.

Krisis tersebut secara langsung berdampak pada kelangsungan karir para buruh yang harus terima jika sewaktu-waktu harus diberhentikan sepihak dari perusahaan yang tidak mampu lagi menutupi bengkaknya biaya operasional. Pikiran tersebut agaknya akan terus menggelayut dalam pikiran tiap-tiap buruh yang cemas, bagaimana kelanjutan harinya kelak.

Apa yang menjadi pikiran para buruh tersebut bukan lagi sekedar ketakutan tak beralasan. Data yang dirilis Kementerian Tenaga Kerja menunjukan jumlah pekerja yang di-PHK per 11 April lalu tercatat menyentuh angka 160.067. Jumlah tersebut pun diperkirakan kian bertambah seiring dengan pandemi COVID19 yang masih berlangsung.

Apa yang terjadi di May Day tahun ini mungkin adalah yang terkelam sejauh beberapa dekade terakhir. Aksi sakral yang berumur lebih dari 1000 tahun tersebut pada tahun ini harus diperingati dengan rasa kelam prihatin dan cemas duka cita.

Share this article :
Vantage Banner Ads