Ketika Kepolisian Dituntut Netizen Untuk Lebih Mau Membaca

Sementara kian parahnya kondisi perekonomi dan sosial dampak pandemi COVID 19, spekulasi dan kemungkinan meningkatnya kriminalitas jadi isu hangat. Penjarahan dan aksi vandalisme terstruktur yang didalangi kelompok Anarko Sindikalis 18 April mendatang jadi isu yang dihembuskan Polda Metro. Sementara netizen menanggapinya setengah serius akibat banyaknya bukti-bukti sitaan yang melenceng dalam perkembangan kasusnya.

Maraknya coretan-coretan bernada provokasi seperti “Sudah Krisis, Saatnya Membakar” dan “Kill The Rich” nampaknya jadi konseren pihak kepolisian di beberapa kota selama dua pekan ini. Penyelidikan pun dikembangkan dan menuai spekulasi yang menyebutkan kelompok paham Anarko jadi dalang atas semua ini.

Penangkapan beberapa tersangka pun dilakukan, dari hasil pemerikasaan Polda Metro jaya menduga ada rencana aksi vandalisme serentak dari kelompok ini pada 18 April mendatang di beberapa pulau besar di Indonesia. Menurut pihak kepolisian, aksi ini bertujuan untuk menciptakan keonaran, pembakaran hingga berujung penjarahan di tengah kecemasan akan pandemi dan krisis ekonomi.

Namun ada yang menarik disoroti dari perkembangan kasus ini. Salah satu yang kian jadi lelucon warganet adalah banyaknya buku-buku di luar paham radikal anarkis yang jadi barang bukti sitaan kepolisian dari para tersangka.

Diantara buku-buku sitaan yang jadi kontroversi tersebut adalah novel Negeri Para Bedebah dari Tere Liye, buku bersampul molotov dengan judul Corat-coret di Toilet karya Eka Kurniawan, buku berisi pembahasan sejarah revolusi di Indonesia seperti Aksi Massa tulisan Tan Malaka hingga buku best-seller Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat dari Mark Manson yang sungguh terkesan maksa dan konyol jika dijadikan sebagai barang bukti pidana gerakan radikal ataupun ujaran kebencian.

Para netizen menebar kelakar dan cemooh tentang harus ada minat baca yang lebih bagi institusi hukum ini dalam pengembangan sebuah kasus yang berhubungan dengan kemunculan paham radikal. Sampai-sampai beberapa setuju pada sebuah kalimat yang berbunyi “Rajin membaca jadi pandai, malas membaca jadi poli….”