Keringat Malu Pewarta Fatwa Haram Netflix

Media sosial gempar, fokus tertuju pada warta sesat tentang fatwa haram MUI yang tertuju ke platform streaming Netflix. Muda-mudi bersuara keras, seketika beranda sosial media menghujat majelis suci tersebut. Sehari setelahnya sebuah pernyataan MUI tersiar menanggapi. Sang majelis suci tidak pernah berkata demikian. Para warta diam menahan malu berita miringnya yg terlanjur tersuar.

Awal dari kabar miring berasal dari penjelasan Prof. Hasanuddin selaku Ketua Dewan Fatwa MUI mengenai konten negatif yang beredar pada ranah maya 22 Januari 2020 lalu. Hasanuddin mengatakan Pemerintah seharusnya melindungi masyarakatnya dari konten negatif dengan memblokirnya. Termasuk jika ada konten negatif pada Netflix.  Serentak media besar sekelas Tempo dan Detik pun tergugah, beritanya digoreng habis hingga membuah metafora kata Haram pada headline.

Publik pun panas menanggap, muda-mudi vokal membela Netflix yang dianggap penuh manfaat dan berisi karya-karya hebat dunia. Beranda sosial media kian memanas menghujat majelis suci, lewat cuitan dan meme sarkas. Lontaran kekecewaan menggunung, seiring dengan makin derasnya kabar yang mengekor warta Tempo dan Detik.

Paginya Majelis Ulama Indonesia mereaksi. Dilansir dari Kompas.com, pihak MUI pun menjawab. “Siapa yang mengatakan itu, Saya tidak tahu menahu, tidak benar itu. Saya sendiri tidak tahu Netflix.” ujar Prof. Hasanuddin. Jawaban yang jelas menanggapi kekeliruan yang simpang siur belakang hari.   

Sementara dalam sebuah jumpa media, Ketua Komisi Dakwah MUI, M Cholil Nafas bernada sama. Pihaknya belum menetapkan fatwa haram Netflix, prosesnya baru sampai tahap kajian beberapa pihak dan masyarakat. Fatwa haram baru akan di-sah-kan sampai ketuk palu sidang pleno fatwa.

MUI merespon keras pemberitaan media-media dan publik memalak pertanggung jawaban dari para pemberi berita. Media bergeming, menahan malu hingga detik ini. Tensi tinggi merebak dalam newsroom. Para editor mungkin panas kepala sibuk menyunting kabar yang terlanjur terbit. Sementara Pemimpin Redaksi mencak-mencak murka. Selamat berjuang menyelamatkan kredebilitas, teman-teman.