Menelisik Kampung Narkoba yang Mirip dengan Markas Kartel Kolombia

Baru saja saya menamatkan satu serial yang bercerita tentang ganasnya salah satu pemain narkoba terbesar sepanjang sejarah yakni kartel Kolombia. Tak lama setelah menyelesaikan serial itu, beredar kabar bahwa di Republik ini juga terdapat pemain narkoba yang perangainya mirip dengan Kartel yang saya saksikan itu. Sebuah kampung di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, disebut aparat serupa dengan Kartel Kolombia karena memiliki mekanisme pengamanan berlapis. Luar biasa.

Belum habis ingatan saya dengan serial milik Netflix yang baru saya selesaikan, yakni Narcos. Serial yang bercerita tentang bagaimana para kartel narkoba bekerja ini menyajikan aksi yang begitu mencengangkan. Segala modus operandi dilakukan secara rapi dan terencana dengan baik. Mulai dari produksi, penjualan, hingga keterlibatan orang-orang yang mendukung industri barang haram itu disusun sedemikian rupa agar tak terendus oleh aparat setempat.

Masih larut dalam cerita kartel narkoba tadi, saya pun disuguhkan dengan pemberitaan bahwa di negeri ini juga ada kampung narkoba yang serupa dengan saya saksikan baru-baru ini. Ya, sebuah kampung di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, disinyalir menjadi markas bandar narkoba yang memiliki pengamanan setingkat kartel Kolombia. Wow.

Denah kampung narkoba yang mirip dengan kartel Kolombia. Kredit foto: detikcom

Dilansir dari detik.com, Kapolresta Palangka Raya, Kombes Dwi Tunggal Jaladri mengatakan bahwa kampung narkoba tersebut memiliki tiga lapis keamanan di mana masing-masing gerbang dijaga oleh mata-mata para bandar narkoba. Tak hanya itu, mereka yang ditugaskan berjaga telah dibekali dengan handy talkie dan drone untuk memudahkan koordinasi. Kawasan ini juga berjarak cukup jauh dari keramaian yaitu sekitar 3 km dari jalan raya.

“Memang kampung narkoba di sini seperti di Kolombia, yang ada pakai pos pantau, pakai tower, pakai pos 1, pos 2, pos 3. Dan tiap polisi masuk ke sana kalau cuma 10 orang pasti dikeroyok sama bandar di sana,” ucap Kombes Dwi.

Potret pos penjagaan yang dibakar polisi. Kredit foto: detikcom

Meski berlokasi di tempat terpencil, kampung narkoba ini mampu menghasilkan perputaran uang sebesar 6 miliar rupiah. Menurut keterangan dari aparat setempat, para bandar narkoba tersebut menjual sabu dengan harga mulai dari 50 ribu sampai 1 juta rupiah. 

“Peredaran narkoba di sana dalam sebulan menghabiskan sabu sekitar 3 kg atau perputaran uang di sana untuk narkoba sekitar 6 miliar rupiah,” tambah Kombes Dwi.

Pada lokasi ini juga terdapat arena berjudi yang biasa digunakan sindikat narkoba tersebut. Arena berjudi itu berada dekat dengan portal masuk ke area penjualan narkoba setelah melewati pos 2 penjagaan. Hal ini tentu mengingatkan saya dengan penjara yang dibangun sendiri oleh Pablo Escobar. Di mana penjara itu juga menyediakan arena judi dan wahana hiburan lainnya.

Hal lainnya yang begitu identik dengan kartel Kolombia adalah, sindikat narkoba ini telah menyiapkan rencana kabur apabila digerebek oleh polisi. Para bandar memiliki dua akses melalui hutan dan sungai untuk melarikan diri. Tak hanya itu mereka juga telah menyiapkan speed boat yang bisa dipakai untuk kabur melalui jalur sungai. 

Namun layaknya kartel Kolombia yang petingginya telah diamankan aparat. Sindikat narkoba Palangka Raya ini sepertinya akan mengalami akhir yang sama. Pasalnya polisi setempat akhirnya berhasil melakukan penggerebekan setelah berkali-kali gagal. Pada aksi ini, aparat berhasil mengamankan lima orang. Selain itu terdapat barang bukti berupa 16 paket sabu, 20 isap sabu, senapan, senjata tajam, dan uang tunai sebanyak 16 juta rupiah.