Menelisik Fatwa Peniadaan Sementara Ibadah Berjamaah  Selama Social Distancing

Menelisik Fatwa Peniadaan Sementara Ibadah Berjamaah Selama Social Distancing

Momok pandemi corona seakan menjadi borok yang menyulitkan pergerakan dan aktivitas sewajarnya. Banyak yang harus rela ditunda, batalkan bahkan direncanakan ulang.

Begitu juga dengan rutinitas harian yang harus diubah lajunya akibat penerapan social distancing antar personal. Corona nampak tidak puas menghancurkan rutinitas pekerjaan dan hidup sehari-hari. Akibat penularannya yang super cepat, beberapa pemuka agama dan pemangku jabatan harus mengambil keputusan kontroversial demi mempersempit penyebaran. Langkah yang menjadi buah bibir banyak masyarakat tersebut mengenai pelarangan ibadah berjamaah di rumah suci.

Penyebaran virus corona menjadi pekerjaan rumah yang harus sama-sama dikerjakan guna mencapai usainya. Social distancing adalah langkah yang dipilih untuk menekan angka pasien positif yang jumlahnya telah memenuhi tiap bangsal rumah sakit resmi. Untuk itu langkah pengurangan interaksi sosial pun digalakan terhadap semua lini masyarakat.

Pengurangan interaksi antar personal dan pemberlakuan sistem social distancing dilakukan di segala lini, tidak terkecuali dalam ranah agama dan yang menyangkut cara beribadah. Seperti yang telah kita ketahui, beberapa kepercayaan yang ada memiliki tata laku ibadah berjamaah atau berkumpul di dalam rumah suci. Demi mengurangi dan mengantisipasi penularan virus corona kala ibadah berjamaah dan berkumpulnya banyak orang, pemerintah pun membuat sebuah himbauan untuk sementara menghentikan aktivitas ibadah berjamaah.

Hal tersebut direspon baik Majelis Ulama Indonesia selaku badan yang tahu betul prosedural pembentukan fatwa demi keselarasan dan kepentingan umat Islam. MUI menyetujui saran pemerintah. Sebagai kelanjutannya, Majelis Suci tersebut pun mengeluarkan larangan dan tata cara salat berjamaah sementara seperti yang tertera dalam Fatwa Nomor 14 Tahun 2020. Fatwa yang secara garis besarnya melarang ibadah berjamaah sementara dan pemindahan sementara aktivitas ibadah ke rumah masing-masing hingga situasi aman. Fatwa tersebut pun direspon positif organisasi besar Islam lainnya seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Selain Majelis Ulama Indonesia, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) juga mengambil tindakan preventif yang sama guna mendorong upaya social distancing. PGI yang menjadi induk gereja-gereja di Indonesia menghimbau bagi semua gereja dan para umat di Indonesia untuk sementara menjalankan ibadah mingguannya di rumah masing-masing guna menjaga kesehatan. Meski demikian, ia mengaku pihak gereja-gereja tetap memberikan fasilitas kepada warga yang menjalankan ibadah Minggu di rumah. Gereja-gereja tersebut akan menyediakan layanan live streaming.

Keputusan penutupan sementara rumah ibadah dan pelarangan ibadah berjamah menjadi buah bibir berjuta-juta orang di dunia maya. Beberapa pihak merasakan sangat pentingnya keputusan ini dibuat demi menghindari salah presepsi, sedangkan banyak pula pihak-pihak lain yang merasa dirugikan karenanya dan  kekeh untuk melaksanakan solat berjamaah.

Share this article :
Vantage Banner Ads