Industri Startup Yang Babak Belur Diterjang Badai Pandemi

Berbulan-bulan lamanya pandemi Covid-19 telah meruntuhkan ekonomi dunia. Banyak industri di belahan yang harus menyesuaikan operasionalnya untuk tetap bertahan. Bahkan banyak dari perusahaan yang harus melakukan PHK untuk efisiensi pengeluaran. Hal ini pun juga dialami industri Startup, yang notabene mendapatkan pendanaan cukup besar. Beberapa Startup yang memiliki status Decacorn macam Gojek, Grab, Traveloka pun tak bisa menghindari efek pandemi dan terus berupaya memulihkan bisnisnya.

Bulan Juni tahun ini tak seindah penggambaran dalam puisi karya Sapardi Joko Damono. Badai ekonomi akibat pandemi masih menerpa banyak industri di belahan dunia. Di Indonesia pun bencana PHK masih terus berlangsung hingga kini, yang menarik Industri Startup juga larut dalam bencana ekonomi yang deraannya tak terkira. Nyatanya badai pandemi tak mengenai gelar Decacorn (pemilik valuasi di atas US$ 10 miliar) dan Unicorn (pemilik valuasi di atas US$ 1 miliar) yang disematkan pada Startup.

Pandemi Covid-19 membuat perubahan perilaku konsumen masing-masing startup. Berbagai pembatasan yang diterapkan pemerintah membuat permintaan konsumen berubah di beberapa sektor.

Badai Pemecatan

Dilansir dari katadata.co.id, terhitung sejak 11 Maret 2020 terdapat 511 perusahaan startup secara global yang terpaksa merumahkan karyawannya sebanyak 67.496 orang. Di Indonesia sendiri, beberapa perusahaan startup besar telah mengumumkan PHK pada karyawannya.

Traveloka menjadi salah satu startup yang cukup terdampak akibat pandemi Covid-19. Sejak larangan berpergian diberlakukan pemerintah pada Maret lalu, jumlah pembelian tiket transportasi pun berkurang drastis. Akibatnya Traveloka terpaksa melakukan PHK terhadap 100 karyawan atau setara dengan 10 persen dari total seluruh pegawai.

Selain Traveloka, perusahaan OYO Hotels juga melakukan PHK pada 5.000 karyawannya di sejumlah negara. Startup yang sedang berkembang pesat ini terpaksa melakukan kebijakan PHK karena industri pariwisata benar-benar lumpuh akibat merebaknya pandemi Covid-19.

Bidang transportasi pun tak luput dari badai pandemi, dua startup besar Gojek dan Grab telah mengumumkan jika mereka memangkas karyawannya. Gojek pada minggu lalu telah melakukan PHK pada 430 karyawan dan menghentikan beberapa layanan. Layanan tersebut antara lain GoMassage, GoClean, dan GoFood Festival.

Sementara Grab juga melakukan PHK terhadap 360 karyawannya di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Keputusan ini terpaksa diambil karena perubahan perilaku konsumen yang menghindari kontak fisik ataupun kegiatan yang tak memungkinkan untuk berjaga jarak.

Terpaksa Menutup Layanan

Pandemi Covid-19 bukan hanya memaksa banyak startup melakukan kebijakan PHK untuk menyelamatkan bisnisnya. Beberapa startup lain bahkan sampai harus menutup operasi karena tak sanggup menanggung beban selama pandemi. Seperti halnya yang dilakukan oleh penyedia layanan video on demand, HOOQ.

Perusahaan yang berbasis di Singapura itu resmi menutup layanannya di Indonesia secara permanen pada 30 April lalu. Meski didukung nama besar seperti Singtel dan Sony Pictures, perubahan perilaku konsumen membuat HOOQ tak mampu menanggung biaya operasional yang semakin meningkat.

Satu bulan berselang, giliran Airy Room yang mengumumkan pengentian layanannya di Indonesia pada 31 Mei 2020. Perusahaan jaringan hotel tersebut tak bisa bertahan lantaran kondisi pariwisata yang lumpuh karena pandemi Covid-19.

Kebijakan yang diterapkan banyak perusahaan startup memang wajar dilakukan untuk menyelamatkan bisnisnya. Belum berakhirnya pandemi Covid-19 menimbulkan ketidakpastian ekonomi yang masih melambat. Dengan kondisi yang ada, apakah startup yang masih berdiri akan mampu bertahan melawan pandemi?