35 Persen Kali Sejuta Cemas Perokok Aktif Bumi Pertiwi

Beribu gundah gulana menggandrungi kepala dan kocek perokok aktif Bumi Pertiwi.  Bagaimana tidak, konsumsi pokok harian mereka terbebani dengan keputusan pemangku kepentingan. Atas dasar pengendalian dari kenaikan perokok aktif, cukainya dinaikan setinggi langit hingga angka 35 persen.

4 Sehat 5 Sempurna 6 Bahagia. Kedudukan ke enam ditempati Nikotin, zat inti dari padat tembakau yang dibakar pada sebatang rokok. Bagi sebagian penduduk Indonesia, nikotin bukanlah zat asing. Hasil laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas, Asean Region mendapati Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak. Angka 34 persen tercokol dari grafik yang ditunjukan. Mengungguli Filipina pada urutan kedua dengan presentase 16,5 persen dan Vietnam dibawahnya dengan 15,6 persen.

Dampaknya akan terasa jelas, nikotin dan zat candu tidak lagi bersahabat di kantong kempis. Sebungkus rokok yang awal rata-rata harganya Rp 20.000 akan meroket naik ke harga Rp 26.000 – Rp. 30.000,- cukup menyiksa kocek. Disamping itu, dampaknya akan terasa pula pada akarnya. Para Petani tembakau merasa kenaikan ini aka berdampak pada kesejahteraan mereka, suara mereka lewat Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI).

Tidak hanya pada rokok konvensional. Liquid pada Vape (rokok elektrik) pun kena dampaknya. Inovasi yang awalnya digadang-gadang mengurangi pengeluaran dari konsumsi rokok konvensional ini pun kena getahnya. Hal ini sejalan dengan alasan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) untuk menekan peredaran Vape.

Beberapa kalangan perokok berat dihadapkan pada pilihan sulit guna menekan pengeluaran dari kenaikan rokok tersebut. Pilihan nya tiga, pertama; berhenti mengkonsumsi rokok permanen, kedua; mengurangi konsumsi rokok perhari, atau yang ketiga cukup menarik, beralih pada tingwe (linting ndewe). Tingwe jadi solusi terampuh, membeli produk tembakau bebas cukai lalu melintingnya sendiri menjadi batang rokok, manual. Solusi alternatif ini ternyata jadi pilihan favorit, harga tembakau non-cukai yang murah jadi alasan nya. 1 Ons nya dihargai Rp. 60.000,- dapat menghasilkan kira-kira sekitar 70 batang rokok.

Kekurangan nya ada pada rasa. Dengan saus dan racikan yang tidak sesuai dengan standarisasi pabrik tentunya akan menghasilkan rasa yang berbeda. Kadar nikotin yang terkandung pun tidak dapat ditebak, sensasi pusing karena besarnya nikotin kadang kali terasa bagi yang tidak terbiasa. Silahkan coba!