Seisi Dunia Paranoid Dengan Ragam Teori Konspirasi Corona

Di tengah panik berbalut cemas insan hidup pada wabah Corona Covid 19 dan kian derasnya arus informasi dari ranah digital yang tidak dapat dibendung alirnya, spekulasi-spekulasi semerbak muncul. Artikel-artikel minim fakta yang mengaitkan kemunculan pandemi ini dengan hal-hal terkait senjata biologis pemusnah masal ramai diserbu. Mengapa masih banyak manusia yang percaya pada narasi-narasi yang terdenger seperti dongeng fiksi tersebut?

Semenjak kemunculanya di daratan Wuhan, sudah berpuluh teori mengenai Corona mengait. Mulai dari invasi alien, kiriman supranatural dukun Indonesia atas respon konflik Laut China dan yang terlaris menjerumus ke arah pemikiran agenda pemusnahan masal. Seperti halnya teori konspirasi lainnya, tersangka pelakunya tidak jauh-jauh dari Amerika, CIA dan organisasi elit bawah tanah yang mereka percaya memegang kendali dunia.

Fakta nonvalidasi dijadikan pondasi dongeng mereka. Mulai dari kesaksian dan arsip rahasia yang mereka sebut dibocorkan para whistle blower hingga dukungan foto-video yang tidak tahu asli atau suntinganya. Belum lagi gaya tulisan bernada terror pun pertanyaan-pertanyaan retorik yang seakan penting untuk dicari kebenaranya. Oh ya, satu lagi yang terburuk, judul dan headlineclickbait yang senantiasa jadi pematik.

Mengutip salah satu artikel Tirto.id yang sama sinis membahas hal demikian. Dikatakan Joseph Parent, profesor ilmu politik di Notre Dame University yang merupakan rekan penulis American Conspiracy Theories, “Dalam hal ini, teori konspirasi bisa seperti obat emosional. Anda enggan menyalahkan diri sendiri atas hal yang mungkin merugikan Anda, jadi Anda menyalahkan kekuatan yang tak terlihat,” ujarnya.

Menarik kesimpulan pendek dari hal ini. Apa yang terjadi dengan segala teori-teori konspirasi irasional ikhwal Corona Covid 19 yang merebak mungkin saja merupaka respon dari kekhawatiran yang tidak berujung. Dampaknya membuah pengkambing-hitaman pada pihak-pihak yang menurut kita punya daya yang cukup untuk merancang dan menanggulangi pandemi ini, terdekat: Amerika Serikat dengan ke-adidayaan teknologi teranyarnya. Atau yang tertidak masuk akal: organisasi rahasia yang memegang skenario dunia hingga Freemason.

Bisa jadi para penulis teori konspirasi virus Corona Covid 19 terlalu serius mengkultuskan film Contagion (2011) dan novel apik The Eyes of Darkness karangan Dean Krootz sebagai kitab hidupnya di masa carut ini. Panduan nyusruk yang membawa awang pikirnya kabur terlalu lepas. Sementara pembacanya percaya dan ketakutan, menyebarkan di media sosial agar dilihat kritis dan tulisan gila tersebut kian menggulirkan teror fiksi yang lambat laun punya umat yang membuatnya terasa nyata.