Ted Bundy, Flamboyan Tersadis Yang Pernah Lahir Ke Muka Bumi

Ted Bundy, Flamboyan Tersadis Yang Pernah Lahir Ke Muka Bumi

Awet muda, punya paras tampan, tubuh atletis dan kharismatik, menjadi modal sempurna Ted Bundy meluluhkan hati para korbannya. Dirinya adalah contoh nyata bagaimana iblis bisa menjelma dalam wujud manusia. Tanpa rasa kasihan, di balik senyum manis dan lesung pipitnya, Pria yang hidup hingga usia 42 tahun ini nyatanya bertanggung jawab atas tewasnya 30 perempuan dengan kondisi tragis.

Theodore Robert Bundy, lahir di Burlington, Vermont pada pengawal musim dingin 1946. Tidak ada yang salah dengan masa kecilnya. Ted tumbuh besar berkecukupan dan mampu meneruskan pendidikannya ke jenjang universitas. Pada 1969, di sebuah bar yang mayoritas dihuni para mahasiswa Universitas Seattle, Ted bertemu dengan Elizabeth Kendall, seorang janda satu anak yang berprofesi sebagai sekretaris pada Departemen Kesehatan Chicago. Keduanya berkenalan, dan singkat cerita saling jatuh cinta. Ted tampak tulus mencintai Liz dan Molly (anak Liz) sepenuhnya, hubungan keduanya romantis dan harmonis hingga sampai ke tahap tunangan.

Lima tahun berselang atau tepat di tahun 1974, sebuah berita pembunuhan mencuat dan menggemparkan semesta Amerika. Berita menyebutkan 3 wanita belia ditemukan tewas mengenaskan di sekitaran Danau Sammamish. Pelakunya belum diketahui pasti, namun beberapa saksi yang dimintai keterangan memberikan sketsa wajah pelaku. Sketsa wajah pun disebar di tiap-tiap koran, satu-satunya petunjuk pastinya adalah pelaku pembunuhan mengendarai mobil Volkswagen putih.

Indikasi kuat pun mengarah pada Ted, dari sketsa wajah yang benar-benar mirip dirinya, mobil Volkswagen putih yang sama hingga keberadaan Ted di TKP pada hari kejadian. Investigasi dan pengintaian pada Ted pun dilakukan, hingga berbuah penangkapan pada dirinya.

Banyaknya kecocokan bukti membawa Ted ke hotel prodeo, status dirinya pun dinaikan menjadi tersangka. Sepanjang masa penahannya Ted Bundy selalu saja menolak jika dirinya terlibat sebagai dalang dari serangkaian pembunuhan wanita belia dan mahasiswi di 7 negara bagian. Namun dirinya tidak bisa menolak mana kala tak ada pembunuhan terjadi ketika dirinya sedang mendekam di penjara. Hingga sidang akhir dan putusan vonis hukuman matinya, Ted masih kukuh dengan pengakuan dia di awal.

“Aku tak ‘kan meminta belas kasihan. Pada faktanya, aku temukan itu tidak masuk akal untuk memohon sesuatu yang tidak kulakukan. Aku bukan orang yang bertanggung jawab untuk tindakan mengerikan ini. Meski putusan pengadilan menemukan sebagian kejahatan ini telah dilakukan, namun mereka keliru dalam menemukan pelaku aslinya. Aku tidak menerima putusan tersebut, karena putusan tersebut bukan untukku.” Ujarnya kala sidang putusan akhir di Florida.

Di hari di mana hukuman matinya siap dilaksanakan, Ted mengajukan permintaan terakhirnya untuk menemui Liz.  Di hadapan Liz, Ted pun membuat pengakuan. Dirinya berterus terang jika benar memang dirinya yang selama ini menjadi pembunuh berantai atas 30 lebih wanita muda di 7 negara bagian. Beberapa ia perkosa sebelum dibunuh, beberapa dibiarkan mati perlahan, dan beberapa digergaji hidup-hidup.

Hampir semua mayatnya ia simpan di Pegunungan Cascade, beberapa kali ia mampir menengok ke sana untuk sekedar onani atau mengingat kembali bagaimana kepuasannya memuncak kala menghabiskan nyawa. Binatang! Ted pun dihukum mati dengan kursi listrik hingga habis kering kerontang.

Vantage Banner Ads