Mengenang Stone Temple Pilots di PRJ Sembilan Tahun Lalu

Tulisan saya ini 9 tahun lalu pernah dimuat di areamagz.com.

Minggu, 13 Maret 2011, merupakan hari keberuntungan bagi warga Indonesia yang pernah mencicipi nikmatnya musik rock alternatif era awal 90-an.

Sesampainya di Arena Terbuka Pekan Raya Jakarta Kemayoran, saya sudah tidak peduli dengan berbagai opening act yang disajikan panitia. Yang ada di kepala hanyalah pertanyaan-pertanyaan seperti; bagaimana penampilan Scott Weiland sekarang? Sanggupkah dia bernyanyi persis seperti yang ada di dalam CD dan kaset? Mampukah dia melenggak lenggok serta meliukan badannya sebagaimana ciri khas beliau pada masa jayanya dulu?

Kira-kira jam 21.00 WIB, Robert DeLeo (bass) muncul dari sebelah kanan panggung dengan setelan kemeja hitam dan celana boot cut hitam. Kemudian sang kakak, Dean DeLeo (guitar) menyusul dari kiri panggung dengan wardrobe seadanya, a la gitaris standar Amerika. Dan, Eric Kretz (drum) serta Scott Weiland muncul bersama-sama dari bibir panggung sebelah kanan. Eric memakai kaus hijau polos longgar, sementara Scott memakai jacket jeans hitam, dengan dalaman kaos belang putih biru lengan panjang. Perut Scott nampak membuncit. Namun itu tidak menghalangi animo penonton untuk histeris, saat ‘Crackerman’ dijadikan lagu pembuka.

Tanpa banyak basa-basi, ‘Wicked Garden’, ‘Vasoline’, ‘Heaven & Hotrods’, ‘Hickory’ dan ‘Still Remains’ dilantunkan STP secara sporadis, tanpa komunikasi yang berarti dengan penonton. Scott seperti sudah tahu, jika audience-nya hanya butuh lagu STP, bukan obrolan basa basi.

Ketika ‘Big Empty’ dinyanyikan, sontak seisi arena menganggukan kepala semua, untuk menunjukan respect mereka terhadap lagu tersebut. Lanjut ‘Silvergun Superman’ yang kemudian disusul dua lagu STP paling terkenal sepanjang masa: ‘Plush’ dan ‘Interstate Love Song’. Mungkin jika dua lagu ini tidak pernah dibuat STP, mereka tidak akan seterkenal sekarang. Terbukti, hampir semua penonton sing along secara khusuk. Pemandangan ribuan mulut yang menganga pun terlihat dengan jelas. Mungkin mereka masih takjub, jika yang ada di depannya adalah STP.

‘Huckleberry’, ‘Down’, ‘Sex Type Thing’ disemat sebagai ajang eksperimen Dean DeLeo untuk unjuk aksi cara bergitar yang benar. Kemudian ‘Dead & Bloated’ dan ‘Trippin’ menjadi lagu encore yang berhasil menuntaskan pertunjukan STP sebagai hadiah terbaik bagi mereka yang pernah menjadikan lagu-lagu Scott Weiland dkk sebagai soundtrack hidupnya.

Pertanyaan-pertanyaan di paragraf pertama terjawab dengan baik. Scott membuncit, dia bernyanyi dengan benar dari lagu pertama hingga akhir, tidak ada fals sedikit pun. Dan, tarian khas dia masih sanggup dieksekusi selincah masa kejayaannya dahulu kala. Ohya, satu lagi, konser ini benar-benar dipenuhi umat yang berusia 30 tahun ke atas. Thank God.

Sumber Foto: Jurnallica