Sastra Wangi Bukan Hanya Seputar Kemaluan

Sastra Wangi Bukan Hanya Seputar Kemaluan

Selebrasi kebebasan sedari momentum tumbangnya Orde Baru dirayakan secara beragam oleh segenap masyarakat. Selain dari kekebasan pers yang menjadi amanat reformasi, dari ranah cetak lain seperti seni sastra, para geriliya feminis keluar dari sarang busuknya dan ikut andil dalam pesta-pora dengan caranya tersendiri. Seperti yang tertuang dalam karya-karya yang bercerita tentang gambaran ekspolarasi tubuh elok dari para wanita cerdas yang kian hari disebut Sastra Wangi.

Sastra wangi atau sastra selangkangan menjadi kontroversi di awal babak kemunculannya. Banyak dari penulis wanita belia mencoba melakukan eksplorasi baru dalam baluran karya dengan membawa eksplisit-eksplisit erotis tentang elok tubuh wanita, alat kelamin, rayu-rayuan hingga kronologi bercinta yang dengan lihai tertuang semi-frontal dalam karya-karya terkenalnya.

Beberapa praktisi sastra menganggap hal yang dilakukan ini adalah sampah, namun bagi para pelakunya, hal ini dilakukan tidak berdasarkan kecenderungan materi semata. Sastra wangi dianggap sebagai pendobrak ketabuan mengenai seks dan sebagai bukti perlawanan feminis pada budaya patriarki dalam sastra. Penggambaran seksualitas perempuan yang dilakukan digadang-gadang sebagai upaya penunjang kesetaraan gender dan sebagai ekspresi pemberontakan dalam ranah sosial. Pemberdayaan perempuan jadi isu yang paling menonjol bagi para pelakunya yang jelas para kaum hawa.

Selepas fase perdebatan di kemunculannya, Sastra Wangi semakin berterima. Banyak buku-buku yang laris di pasaran merupakan buah karya dari aliran sastra ini. Beberapa pembelinya merupakan pria dewasa yang menganggap bacaan-bacaan sastra wangi punya daya penggugah syahwat dengan kevulgarannya dan dinamika cerita panjang di dalamnya, sehingga tetap menarik untuk ditelaah secara terus-menerus karena memiliki bumbu sexts (teks dan sex) yang menjauhkannya dari kesan membosankan.

Lalu dengan bertambah banyaknya penulis wanita dan semakin pasarannya karya ini dibuat, kepopulerannya menemui ajal. Sastra wangi semakin putus peminat dan ronde mode kian berganti haluan ke cerita-cerita percintaan sederhana pun romantika anak muda. Namun sastra wangi tidak benar-benar mati, nafasnya masih berhembus disela-sela cacat regulasi dan ramainya pergolakan sastra nusantara yang dengan cepatnya bisa berganti tendensinya.

Share this article :
Vantage Banner Ads