Ada sedikit keceriaan di pukul dua malam, setidaknya bagi para remaja tanggung yang lepas tertawa di dini hari sembari menyorak yel-yel, memukul beduk dan menabuh snare guna membangunkan warga dari tidurnya. Tunggu, jangan salah, niat mereka mulia mengingatkan warga untuk segera bersiap diri santap sahur. Ini tradisi lama. Tapi kenapa mars pendukung bola yang dilantunkan?

Kultur sepakbola dan loyalitas pendukungnya memang jadi santapan terdini yang dengan cepat dapat merasuk ke segala lini usia penduduk Indonesia. Influensinya menembus rongga-rongga sosial hingga ke akar paling dasar. Baik tua maupun muda, semua total ketika harus membela tim kesayangannya.

Contohnya ada di 2018 lalu, dengan mudahnya kita melihat spanduk “Kota ini Mau Juara” yang tersebar di segala sudut Jakarta. Kala itu seisi ibu kota bangga, tim kecintaannya, Persija, menutup liga utama dengan status juara. Euforianya tidak lagi miliki segelintir kalangan, yakin, seisi padat kota dapat merasakan suka-rianya.

Mungkin, sangking meresapnya tagut cinta sepakbola dan tim kebanggaan, beberapa pemuda pemudi ibu kota terpikir cara unik mengekspresikan bangganya. Entah karena rasa rindunya pada atmosfir stadion yang kian tidak lagi terbendung, marahnya pada COVID 19 yang merusak jadwal kompetisi, atau fanatisme besarnya pada tim kesayangan, chants-chants dukungan yang biasa dilantangkan di tribun stadion kali ini bergeser fungsi jadi mars para rombongan pengingat sahur dalam menjalankan tugasnya.

Agaknya ini jadi sebuah gambaran sekelebat yang menyiratkan secercah pesan bahwa kehidupan pendukung sepakbola telah meresap hingga bisa hadir dalam dentum snare dan beduk yang ditabuh konstan beberapa remaja. Ini bukti nyata bahwa kecintaannya pada klub sepakbola idolanya tidak sebatas di area stadion atau sesak tribun. Jauh di luar itu, sepakbola dan klub kebanggaan ada di hati masing-masing para pendukung loyalnya.