Dagelan Korban PHK di Suatu Pos Ronda

Lemas rasanya badan untuk beranjak dari kasur bau yang penuh ceplak keringat panas karena kipas cosmos tak lagi memutarkan baling-balingnya sekencang awal. Glukosa dalam darah meningkat dari kadar normalnya, dan presentase kolesterol berada diambang memalukan untuk tubuh seorang muda.

Sementara itu Work-From-Home adalah janji manis di awal yang tidak indah sama sekali ketika memasuki ronde pekan ke-4, yang menyisakan bual, gumam, plus oceh keluh kesah tiada putus setiap kali membuka kolom post sosial media 280 karakter.

Di lantai pos ronda Kami bertemu, Saya, Pemuda 2 dan Pemuda 3. Mengacuhkan himbauan PSBB demi menuntaskan dendam catur sembari meneguk segelas kopi dan berkelukesah. “Lo WFH aja ngeluh, masih mending WFH, gue di PHK kemarin.”, buka pemuda 2 mempersoal posting Saya di ranah maya. Perawakannya masih sama dengan berbalut kaos The Upstairs album Antah Berantah lusuh, seperti pertemuan 3 hari yang silam. Kala itu kami menuntaskan hajat 12 botol anggur di ujung gang dan berakhir dengan tersungkur di atas sarang tikus samping gorong kering. Paginya kami tersadar, pulang ke rumah, mandi dan melanjutkan rutinitas seperti sedia kala, Saya dengan busuk WFH-nya, Dia dengan identitas harian sebagai buruh pabrik shift 1-nya.

Namun hari itu tidak perlu jam kerja penuh bagi si Pemuda 2, sebelum jam makan siang dia dan 133 karyawan lainnya mendapat amplop kuning tanda bahaya yang mengharuskan mereka menghentikan mesin-mesin di depannya, berganti pakaian dan pulang ke kediaman sumpek masing-masing lebih awal. Amplop kuning tersebut berisi surat PHK dan keterangan pembayaran gaji terakhir yang sudah dialamatkan ke rekening masing-masing. Beberapa tersungkur lemas, beberapa lagi beranjak keluar pabrik seraya membakar rokok tanda kebebasannya hari itu, sebagian lain menghela nafas dan ogah mempatri senyum di wajahnya. Tidak ada suka-ria yang biasa terpasang di mimik insan 134 orang ini, pada hari tersebut.

Kembali ke pos ronda, sementara cerita PHK si Pemuda 2 berujung, Pemuda 3 masih diam dengan terlihat sedikit menahan emosi, rokok kreteknya habis dimakan angin hingga berubah menjadi abu panjang di tangan, mirip Hit Magic yang terbakar di pojok pos ronda. Tak lama mulut sinisnya terbuka “Mampus. Biar Lo pada ngerasain jadi pengangguran kayak apa.” lontarnya. Tidak heran dia berkata seperti itu, total 3 tahun sudah dirinya tidak bekerja. Wajar bila emosinya sensitif aja kali pembicaraan karir. Semangatnya tertawan rasa pesimis akibat jenuh menanggung malu sejauh status nganggur yang diembannya bertahun-tahun, dan optimismenya sudah kosong terserap kasur dan jiwa rebahannya. Pandemi atau tidak, masa depannya telah hancur termakan sinis pun sirik sukses para teman-teman sejawatnya. Mungkin hanya kami yang kebas menampung oceh sampahnya dan menyikapi sikap gilanya dengan tertawa. Sementara itu, Pos Ronda sedang steril-sterilnya, karena ketiadaan anggur murahan yang biasa menemani kami di malam-malam melankoli.