Nymphomaniac : Film Pecandu Seks Paling Hiperbola

Nymphomaniac merupakan film yang menceritakan kecenderungan seorang wanita muda yang tidak pernah putus hasrat seksnya. Tiap waktu penyakit birahinya bisa kambuh, dis aat itu pula sang wanita tidak segan-segan memilih secara acak siapa lawan bercintanya. Obsesinya harus tersalurkan tidak peduli penis siapa yang menghajar lubang vaginanya. Kelainan seksual yang diistilahkan sebagai Nymphomaniac, sesuai dengan nama film ini.

Film ini dibuka dengan adegan Joe (Charlotte Gainsbourg) yang terkapar di sebuah lorong becek pun gelap dengan luka di sekujur tubuhnya. Lalu seorang dermawan tua bernama Seligman (Stellan Skarsgård) yang kebetulan lewat dan melihat kondisi Joe pun membopong tubuh lemah Joe ke rumahnya. Setelah diobati dan siuman, Joe memulai cerita janggal hidupnya yang penuh nuansa seks, seks dan seks.

Dari tutur cerita Joe kepada Seligman alur flashback dimunculkan sebagai ilustrasinya. Mulai dari bagaimana pertama kali Joe muda (Stacy Martin) harus kehilangan keperawanannya, pertemuannya dengan tokoh bernama B, kisah cintanya dengan berpuluh pria, dilema hasrat seksnya yang tidak pernah merasa terpuaskan hingga mulai sadarnya Joe jika kelainanya ini merupakan bencana. Joe menuturkan semuanya, begitu juga Seligman yang antusias menyimak cerita Joe dengan sesekali menuangkan curhatannya.

Film besutan sutradara Lars von Tier ini dapat dikatakan cukup vulgar. Berbagai adegan bersetubuh Joe dengan pasangan-pasangannya disajikan secara gamblang. Adegan bercinta ditampilkan terang-terangan tanpa implisit. Film ini total menceritakan kehidupan seorang wanita pecandu seks.

Nymphomaniac memiliki dua Volume. Volume dapat dianggap sebagai perkenalan tokoh Joe. Sedangkan di Volume duanya, Nymphomaniac lebih bertemakan masalah-masalah yang timbul dalam hidup Joe sebagai seorang Nymph.

Sayangnya, film Nymphomaniac ini cukup sulit dipahami. Berbagai hiperbola di dialog tokoh-tokoh dalam film ini lumayan rumit, serta banyak pula bermunculan analogi kompleks yang kurang lazim dipahami sepanjang film ini. Review negatif pun milir mudik menghinggapi film yang dirilis pada 2013 silam ini. Satu-satunya unsur yang menjual dalam film ini tidak lain, tidak bukan, ialah tema seksnya.